7 menit berlalu dengan penuh tegang. Max berjalan di tengah keramaian orang-orang, membuntuti seorang pria berkepala plontos yang berjalan 10 meter di depan. Sebisa mungkin dia menjaga jarak dengan baik. Tidak jauh dan juga tidak terlalu dekat. Bahkan Max sedikit kesulitan saat dirinya harus berdesak-desakan atau terkadang keberadaan si Botak itu sempat hilang dari pandangannya.
“Max, lapor kondisi!” Suara Shiloh memecah keheningan di kepalanya. Temannya itu sepertinya sudah keluar dari kedai laksa. Entah hendak menyusul Max, atau mungkin menyusul Juna yang katanya masih membuntuti target ke daerah Otista.
“Sejauh ini belom ada pergerakan yang mencurigakan, sih. Dia cuma beli jeruk sama es dawet!” jawab Max. “Gue harus ngapain, nih?”
“Gue penasaran sama isi kotaknya. Lu bisa lakukan sesuatu?” tanyanya.
Max terdiam. Tapi kakinya terus berjalan membuntuti pria berkepala plontos tersebut. Hingga tak lama, pria itu tiba-tiba berbelok ke arah gang kecil. Bersamaan dengan itu pula, muncul ide cemerlang di kepala Max. “Oke, tunggu sebentar.”
Pemuda itu memacu kakinya, berbelok ke gang terdekat. Detik per detik langkahnya semakin cepat, alih-alih berlari dengan deru napas yang memburu karena tegang bercampur waspada. Tepat saat dirinya keluar dari mulut gang yang mengarah ke gang lainnya, tubuhnya dengan sengaja dia tabrakan pada tubuh seorang pria yang sedang berjalan. Max berseru panik, mendorong tubuh pria berkepala plontos tersebut hingga terjatuh ke tanah sembari terus menarik-narik kerah kemejanya.
Ditengah aksi abusive-nya tersebut, dia berkata; “BOTAK BIADAP! BOTAK BIADAP! LU UDAH ANCURIN HIDUP GUE! LU TIPU GUE ABIS-ABISAN! GUE JADI GEMBEL SEKARANG, BOTAAAAAKK!” sembari memukul dan menarik tubuh dan pakaiannya.
Pria itu jelas terlihat panik. Bahkan beberapa kali berusaha melawan dan berteriak meminta tolong. Beruntung ada beberapa orang dari depan gang yang menyadari keributan tersebut, kemudiannya cepat-cepat menghampiri mereka untuk melerai.
“DASAR ORANG GILA!!” maki si Botak kepada Max. Dia bersungut-sungut kesal, sembari membetulkan kacamata hitam yang lensanya copot karena ulah Max barusan. Es dawet yang baru saja dia beli tumpah tak bersisa, bahkan jeruk-jeruk yang dia beli berserakan ke mana-mana.
Max sendiri sudah diamankan oleh salah satu orang. Membawanya keluar gang dan membiarkannya duduk di pinggir toko untuk menenangkan diri.
“Kenapa itu, Mang?” salah seorang ibu-ibu pembeli di toko.
“Abis nyerang orang tadi, Bu. Kayaknya orang stress.”
“Astagfirullah, kasian banget. Mana keliatannya masih muda lagi!”
Bagus, Max! Saking totalitasnya, sampai orang-orang percaya kalau lu beneran orang stress!
Max mendengkus, kemudian berdiri membetulkan pakaiannya sejenak. Aksinya barusan membuat orang yang menariknya keluar gang barusan menoleh.
“Mau ke mana kamu?” tanyanya.
“Mau makan sop naga!” jawab Max asal, lalu cabut begitu saja dari sana. Kembali melebur di keramaian Suryakencana yang mulai semakin ramai.
Max masuk ke salah satu supermarket. Mencari toilet umum dan mengunci pintunya. Setelah itu dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak hitam yang berhasil dia ambil dari pria botak barusan. Iya! Keahlian sekaligus keburukan Max adalah, dia adalah si tangan panjang—alias tukang mencuri. Waktu sebelum bergabung ke STIN, dia suka nyopet di kereta, pasar, bahkan angkot.
Tapi sayangnya itu dulu. Sekarang dia sudah tobat. Tapi jujur, Max tidak menyangka keahlian sekaligus keburukannya ini akan berguna.
“Tes, tes! Halo, Max! Gimana?” Suara Shiloh kembali terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
General Fiction[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
