Extra: Shayne and Naurah

348 20 6
                                        

“Aku minta maaf kalau rumahnya sangat sederhana.”

Suara Shayne sedikit mengalihkan atensinya pada ruang tamu yang terdapat banyak hiasan dinding dari segala macam rupa. Bukannya men-judge karena selera mereka berbeda jauh, alih-alih gadis Melayu itu justru malah dibuat takjub dengan apa yang dia lihat. Rumah itu memang kecil, tidak tingkat. Tapi kesan era kolonial Belandanya begitu kental dengan halaman cukup luas di depan. Lantainya terasa dingin, lampu yang menyorot dari atas plafon memantulkan cahaya warm light yang menambah kesan cozy dan homie. Di tembok ruang tamu terdapat hiasan berupa tanduk rusa, senapan laras panjang, serta foto berukuran besar seorang TNI Angkatan Darat berpangkat Kolonel.

Mata teduh itu mengernyit, terlebih ketika melihat sebuah figura foto di meja pojok ruangan. Foto dua orang. Wanita dengan etnis kaukasian berambut pirang serta seorang anak laki-laki yang Naurah tebak adalah Shayne sewaktu kecil.


Di sisi lain, Shayne sendiri sibuk mencari kunci kamar di laci dekat dapur. Tangan satunya lagi memegang banyak surat yang baru saja dia ambil dari kotak pos dekat halaman rumah. Beruntung kotak posnya terbuat begitu kokoh, tidak mudah karatan, bocor atau parahnya lagi roboh dan tak berbentuk. Sehingga surat-surat itu masih utuh dan tidak rusak sedikitpun meski telah disimpan selama bertahun-tahun di dalam sana.

Ah, ketemu!

Itu kunci kamarnya. Segera dia kembali menghampiri Naurah yang ada di ruang tamu. Gadis itu sedang duduk di salah satu sofa dengan pandangan yang sibuk melihat ke sana ke mari.

“Naurah, kamu bisa tidur dan istirahat di kamar aku. Sini, ayo ikut aku!”

Naurah tersenyum. Kembali berdiri dan mengekori pria itu. Mereka sampai di depan pintu yang dia tebak adalah kamar Shayne. Saat dibuka aroma musk dan sedikit aroma lembab tercium. Tapi itu tidak masalah lantaran di dalam sana begitu rapih. Meski ini tipikal kamar seperti para pelayan di mansion utama keluarga Haddad, setidaknya ini cukup membuatnya merasa nyaman.

“Maaf ya, kamar aku—”

“Aku suka.” Naurah langsung memotong. Berbalik menghadap pria itu dan tersenyum manis seakan-akan mengatakan terima kasih. “Kamu nanti tidur di mana?” ucapnya, lanjut bertanya.

Dilempari senyum menawan seperti itu, Shayne dibuat gelagapan. Dengan canggung dia menunjuk ke samping. “Di samping ... Eh, maksudnya kamar samping! Di kamar orang tua.”

“Oh.” Gadis itu mengangguk-angguk.

Jujur, Shayne canggung setengah mati. Pria itu menggaruk belakang kepalanya sejenak, sebelum akhirnya tidak sengaja tersadar dengan luka lebam di wajah gadis itu. “Itu ... Wajah kamu ... Boleh aku obati?”

Naurah tiba-tiba terdiam. Menyentuh pipinya dan seketika merasa malu karena dia yakin, pasti penampilannya amat menyeramkan. Pasti Shayne risih melihatnya. “Boleh.”

Shayne pun cepat-cepat berbalik, mengambil kotak P3K yang ada di kamar orang tuanya, dan tidak butuh waktu lama baginya untuk kembali dan menuntun Naurah untuk duduk di pinggir ranjang. Shayne segera melakukan apa yang harus pria itu lakukan, menyingkirkan beberapa helai rambut halus gadis itu, dan mengoleskan salep di pipi, sudut bibir, dan juga sekitar mata kirinya.

Naurah sendiri sedari tadi menutup mulutnya, mata bening itu terpaku melihat pahatan wajah ciptaan Tuhan di hadapannya ini. Hidungnya, rahangnya, mata dan bibir yang terbentuk begitu sempurna. Jangan lupakan gadis itu akan warna mata hazel indah tersebut yang meneduhkan perasaan siapapun yang melihat, termasuk dirinya sendiri. Naurah akui, dia jatuh cinta dengan segala hal tentangnya. Bahkan ketika melihat pria itu pertama kali, melihat bagaimana caranya berjalan, berbicara, atau menatapnya, dia seperti ditarik—seakan-akan terdapat kutub magnet di antara mereka—sehingga responnya adalah saling mendekat.

Dum Spiro, SperoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang