[BUKU KE-1]
Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh.
Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
22 tahun yang lalu.
Februari, 2002.
Percaya atau tidak, Max masih tidak menyangka akan berakhir di tempat seperti ini. Dia masih ingat bagaimana dirinya menolak tawaran dari seseorang untuk melanjutkan studi di salah satu sekolah kedinasan yang ada di Babakan Madang, Bogor Utara. Kebetulan Max itu orang Bogor—dari daerah Ciawi sampai Parung, dari Leuwiliang sampai Cibinong—dia tahu betul semua tempat yang ada di kota kelahirannya tersebut. Namun dia justru baru dengar jika ada sekolah kedinasan yang khusus mendidik tenaga intelijen negara di sana. Tapi dibandingkan itu semua, memangnya ada sekolah seperti itu? Di saat menurut pemahaman awannya mengira, jika anggota Badan Intelijen Negara itu berasal dari gabungan orang-orang TNI dan Polri.
Maka dari itu dia menolaknya. Itu pasti penipuan semata. Jika Max mengiyakan tanpa berpikir panjang, bisa-bisa organ tubuhnya dijual di pasar gelap!
Tapi 4 bulan yang lalu, semua tiba-tiba berubah. Siapa yang tahu takdir seseorang? Kala Max justru harus menerima kenyataan jika Bunda meninggal dunia akibat kanker yang menggerogoti tubuhnya sejak lama. Bunda meninggal, Papa juga sudah lama meninggal saat Max masih kecil. Dia seorang diri sekarang, dia tidak punya tujuan. Max juga tidak yakin apakah dia bisa melanjutkan hidupnya setelah ini atau tidak?
Bahkan saat dirinya nyaris melompat dari jembatan yang mengarah langsung ke sungai Cisadane, orang itu tanpa disangka-sangka muncul. Orang yang sama yang menawari dirinya untuk sekolah di STIN. Sekolah Tinggi Intelijen Negara.
“Kamu itu anak yang berbakat. Negara membutuhkanmu,” kata orang itu.
Max saat itu membalas. “Maaf, tapi saya enggak minat jadi James Bond!”
“Tapi ketimbang kamu mati sia-sia, kenapa kamu tidak mati karena melindungi tanah airmu? Ibumu pasti tidak suka jika kau melompat dan mati.”
Iya, Max tahu, kalimat orang itu ada benarnya juga. Tapi percayalah, kelemahannya adalah Bunda. Siapapun yang membawa-bawa nama Bunda, dia akan menangis. Hanya Bunda yang dia punya di dunia ini. Hanya Bunda rumah tempatnya berpulang. Tapi sekarang rumah itu sudah tidak ada.
Cukup lama Max terdiam, menatap sungai besar di bawah sana dengan tatapan gamang. Hingga beberapa detik berikutnya, Max batal melompat. Alih-alih turun dan ikut pria itu masuk ke dalam mobil.
Singkat cerita, dia menerima tawaran tersebut. Bergabung dengan orang-orang dari penjuru Nusantara yang sama-sama mengemban ilmu di sana.
Di awal-awal, Max sulit untuk beradaptasi. Semuanya terasa baru untuknya. Dia juga tidak mengerti mengapa dia bisa berakhir di tempat yang berisi orang-orang pintar dan berwawasan luas. Bukannya Max menilai buruk dirinya sendiri, tapi bukannya pintar dan menjuarai bintang kelas saat semasa SMA, Max malah justru dulunya juara tukang mabal, panglima tawuran, dan lebih minat tidur di kursi belakang.