Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

24 | Untold Feelings

230 23 11
                                        

“Ayah sayang banget sama kamu.”

Kareela benci ini. Sumpah demi Tuhan, dia benci ini. Meskipun berbeda, tapi ini rasanya sama persis seperti saat dia mendengar berita dari wali kelasnya kalau ibunya sudah tiada. Gadis itu merasa seperti déjà vu. Bukan sejenis hal yang menyenangkan, namun kali ini lebih buruk. Kareela lagi-lagi memberontak ketika Om Mandra menariknya dari dekapan Ayah. Walau dia tahu tenaganya sudah habis, dia tetap enggan melepas pelukannya.

“Kareela, kita harus pergi dari sini!” kata Mees.

Shayne bahkan membatu pria itu dengan melepaskan tangan putrinya itu dari tubuhnya. Gadis itu berteriak, walau suaranya terdengar parau, dia paksakan untuk terus berteriak memanggil ayahnya. Tubuhnya meronta-ronta tidak ingin pisah darinya. Rasanya sakit. Sakit sekali. Seperti ada sesuatu yang dicabut paksa dari dadanya ketika pegangan tangannya terlepas dari pria itu. Tubuhnya diangkat dan dibawa pergi meninggalkan ayahnya. 

“AYAAAH!!!”

Jangan! Tolong. Aku gak mau begini lagi.

Shayne memejamkan matanya, berbalik badan karena tidak tega melihat putrinya yang menangis dan berteriak tak berdaya. Dirinya tak lama menatap para tukang pukul yang semakin dekat ke arahnya. Suara teriakan Kareela masih terdengar walau lama-lama semakin samar karena Mees dan orang-orangnya sudah lebih dulu cepat pergi meninggalkannya.

Para tukang pukul tersebut dengan cepat langsung meringkus tubuh Shayne, menendang belakang lututnya agar mudah terjatuh di lantai. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengambil alih tubuhnya. Shayne tahu cepat atau lambat momen ini akan datang. Walau dia terus berharap dan berusaha untuk terus menghindar demi keluarga kecilnya.

Tapi pria itu bisa apa? Setelah ini, apapun yang terjadi, maka terjadilah.

Tuhan ... Aku tahu waktuku tidak lama lagi. Jika aku boleh meminta untuk yang terakhir kalinya ... Bolehkah aku bertemu dengan Mina sekali saja? Walau aku tahu, aku berbeda dengannya.

*

“AYAAAH!!”

Entah sudah berapa kali Kareela berteriak. Sekujur tubuhnya terasa sakit akibat terus memberontak. Gadis itu memukul-mukul, menendang-nendang ke segala arah ketika tubuhnya diangkat.

“AKU MAU AYAH!!”

Sudah berapa kali pula dia meraung ingin kembali ke pelukan ayahnya sampai akhirnya suaranya tidak lagi keluar, bersamaan dengan mereka yang akhirnya berhasil menemukan pintu karyawan yang menuju ke arah dapur.

Tidak bisa lagi memberontak dan berteriak karena tenaganya yang berangsur-angsur habis, Kareela akhirnya hanya bisa menangis di dada Mees yang masih setia menggendong tubuhnya.

Tak lama kemudian, mereka akhirnya benar-benar keluar dari bangunan tersebut. 5 mobil Van hitam muncul berderet di depan pintu karyawan. Para tukang pukul Neoptolemus dengan cepat masuk ke dalam mobil, termasuk Mees dan Kareela. Pria itu membaringkan tubuh gadis itu di lantai mobil. Melepas rompi anti peluru yang gadis itu kenakan, sebelum akhirnya menarik tas berisi peralatan medis darurat.

Mees menyuruh Justin untuk membuka lilitan kain yang ada di betis Kareela, selagi dirinya menumpahkan cairan antiseptik di tangannya dan mengenakan sarung tangan latex. Luka tembak di kaki gadis itu harus segera ditindaklanjuti. Kulit dan bibirnya sudah mulai pucat, bahkan Mees yakin darahnya sudah banyak yang terbuang. Jika tidak segera diatasi secepatnya, bisa-bisa gadis itu mengalami syok atau kejang-kejang. Buruknya, bisa saja nyawanya lewat begitu saja.

Dum Spiro, SperoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang