Note: kemarin gue update, tapi nggak muncul di notif. Jadi kalau update kali ini muncul, make sure kalian udah baca part sebelumnya. Barangkali ketinggalan dan bukan follower yang bisa liat pengumuman. Thank you.
*
Masa sekarang.
Kareela mengigit bibirnya kala noda darah itu tidak kunjung menghilang dari tangannya. Sekeras apapun dia menggosok telapak tangannya, darah itu terus muncul seolah-olah tidak akan mau menghilang. Air matanya tiba-tiba luruh begitu saja, pandangannya mulai berputar, kejadian semalam masih membekas dan terus terulang setiap detiknya. Bagaimana senjata api itu dia pegang, dan bagaimana dia menekan pelatuk dan biji peluru terhempas dengan kencang—menembus punggung seseorang.
Dan seseorang itu tewas. Seseorang telah tewas karena ulahnya.
Gadis itu mengerang ketakutan dan mundur selangkah untuk bersandar di dinding kamar mandi. Membiarkan air keran tersebut terus mengalir, menyamarkan suara tangisnya yang sedari tadi belum kunjung berhenti.
Sejak kejadian penyerangan mendadak di hotel dini hari, mereka terus bergerak hingga ke perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan. Melipir sejenak di salah satu mushola sepi di pinggiran lintas Sumatera untuk istirahat. Kareela menyempatkan diri mandi dan bersih-bersih, Shayne mengurus luka tusuknya yang belum sempat dia bersihkan. Sudah 20 menit berlangsung, gadis itu masih belum selesai dengan urusannya di kamar mandi.
Tok tok tok!
Kareela tersentak, buru-buru mematikan keran.
“Kareela?” Itu suara Ayah. “Masih lama?” tanyanya.
Dengan gelagapan, Kareela menjawab, “I—ini sebentar lagi.”
“Kalau gitu Ayah tunggu di depan, ya. Jangan lama-lama!” ujar pria itu lalu terdengar suara langkah kakinya yang menjauh.
Akhirnya tidak sampai 5 menit, Kareela selesai. Bukannya berpenampilan agak segar dan mendingan, rupanya dia justru terlihat begitu pucat. Rambutnya lepek karena habis keramas, telapak tangannya keriput karena terlalu lama terkena air. Tidak mau ambil pusing, gadis itu memilih lanjut jalan ke parkiran. Dilihat ayahnya sedang membuka bagasi mobil, menuangkan isi termos ke mie instan yang seingatnya, pria itu beli di minimarket sebelum menyebrang ke selat Sunda.
Saat mata mereka saling bertemu, Shayne mengernyit. “Kamu kenapa?”
Kareela hanya menggeleng dan menaruh tasnya di bagasi. Namun ayahnya dengan cekatan menahan tangannya. “Tunggu bentar. Kamu masuk angin? Nggak enak badan?” tanyanya lagi, sembari menyentuh dahi dan pipinya yang terasa dingin.
Gadis itu terdiam, menatap pria itu dengan tatapan yang sulit dia representasikan. Namun tak lama kemudian, Kareela memilih untuk menggeleng. Dia baik-baik saja. Setidaknya fisiknya tidak terluka. “Aku nggak apa-apa, kok,” ucapnya seraya tersenyum tipis.
Shayne menjauhkan tangannya. Tapi tak lama kemudian mengambil sesuatu dari kotak P3K. Belum sempat Kareela bertanya, pria itu lebih dulu mengeluarkan minyak kayu putih, meneteskan minyak tersebut ke tangannya, dan membalurkannya ke lengan Kareela.
Sungguh, Kareela lagi-lagi dibuat terdiam. Sialnya, memorinya langsung mengingat beberapa kenangan saat ibunya sering memborehkan minyak tersebut ke lengan, kaki, perut dan lehernya saat dia hendak bersiap-siap berangkat sekolah. Shayne pun tidak mengatakan apa-apa, pria itu justru setelahnya memberikan cup mie instan yang barusan dia seduh.
“Kita lanjut jalan lagi ya. Besok pagi kita sampai di perbatasan provinsi.”
Kareela hanya mengangguk. Mereka pun masuk ke dalam mobil. Kali ini, gadis itu duduk dia kursi depan, menyantap mie instan sembari memperhatikan jalanan. Sejenak dia teringat dengan luka tusuk yang didapatkan oleh ayahnya, diam-diam dia melirik ke arah pria itu. Tidak ada lagi noda darah di pakaiannya, penampilannya pun sudah kembali sehat seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dum Spiro, Spero
General Fiction[BUKU KE-1] Tentang seorang pria yang mencintainya seluas semesta, menariknya untuk selalu berlindung di balik punggungnya yang kokoh. Tentang seorang bocah yang tidak tahu apapun tentang buruknya dunia di luar sana, terpaksa terjun melihat busukny...
