Wali Kelas Ela mengundang anda dalam grup ‘Orang Tua Kelas 10-10’.
Tidak pernah ada satupun pikiran dalam hidup Mees kalau dia akan mengalami fase ini. Yaitu; pergi ke sekolah bukan sebagai murid ataupun guru, melainkan sebagai orang tua!
Mees pernah bilang, dia tidak ingin punya anak. Bahkan di usianya yang ke-39—sebentar lagi nyaris menyentuh angka 40—tidak ada yang berhasil membuatnya tertarik dengan urusan wanita dan percintaan. Bukannya dia tidak suka perempuan (beberapa kali bahkan dia melakukan cinta satu malam dengan wanita random yang dia temui di klub malam) tapi tepatnya, cintanya sudah habis pada satu orang di masa lalu yang sudah pergi ke pangkuan Tuhan. Bahkan mungkin sekarang sosoknya sudah bahagia bertemu dengan suaminya.
Baginya, cintanya hanya untuk Naurah seorang.
Ini memang terdengar brengsek, tapi Mees tidak bisa menyalahkan hatinya yang memilih seseorang yang tak terduga dalam hidupnya. Selama wanita itu tidak tahu dan tidak merasa risih, selama Mees melihatnya hidup bahagia dengan nyaman, itu sudah lebih dari cukup.
Jujur, akhir-akhir ini Mees kembali merindukannya. Dia rindu senyum wanita itu yang sering dia lihat dari kejauhan. Sialnya, senyuman itu kini diwariskan pada putrinya.
Seorang gadis kecil yang membuatnya tanpa berpikir panjang langsung mengadopsinya, memberikan nama belakangnya, dan menyediakan segala kebutuhannya. Mees berjanji akan melindunginya, memberikan kasih sayang yang tidak pernah gadis itu dapat secara utuh dari kedua orang tuanya.
Sekarang, gadis itu adalah Arabella Charvi Leander. Nama pemberiannya, bahkan tertera jelas ada nama belakangnya di sana. Semua orang akan tahu kalau gadis itu sekarang adalah anaknya. Tidak ada yang bisa macam-macam dengannya, meskipun itu keluarga Sembilan Naga sekalipun.
Mees memang benci anak kecil, dia tidak ingin punya anak, bahkan menikah sekalipun tidak ada di pikirannya. Tapi khusus untuk gadis itu, dia akan menyampingkan seluruh egonya. Mees mencintai anak itu. Mees menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.
“Gimana tadi, di sekolah?”
Ini pukul 7 malam. Waktunya mereka makan malam. Mees bukan tipikal orang yang suka masak, walau sebenarnya dia lebih dari bisa untuk melakukannya, namun pria itu lebih memilih untuk mengajak Kareela makan di restoran Ikea setelah mereka membeli meja belajar dan rak buku untuk kamar gadis itu.
Satu hal yang Mees tahu, Kareela anak yang cerdas. Dia suka mempelajari hal baru, itu sebabnya Mees memberikan fasilitas buku bacaan yang banyak, karena gadis itu memang suka membaca.
“Lancar, kok.” Kareela menjawab, memasukkan potongan meatball tersebut ke dalam mulutnya.
“Temen sebangku kamu itu siapa namanya?” tanyanya.
“Sania. Sania Lazuli.”
“Tinggal di mana dia?”
“Di Bogor Baru.”
“Tadi bekelnya habis, gak?”
Kareela terdiam. Menatap Mees yang sibuk memotong daging panggang yang ada di piringnya. Satu hal yang masih sulit baginya untuk beradaptasi adalah; kehadiran Mees yang nyaris selalu ada setiap hari. Mereka selalu sarapan bersama, makan siang dan makan malam pun juga bersama. Ke manapun Kareela butuh pergi ke suatu tempat—contohnya rumah sakit, untuk check up luka jahit di kakinya—pria itu selalu menemaninya, di saat mungkin bisa saja dia menyuruh anak buahnya melakukan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
General Fiction[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
