Nivartana. Kubah para pendosa. Diambil dari kata menghindar dalam bahasa Sansekerta. Suatu tempat yang dikonotasikan sebagai wilayah tanpa hukum yang sebisa mungkin untuk dihindari oleh orang awam. Tempat itu berada di Zona Merah. Sedikit kompleks dibandingkan dengan definisi Zona Netral pada umumnya. Sebab tidak sembarang orang bisa masuk, dan tidak selamanya orang yang masuk akan kembali keluar dengan mudah jika tidak memiliki kuasa tertentu.
Shayne pernah mengunjungi Nivartana saat masih menyamar sebagai orang-orang Solomon. Dia datang ke sana untuk transaksi informasi berharga yang hanya diketahui oleh para elite global. Sebab pada dasarnya, Nivartana adalah satu dari sekian tempat kumpul para penguasa dunia. Bukan lagi hanya keluarga 9 Naga saja, tapi para penggerak dunia bayangan di seluruh dunia pun juga bergabung dalam kubah Nivartana.
Bagi Shayne Nivartana adalah tempat terakhir yang akan dia datangi selain neraka. Pria itu tahu betul bagaimana reputasi tempat tersebut. Di sana hanya ada dua golongan; orang-orang miskin yang lemah dan tak berdaya, atau orang-orang gila yang tamak bergelimang harta. Shayne bahkan masih ingat momen terakhir kali dia mendatangi tempat jahanam tersebut. Orang-orang miskin dikuliti hidup-hidup, teriakan kesakitan terdengar di mana-mana. Bayi-bayi yang tidak bersalah dipotong-potong sedemikian rupa dan dihidangkan sebagai sup di menu utama makan malam para elite global.
Pria itu bahkan masih ingat bagaimana dirinya muntah setelah makan potongan otak di sup yang dihidangkan untuknya, di saat orang-orang di sekitarnya justru malah tertawa dan menikmati semuanya sembari membicarakan tentang bisnis dan relasi.
Nivartana adalah bukti dari secuil kegilaan orang-orang yang dilaknat oleh Tuhan. Sialnya, Shayne tidak punya pilihan selain datang untuk menyelamatkan Kareela yang feeling-nya mengatakan gadis itu ada di sana. Persetan pria itu akan berakhir hidup atau mati nantinya. Putrinya diculik. Tidak ada jaminan apakah gadis itu akan diperlakukan baik atau tidak oleh Dante.
Dalam perjalanan menuju pulau Batam, dirinya tidak berhenti berdoa untuk keselamatan gadis itu. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, Shayne bersumpah dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Mina akan sangat kecewa padanya. Bahkan Tuhan yang sudah mengutuknya, akan semakin mengutuknya.
Bapak Iskandar—mantan bodyguard Mina sekaligus orang yang menyelamatkannya—hanya mengantarnya sampai ke pelabuhan Dumai. Shayne pun sampai di Batam di sekitar pukul 7 malam. Pria itu bahkan menyempatkan diri untuk membajak salah satu mobil pick up di kapal Ferry, sehingga ketika sampai di pelabuhan Sekupang, tanpa berpikir panjang Shayne langsung tancap gas menuju pusat kota Batam. Tepatnya ke suatu tempat seperti restoran megah dengan bangunan ala kerajaan Hindu yang memiliki gerbang super tinggi serta keamanan yang tak kalah ketat.
Shayne memberikan kartu member Nivartana miliknya. Kartu itu memang sudah usang, tapi kartu itu akan terus berlaku sampai seumur hidup. Para penjaga di pintu gerbang pun tanpa ragu langsung membukakan pintu lebar-lebar, memberikan akses dan membiarkannya masuk.
Nyaris 20 tahun telah berlalu, tapi mereka tetap mempertahankan bentuk bangunan tersebut. Tidak banyak yang berubah. Semuanya masih sama. Bahkan ketika Shayne menginjakkan kakinya di lantai utama aroma kayu cendana langsung menusuk indra penciumannya.
Di dalam cukup ramai, ada sekitar 40 orang, menyebar dalam area ballroom tersebut. Membuat beberapa kelompok, bertegur sapa, melempar canda tawa dengan tangan yang masing-masing memegang gelas sampanye.
Ini masih jam 8 malam. Acara inti yang digelar Nivartana biasanya akan dimulai pukul 9. Shayne masih punya waktu satu jam untuk bisa mencari Kareela dan membawanya keluar dari tempat ini. Bagaimanapun caranya.
“Shayne Pattynaya.”
Langkah Shayne terhenti ketika terdapat 2 orang pria bertubuh besar menghalangi jalannya. Mereka mengenakan jas hitam, dengan sepatu yang mengkilap. Berbeda sekalih dengannya yang hanya memakai blue jeans, kaus hitam serta jaket kulit, bahkan sepatu kets-nya sudah kusam dan mulai berdebu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
General Fiction[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
