Shayne tidak berani membuka mata. Dia tahu, ketika kesadaran ini berangsur pulih, dia akan dihadapkan oleh kenyataan kalau semuanya benar-benar kacau. Shayne tidak berani membuka mata. Dia takut untuk menerima kenyataan bahwa perjuangannya tidak akan pernah terasa cukup untuk membuat orang yang dia sayangi hidup aman. Shayne takut untuk bangun.
“Shayne.”
Samar-samar terdengar suara yang merangsek masuk di telinganya. Perlahan namun pasti, dia membuka mata, mendapati wajah seorang wanita yang menatapnya dengan tatapan teduhnya.
Nyaris Shayne tersentak. Menepis tangan wanita itu yang hendak menyentuh wajahnya. Namun pupilnya mengecil saat tangan halus tersebut terasa begitu nyata di kulitnya.
“Shayne, ini aku.”
Pria itu terdiam, terpaku menatap wanita di hadapannya ini yang mengenakan gaun putih-amat kontras dengan rambut hitam panjangnya. Dengan gerakan yang patah-patah, pria itu menggeleng, mencoba untuk meyakinkan dirinya jika ini tidak nyata. Ini terlalu abu-abu untuk dikatakan kenyataan.
“Tidak mungkin ... Kau tidak mungkin! Kau—” Tenggorokan Shayne terasa tercekat. Air matanya lolos begitu saja, dilanjut dengan suara isakan yang tersendat-sendat. “Mina ...”
Di hadapannya Mina terduduk. Salah satu tangannya kembali menyentuh wajah pria yang tengah menangis sedu sedan itu. Tangan satunya lagi mencoba untuk meraih tangan kanannya, memberikan gelombang kekuatan bagi pria itu untuk tenang.
“Ini aku.” Suaranya begitu merdu, begitu indah di telinga Shayne yang nyaris menderita oleh rasa rindu yang mencekik.
“Tidak mungkin. Istriku sudah mati 5 tahun yang lalu ... Ini tidak mungkin!” Shayne berusaha untuk denial. Pria itu tahu ini hanya bunga tidurnya semata akibat frustasi akan kenyataan hidupnya yang begitu perih. Namun melihat wajah di hadapannya ini yang tersenyum, rasanya Shayne tidak ingin bangun untuk selama-lamanya.
“Kamu tahu, meskipun aku sudah tidak ada di dunia ini, aku selalu bersamamu.”
Sedetik setelah Mina mengatakan hal tersebut, tangis Shayne semakin pecah. Tubuh pria itu merosot, bersujud seraya menggenggam erat tangan wanita itu. Sekelebat, bayangan Kareela muncul. Beserta kejadian di mana terakhir kali gadis itu dibawa oleh seseorang dan Shayne tidak berdaya di tempat.
Dia benar-benar sudah mengacaukan segalanya.
“Ada apa?” Mina mengusap kepalanya.
“A—aku ... Aku mengacaukan semuanya.”
Wanita itu tersenyum. Menarik wajah Shayne untuk kembali duduk menghadapnya. Tangan lentik itu mengusap air mata yang membasahi pipi pria itu. “Kamu sudah melakukan yang terbaik. Kenapa harus sedih?”
Shayne kembali terisak. Terkadang jika di hadapan Mina, dia akui, dia begitu rapuh dan hancur. “Aku tidak bisa menyelamatkanmu ... Aku bahkan tidak bisa menyelamatkan Kareela.”
“Masih banyak kesempatan yang ada, Shayne. Ini bukan akhir dari segalanya.”
“...”
“Bertahan sebentar lagi.” Mina mendekat, mengecup kening pria itu. “Bangkitlah lebih kuat. Aku tahu kamu bisa.”
Shayne menggeleng. “Aku butuh kamu, Mina. Semuanya berantakan saat gak ada kam—”
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
General Fiction[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
