17. Kau akan semakin cantik

166 11 27
                                        

17 Tahun
SEBELUM RITUAL DARAH

Murai dan Bangau sedang berpetualang di hutan. Mereka berburu hewan untuk pesta rakyat suku pegunungan. Murai bersiul untuk memanggil burung-burung berdaging tebal yang dia tangkap. Bangau menggambar burung pelikan untuk menangkap ikan di sungai. Mereka dikenal sebagai "sahabat" yang hebat dan kuat. Kemampuan sihir mereka cocok untuk ruang luas, sangat fleksibel dan punya variasi yang beragam.

"Bangau lihat, ada kerbau liar" ucap Murai yang menunjuk ke kubangan lumpur.

"Kau mau beri daging kerbau untuk pesta?" Tanya Bangau yang menggambar busur dan anak panah.

"Ya kalau tidak disembelih kan bisa kita berikan ke petani, banyak petani yang kesulitan membajak sawah saat kemarau" jawab Murai dan melompat dari pohon ke atas kerbau itu.

Kerbau tadi marah karena Murai hinggap di atas tubuhnya. Si Kerbau bergerak agresif sampai Murai terlempar jatuh ke lumpur yang kotor. Bangau menulis kata "Tidur" di kertas, dia keluarkan gambar panah dan busur dari lukisannya. Lalu dia tembakkan kertasnya di ujung panah ke kerbau itu. Jleb, anak panahnya menancap di perut si kerbau bersama kertas Sastranya.

"..sastra.." ucap Bangau yang berlari mendekati Murai di kubangan.

Kerbau itu tertidur dan Murai yang penuh lumpur kesal karena jubah putihnya menjadi kotor.

"Ibuku pasti membunuhku kalau jubah putihku terkena lumpur" Keluh Murai.

"Salah sendiri, kau tahu kita akan berburu dan kau malah pakai jubah Putih" ucap Bangau dan menulis kata -bersih- di kertas, lalu dia menempelnya di jubah Murai lalu melakukan Sastra.

"Sastra" ucap Bangau dan kertas itu menyerap semua lumpur di jubah putih Murai.

"Aku suka warna putih. Bersih, Kuat, dan Berkelas" ucap Murai yang senang karena jubahnya kembali bersih karena Bangau.

"Kuat? Putih warna yang mudah kotor. Apanya yang kuat?" Jawab Bangau sambil menggambar tali untuk menarik kerbau itu keluar kubangan.

"Baju para Petapa sakti berwarna putih kan? Baju raja saat pelantikan juga putih. Justru karena putih adalah warna yang mudah kotor makanya pemiliknya pasti sangat kuat dan disegani. Tidak akan ada yang berani macam-macam dengan pria berbaju putih" ucap Murai sambil mengikat kerbau tadi dan menyeretnya kembali ke desa mereka.

Mereka berdua berjalan pulang ke suku sambil membawa hasil perburuan. Di tengah jalan mereka rehat untuk minum air. Murai melihat rambut Bangau dan mengelusnya.

"Kau tahu kau itu cantik kan Bangau, bila rambutmu panjang aku yakin kau semakin cantik" ucap Murai memuji si pelukis.

"Kalau rambutku panjang, musuh akan mudah untuk menjambaknya saat bertarung" jawab Bangau yang mengusir tangan Murai dari rambutnya.

"Kau tahu para kesatria hebat rambutnya panjang kan? Bayangkan betapa gagahnya saat kau di atas kuda, rambutmu berkibar, musuh akan ketakutan. Itu Bangau, anak suku pegunungan yang hebat. Mereka pasti menyerah begitu melihat kedatanganmu" Murai bicara penuh semangat dan Bangau hanya tersenyum melihat "rekan"-nya itu terobsesi dengan perang, menjadi kesatria hebat, dan menjadi prajurit terkuat.

Setelah memberikan buruan ke dapur suku, mereka bermain bersama di tengah pesta. Menari dan bernyanyi khas anak-anak suku pegunungan. Pesta panen itu berlangsung meriah dan bangsawan suku Pegunungan juga hadir.

"Putri dara, Putri dara... Putri dara datang kesini" anak-anak itu takjub melihat kecantikan Dara yang di kawal beberapa penjaga.

"Dia cantik sekali Murai" ucap Bangau yang takjub dengan elegansi sang Putri.

TINTA DAN DARAH . Danau Pelangi (Special Request)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang