Jika didalam buku sebelumnya kisah Haechan dan Mark hanya dilingkupi dengan jalan yang lurus, maka dibuku ini mereka dan anak anak mereka akan melewati rollercoaster yang terus berputar. Namun, cemara tetaplah cemara. Tak ada kata perpisahan karena...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kakak mau minta mainan ini Boleh ga mom?
Mainan lagi? Astaga Mainan dia tuh di room udah banyak Masa mau beli lagi?
Gapapa mom satu aja kasihan Melas gitu mukanya
Ga mas! Jangan ngajarin dia boros dong Kamu udah beliin dia mainan dari umur 2 tahun Udah kebanyakan di kamarnya Meski itu uang kamu, aku ga mau. Anak kita ga boleh terlalu manja kek gitu. Serena aja ga pernah beli mainan sebanyak Zherio.
Oke... Nanti mas bujuk dia dulu. Maaf ya sayang
Hm, gapapa mas.
“Hiks! Mommy please... Adek mau mobil yang tadi!”
Suara rengekan terus menerus dari bocah itu, Haechan sama sekali tak memperdulikan rengekan putranya itu. Ia sibuk mencuci piring bekas makan malam, bahkan baju tidurnya terus menerus ditarik oleh Zherio.
“Don't touch, Zherio.”
Zherio yang tadi merengek kini terdiam mendengar Ucapan Haechan, matanya melirik ke atas untuk melihat ekspresi wajah mommynya itu. Sementara Haechan membersihkan tangannya kemudian menghadap ke arah putranya itu.
“Mommy tanya, kenapa kamu mau beli mobil mobilan itu?” Tanya Haechan
“Jadi, kalo ada barang keluaran baru kamu harus beli semua? Coba liat kamar kamu, satu lemari khusus buat pajangan mainan kamu itu kurang? Ada mommy ngajarin kamu boros?” Tanya Haechan lagi
Zherio menggeleng pelan, Haechan menghela nafas panjang kemudian berjongkok didepan putranya itu.
“Beli mainan itu hal yang paling gampang buat mommy dan papa kabulin. Tapi, coba kamu liat ke bawah. Ada banyak anak anak seusia kamu pengen beli mainan, pengen ada diposisi kamu. Misal, kalo papa bangkrut kamu bisa ngatasin diri kamu yang serakah itu? Yang apa apa harus beli? Kalo bisa mah ayo aja.”
Zherio menggeleng ribut sembari menarik nafasnya yang memburu.
“Kalo memang Zherio mau beli mainan itu, ya sudah jual aja mainan yang lama. Ga guna juga kan?” Tanya Haechan sembari menatap Zherio
“J-jangan, mom. Adek masih mau main.” Jawab Zherio
Haechan tersenyum manis kemudian mengusap pipi anaknya itu yang memerah akibat menangis sedari tadi.