“Ayah orangnya kayak gimana sih, Bu?”
Itu adalah pertanyaan yang masih Kareela ingat, pernah dia tanyakan sekitar 3 hari sebelum kejadian kecelakaan yang terjadi oleh Ibu. Saat itu Ibu sedang menyetrika, wajahnya sedikit pucat karena sedang demam. Kareela yang saat itu masih 10 tahun mencoba untuk membantu banyak hal. Entah itu mencuci piring, menyapu, ngepel, ataupun menjemur. Untuk pekerjaan seperti menyetrika dan mencuci baju, wanita itu tidak memperbolehkannya.
“Tumben kamu nanya begitu.”
Kareela mengucek hidungnya. Dia juga sedang sakit, flu, sejak seminggu yang lalu. “Cuma mau nanya aja.”
“Bukan karena kamu diledek sama temen-temen kamu, kan?” tanya Ibu.
Hal tersebut membuat Kareela terdiam. Meski posisi Mina memunggunginya, entah kenapa gadis itu membuang muka. “Bukan, kok.”
Mina tersenyum tipis. “Ayah kamu orang yang baik.”
“...”
“Terlepas dari apa yang orang-orang omongin, Ayah kamu orang yang baik.” Mina menekuk lipatan terakhir celana training olahraga milik putrinya. Lalu menaruhnya di bakul yang berisi tumpukan baju yang sudah disetrika. “Dia juga orang yang pekerja keras. Rela berkorban banyak untuk orang-orang yang dia sayangi.”
Kareela memutar bola matanya jengah. Dia tidak berniat untuk membalas ucapan ibunya dengan bertanya kembali, ‘apa pekerjaan Ayah? Kenapa dia tidak pulang-pulang?’, sebab gadis itu sudah bosan mendengar jawaban template tersebut dari ibunya.
“Memangnya ... Apa yang Ayah korbankan?” tanya Kareela.
“Waktu.” Mina menyemprotkan pewangi pakaian pada seragam batik sekolah milik Kareela sejenak. “Nanti kalau kamu udah gede, kamu bakal paham. Waktu adalah segalanya di dunia ini.”
“Bukannya uang adalah segalanya di dunia ini?”
“Tanpa waktu, uang juga tidak akan bisa dihasilkan, Kareela.”
Kareela terdiam. Sekarang dia bosan dengan percakapan ini. Dia tidak mau mendengar lagi ucapan-ucapan baik dari ibunya tentang Ayah, walau sebenarnya dia duluan yang memulai. Entah kenapa, Kareela merasa itu tidak benar.
“Kamu mau ke mana?” tanya Mina saat mendengar langkah kaki Kareela yang beranjak dari sofa.
“Mandi, aku mau ngaji.”
Mina seketika menoleh ke jam dinding. “Masih jam 4, Ela. Bu hajinya juga belum siap-siap!”
“Aku mau jajan dulu di Abang Bidin!”
Wanita itu menaruh setrikaannya sejenak, berdiri dan mengekor putrinya ke kamarnya yang ada di lantai atas untuk menyiapkan pakaiannya. “Jangan jajan yang aneh-aneh dulu, lah! Kamu masih pilek, loh!”
“Jajan roti bakar doang, kok!” Kareela mengambil handuk dan melepas seluruh pakaiannya. Mina menahannya sejenak untuk membetulkan kunciran rambutnya yang sedikit kendur, takut rambutnya ikut basah saat mandi nanti.
“Enakan juga roti bakar buatan Ibu!” komen Mina, padahal kalau Kareela minta, wanita itu bisa bikinkan dia roti bakar dengan selai Nutella sekaligus. “Awas kalau kamu jajan es-es begituan!”
“Enggak, kok!”
Dan tanpa pernah Kareela sangka, itu adalah pesan terakhir Ibu sebelum wanita itu pergi untuk selama-lamanya.
* * *
Paket akan selesai dalam waktu 5 hari ke depan. Paket yang dimaksud adalah dokumen-dokumen baru seperti; akte, kartu identitas, paspor dan lain-lain untuk mereka. Rencana yang Shayne sudah pikirkan selama 5 tahun yang lalu adalah, mereka akan membuat identitas baru, dengan menjadi warga negara Singapura melalui dokumen aspal buatan Neoptolemus untuk pergi ke Montenegro.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
Action[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
