“Ada gerangan apa, rakyat jelata seperti kalian ingin menemui saya?”
Mendadak, Kareela merasa bulu kuduknya berdiri. Kedatangan pria itu membuat nyali gadis itu yang sebelumnya agak menciut semakin menciut. Belum lagi tatapan tajamnya langsung tertuju padanya, seakan-akan ada belati tajam di iris matanya yang siap kapan saja menghunus dadanya.
Shayne yang paham respon putrinya, lantas memasang badan, menarik gadis itu untuk berlindung di belakangnya. Tangan kekarnya menggenggam erat tangan Kareela, menyalurkan sugesti agar anak itu bisa sedikit tenang.
“Perkenalkan, saya—”
“Shayne Ellias Pattynaya. Suami dari Mina Humairah.” Pria itu menghentakkan tongkat hitam yang dia bawa tepat saat kakinya menyentuh lantai marmer rumah besar tersebut. “Atau sebut saja, Naurah Al-Haddad,” lanjutnya. Mata tajamnya menoleh ke arah Kareela.
Gadis itu tersentak. Refleks meremas tangan ayahnya karena ketakutan. Shayne meneguk ludahnya, namun tekadnya tidak gentar, meski itu harus menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang pria. Apapun itu, dia rela melakukannya untuk putrinya.
“Saya tahu, saya tidak berhak untuk mengatakan ini ...” Shayne kembali meneguk ludahnya. “Tapi Kareela butuh bantuan anda.”
Pria itu menaikkan salah satu alisnya. Dia kembali menatap Kareela, dan senyum tipis tertarik di sudut bibirnya. Matanya menatap mereka dengan lebih remeh. “Gadis yang ada di belakang kamu itu?” tanyanya.
“...”
“Menyedihkan. Sayang sekali darah Haddad harus dinodai oleh bajingan seperti kamu!” Datuk Syamsiar terang-terangan mengatai mereka. “Kau datang kepadaku setelah 5 tahun kematian istrimu. Biar saya tanya, menurut kamu, di mana sopan santunnya, heh?” lanjutnya.
Shayne mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
“Jangan mengira karena Naurah memiliki anak denganmu, maka saya akan mengakui anaknya!” ucap Datuk Syamsiar tegas. “Berani sekali kau datang dengan anak haram sepertinya!”
Deg.
Kareela terenyuh mendengar kalimat itu. Kalimat dari seorang yang dia harap akan menerimanya selain Ayah dan Ibunya. Rupanya, pria yang dia tebak adalah kakeknya memiliki pandangan yang sama dengan orang-orang kebanyakan. Kareela menunduk, bibirnya tiba-tiba berkedut bersamaan dengan matanya yang mendadak terasa panas.
Darah Shayne berdesir, “Tarik ucapan anda barusan!”
Datuk Syamsiar terkekeh sarkas. “Untuk apa? Kau berpikir aku akan menampung anak bajingan sepertinya?”
“SAYA BILANG TARIK UCAPAN ANDA!” Persetan dengan harga diri. Pria di hadapannya ini sudah menghina putrinya. Meskipun Shayne sering mendengar laporan banyak orang yang menghina Kareela, namun saat mendengarnya langsung, darah Shayne terasa seperti terbakar. Ego dan emosi yang sudah dia tahan-tahan, harus lepas detik itu juga.
Pria itu kembali terkekeh. “Pergilah. Anak itu tidak diinginkan di sini atau di manapun.”
Shayne detik itu juga ingin menghajar pria tersebut, namun Kareela langsung menahannya dengan kembali menggenggam tangannya erat bersamaan dengan dirinya yang menahan bagian belakang jaket ayahnya. Seketika Shayne mengurungkan niatnya, dia memilih untuk berbalik, menarik Kareela ke dalam pelukannya.
Dua penjaga tak lama datang, menarik mereka untuk keluar. Namun Shayne langsung menepis. Mereka bisa jalan dan pergi sendiri.
“Matilah dalam pelarian. Sedikitpun aku tidak akan membantu!” ucap Datuk Syamsiar sekali lagi.
Sayangnya hal tersebut tidak digubris oleh Shayne. Pria itu sibuk berjalan sembari masih mendekap Kareela di dadanya. Tangan kekarnya merengkuh tubuh mungil tersebut, yang tak lama terdengar suara isakan tangis dari bibirnya. Shayne tahu, kalimat Datuk Syamsiar pasti melukai hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
Aksi[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
