Request pembaca.
Sebuah cerita tentang Bangau, prajurit dari kerajaan Ananta yang mendapatkan kutukan luka. Drama, cinta dan sihir bersatu dalam buku ini.
Cerita ini masuk ke dalam semesta buku Danau Pelangi. Author sangat menyarankan untuk membaca...
Note : Chapter ini tidak baik untuk kesehatan fisik, mental dan emosi
Mohon kebijaksanaannya
-- Aku salah... Aku kelewatan batas ---
Ukino melihat Murai yang tampak kesakitan dan dia adalah kesatria terbaik Ananta sekarang. Bila Murai mati maka musuh akan mudah mengalahkan Ananta dalam perang.
"Kurasa aku harus membantunya" ucap Ukino dan membuka pakaiannya.
"Jangan, aku saja" ucap Bangau dan memasang kembali pakaian Ukino "Aku mengerti cara mengeluarkan racun pusakanya"
"Kau yakin? kau tidak akan kesakitankan?..."
"Tidak, kami tidak akan melakukannya sampai menyakitiku. Aku hanya perlu memberinya sedikit sentuhankan, anda bisa serahkan ini kepadaku Pangeran. Aku pastikan murai selamat" ucap Bangau.
"Baik, aku beri kalian waktu"
Ukino keluar dari ruangan itu meninggalkan Bangau bersama Murai. Bangau dengan cepat menutup semua pintu, jendela dan tirai kamar itu. Dia baringkan Murai di posisi nyaman. Tintanya tidak banyak, dia punya beberapa kertas untuk sastra tapi tetap saja dia harus berhemat.
"Aaaghh sakit bangau... Sakit..." Seluruh nadi Murai membiru, tubuhnya seperti ditusuk jarum dari dalam. Tangannya gemetar dan keringatnya mengalir deras. Bangau melepas jubahnya agar Murai tidak gerah, dia juga membersihkan beberapa luka diperban Murai yang terbuka karena efek racun pusaka.
Bangau menulis kata "...kedap..." dan melakukan Sastra ke ruangan itu sehingga suara dari dalam tidak akan terdengar.
Bangau tulis kata "Tenang" di kertas, lalu dia tempelkan ke kening murai. Dia tulis kata "Nyaman" yang dia tempel di perut Murai. Lalu dia tulis kata "Hasrat" yang dia tempel di paha Murai. Tiga kata itu sudah cukup untuk menghabiskan stok tinta darahnya.
"...SASTRA..." ucap Bangau.
Tulisan-tulisannya menyala dan memberi efek bius ke tubuh Murai. Murai membuka mata dengan rasa sakit yang tidak separah sebelumnya. Namun racun pusakanya tetap harus di keluarkan sebelum efeknya kembali maksimal.
"Tolong aku Bangau enghh" Murai sangat kesakitan sampai dia meremas lengan Bangau kuat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Izinkan aku menyentuhmu Murai" ucap Bangau.
Dia longgarkan dalaman Murai dan mulai memegang milik Murai dengan tangannya. Dia kocok perlahan sampai menegang dan melakukannya dengan profesional. Murai menatap bangau yang memberinya masturbasi tanpa ekspresi. Tangan Bangau naik turun tapi Murai sama sekali tidak menikmatinya. Batangnya setengah tegang dan wajah Bangau yang tampak canggung membuat Murai merasa kalau dirinya hanya sedang diraba-raba.