Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

28 | A Letter From Him

211 29 4
                                        

Mees rupanya orang yang cukup bertanggung jawab. Dia juga cukup peka kalau sesuatu ada yang tidak beres dengan Kareela karena perkataannya barusan. Itu sebabnya dia effort naik motor dan berkendara sejauh 7 km ke daerah jalan Pandu Raya untuk 4 porsi baso aci. Gadis itu cerita kalau seminggu yang lalu diajak teman sebangkunya, Sania, makan di sana sepulang dari praktek berenang. Katanya sih, enak. Kalau Mees sendiri sih, dia belum pernah nyoba makanan-makanan anak-anak jaman sekarang.

Dikarenakan baso aci itu terbilang masih baru banget buka, belum ada gerainya di aplikasi order makanan apapun. Makanya Mees naik motor ke sana.

Dengan mengendarai motor super ngebut (tentu saja), Mees hanya butuh waktu 30 menit bulak balik. Tapi dibandingkan itu semua, dia dibuat mengernyit keheranan saat melihat banyak mobil polisi serta ambulan di kawasan gedung tower apartemennya. Mees yang mau masuk ke area basemen saja sampai ditahan sementara.

Iseng, dia buka kaca helm-nya dan bertanya ke satpam yang ada di dekatnya.

“Kenapa nih, Pak Samsul?” tanyanya, yang memang sudah akrab dengan salah satu petugas keamanan di sana.

“Anu Pak, ada orang yang lompat dari atas!”

“Hah?”

“Iya, Pak. Cewek. Mana masih muda. Katanya sih, masih SMA!”

Cewek? Masih muda? Masih SMA?

Mees seketika pucat pasi. “Lo—lompat dari lantai berapa, Pak?!”

“Waduh, kurang tahu deh kalau itu mah, Pak. Tapi kayaknya sih antara lantai 14-15!”

Mau tahu gimana respon Mees?

Dia langsung meninggalkan motornya di tempat. Alih-alih berlari dengan kencang menghampiri kerumunan polisi. Namun sialnya, dia ditahan untuk tidak mendekat ke arah korban yang sudah ditutupi oleh kantung mayat. Pria itu memberontak, berteriak memanggil Kareela dengan dramatis. Bahkan tanpa dia sadari, dia sampai menitikkan air mata.

“LEPASIN SAYA—ELA!!! ELA JANGAN TINGGALIN OM, ELA!! ELAAA!!”

Dia berteriak terus seperti itu, sampai ditenangkan oleh salah satu anggota polisi, hingga tiba-tiba suara seseorang membuyarkan fokusnya.

“Om Mandra!”

Kepala Mees maupun polisi itu menoleh. Mees yang sudah terduduk di paving blok, dengan air mata yang mengucur deras langsung terdiam. Tangisnya tiba-tiba terhenti, menarik ingus dan mengusap air matanya kasar saat melihat sosok Kareela di depannya.

Benar. Itu Kareela. Gadis itu mengenakan piyama merah muda dengan rambut yang digulung oleh handuk. Di tangannya ada kotak paket yang sepertinya gadis itu membeli sesuatu di toko online.

“E—Ela?”

Kareela mengernyit, berjalan mendekat. “Om Mandra kenapa? Ngapain di situ?”

Merasa kalau dugaannya salah, Mees sebisa mungkin untuk mengatur ekspresinya kembali normal. Dia menepis tangan si polisi dan kembali berdiri, menepuk-nepuk celana dan jaketnya.

“Enggak ngapa-ngapain! Cuma lihat-lihat doang!” katanya, gengsi memperlihatkan kalau barusan dia menangis frustasi karena mengira yang melompat dari lantai 15 itu adalah dirinya.

Kareela mengernyit. Merasa ada yang aneh, tapi karena tidak mau ambil pusing, akhirnya dia iyakan saja.

Kini Mees tiba-tiba merasa penasaran. “Terus kamu ngapain ada di sini?” tanyanya. Mengalihkan pembicaraan agar gadis itu tidak curiga.

“Ini, ngambil paket. Tukang paketnya masih baru. Dia nggak ngerti daerah sini katanya. Makanya aku inisiatif ke bawah—eh, ini ada apa sih, Om?” Kareela menjawabnya dengan santai. Melupakan jika hubungan mereka sedang sedikit tidak baik-baik saja sejak setengah jam yang lalu.

Dum Spiro, SperoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang