Request pembaca.
Sebuah cerita tentang Bangau, prajurit dari kerajaan Ananta yang mendapatkan kutukan luka. Drama, cinta dan sihir bersatu dalam buku ini.
Cerita ini masuk ke dalam semesta buku Danau Pelangi. Author sangat menyarankan untuk membaca...
•• ━━━━━ •• Saat dicintainya adalah suatu beban Aku juga tidak tega membiarkannya menanggung beban itu •• ━━━━━ ••
Dalam rasa sakit luar biasa. Bangau mengeluarkan kuas, mematahkan kuasnya sehingga membentuk patahan kayu tajam. Lalu dia arahkan patahan kuas itu ke lehernya.
"Mungkin, ini lebih baik... setidaknya rasa sakitku berhenti..."
JLEB, patahan kayu itu menancap ke tangan pria yang menahan kayu tajam tadi sebelum menusuk leher Bangau. Bangau merasakan kehadiran seorang pria yang muncul naik dari tanah, berdiri disampingnya dan menangkap sudut tajam patahan kuas kayunya dengan telapak tangan.
"Sudah kubilang kan.." Maleo mencabut kayu dari tangannya yang berdarah "Kau tidak mau dengar sih" Dia tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Dia balut tangannya dengan kain lalu dia meminta Bangau naik ke punggungnya.
"Biarkan aku sendiri Maleo" tolak Bangau.
"Naik sini" Maleo memberikan punggungnya dan menepuk bahunya sambil jongkok.
"Tidak" tolak Bangau dan meringkuk jongkok sambil menangis
Maleo masuk ke dalam tanah, muncul di depan Bangau dari dalam tanah lalu langsung menggendong Bangau di punggungnya. Bangau menangis di bahu Maleo, air matanya jatuh dan dia memeluk Maleo dari belakang dengan lembut.
"Menangislah Bangau, jangan di tahan. Menangis sekuat yang kau bisa karena setelah ini aku berjanji aku tidak akan membiarkan air matamu jatuh lagi"
Tubuh Maleo yang hampa terasa lembut, mungkin karena dia juga memang dapat menembus objek. Bangau sama sekali tidak merasa digendong, dia merasa seperti melayang di angin yang halus, di gumpalan kapas yang sangat lembut hampir tak bertekstur.
Sepanjang jalan Maleo menggendong Bangau dan dia hanya diam. Membiarkan Bangau menangis di punggungnya. Maleo berjalan lalu berlari dan membuat Bangau merasa terbang saking tidak terasanya tubuh hampa itu. Angin menghembus rambut panjangnya. Maleo tersenyum melihat air mata Bangau berhenti jatuh.
Mereka menuju pinggir sungai dan berbaring di bawah cahaya bulan.
"Masih Sedih?" Tanya Maleo yang mengeluarkan sesuatu dari sakunya "Taraaaa, hadiah pelantikan untukmu"
Ada satu set alat lukis dan kuas yang baru.
"Kau menyukaiku Maleo?" tembak Bangau tanpa basa basi.