15 | The Nine Dragons

215 32 8
                                        

Sejak aksi kejar-kejaran tersebut, Kareela memutuskan untuk tidak tidur. Dia pun tidak pindah ke kursi belakang dan tetap duduk di samping kemudi, menemani ayahnya yang masih fokus menyetir. Dari plang jalan yang dia lihat beberapa kali, mereka sampai di perbatasan provinsi lebih cepat. Bukannya segera mencari penginapan, ayahnya justru terus melaju hingga sampai ke kawasan Batu Sangkar. Sebenarnya Kareela sedikit khawatir mengingat Ayahnya belum tidur sejak kemarin. Jika saja Kareela bisa naik mobil, dia sudah menawari pria itu untuk gantian.

Tepat di pukul 12 siang, rupanya Shayne benar-benar sudah tidak sanggup lagi, matanya benar-benar terasa berat, tubuhnya lelah. Jika dia terus memaksakan berkendara, mereka bisa celaka. Alhasil, pria itu melipir ke pusat kota, mencari penginapan terdekat. Untungnya tidak susah mendapatkannya. Pria itu tanpa banyak cincong memesan kamar dan merebahkan tubuhnya. Sebelum benar-benar terlelap, dia menyuruh Kareela untuk istirahat juga.

“Ayah tidur dulu ya. Kamu juga istirahat. Nanti malem kita cari makan di luar.”

Setelah itu, tanpa menunggu respon dari Kareela, pria itu sudah lebih dulu terlelap. Suara dengkurannya cukup keras, begitu pula dengan raut wajahnya yang terlihat benar-benar kelelahan. Entah ini aneh atau tidak, tapi gadis itu sedikit merasa kasihan, terlebih saat dirinya melihat ke arah jemari pria itu yang memar akibat pertarungannya dengan banyak orang belakangan ini.

Kareela menghela napas panjang, memilih untuk melepas tas serta jaketnya dan ikut merebahkan dirinya di kasur sebelah. Dia juga belum tidur, 24 jam terakhir baginya itu melelahkan. Entah apa yang akan mereka alami lagi nanti. Walau ayahnya bilang daerah Bukittinggi adalah tempat yang aman, tapi kenapa firasatnya tidak mengatakan demikian?

Solomon?

Siapa sebenarnya mereka? Apakah sejenis kelompok mafia yang punya banyak anak buah di seluruh Indonesia?

Ah sial, memikirkan itu sebentar saja dia malah dibuat pusing. Lebih baik Kareela tidur saja deh.

7 jam kemudian.

Shayne yang pertama kali terbangun karena mendengar suara tarhim dari mesjid sekitar. Sejenak dia melakukan perenggangan otot, sebelum akhirnya bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Kamar hotel begitu gelap, cahaya senja di jendela masuk melalui celah ventilasi. Dilihat di ranjang sebelah, Kareela masih tertidur. Dengkurannya halus, rambutnya tersebar berantakan di bantal bersamaan dengan selimutnya yang sudah tidak ada bentuknya. Senyum kecil tertarik di sudut bibir pria itu.

Gadis itu mengingatkannya dengan kebiasaan tidur Mina.

Shayne bangkit dari duduknya. Menyalakan saklar lampu, dan mendekat ke ranjang putrinya. Mengelus kepalanya dan dengan pelan mencuri kecupan kecil di dahi.

“Kareela,” panggilnya lembut, mengusap kepalanya. “Kareela, bangun. Udah mau magrib.”

Kareela menggeliat, membuka matanya perlahan dan menatap ayahnya dengan tatapan kosong, nyawanya belum terkumpul. “Ayah? Kok tumben Ayah pulang?” ucapnya mengigau. Sepertinya otaknya belum sadar jika dia tidak sedang berada di rumah.

“...”

“Eh?!” Menyadari sesuatu, gadis itu langsung terbelalak dan bangkit duduk detik itu juga, yang langsung mendapatkan respon kepalanya yang pusing. “Sshh—Jam berapa sekarang, Yah?”

“Setengah enam. Mandi sana, kita cari makan kalau udah selesai magrib.”

Kareela mengucek matanya, menatap pria itu yang kini penampilannya sudah begitu segar dibandingkan sebelumnya. “O—okay.”

* * *

Ternyata seperti ini ya rasanya?

Terhitung sudah lama sekali Shayne tidak pergi jalan-jalan menikmati waktu bersama keluarga. Terakhir kali dia melakukan itu belasan tahun yang lalu, saat mereka bertiga masih hidup tenang di Sampit, Kalimantan Tengah. Bahkan saat Shayne ambil cuti beberapa bulan, dia akan menghabiskan waktu sore bersama Kareela yang saat itu jalannya belum terlalu lancar. Lalu pulang disambut oleh istrinya yang telah menyiapkan makan malam terenak sepanjang masa.

Dum Spiro, SperoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang