21. Sebelum Berangkat

158 15 24
                                        

Pasukan Prajurit angkatan Merpati dipersiapkan untuk melakukan teleportasi ke Abaria terkait ramalan Dara. Bangau duduk menunggu perintah berikutnya sambil merasa pegal karena pertengkaran kecil dengan Semino. Dirinya bimbang, senang karena dia akan ikut ke Abaria sebagai prajurit. Tapi juga takut karena bila dia terluka dalam perang itu. Habislah...

"Lama tidak ketemu Bang.." Macaw mendekat dan memegang bahu Bangau.

" Macaw mendekat dan memegang bahu Bangau

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Lepaskan aku..." Ucap Bangau kesal mengusir Macaw.

Mereka sempat kenal dan dekat. Macaw menjaga Bangau di masa-masa berdukanya setelah kematian kedua pria "itu". Kemampuan Macaw untuk membaca pikiran dapat menjadi alarm bila Bangau berpikiran untuk melakukan hal yang tidak-tidak selama dia berduka. Setelah Bangau berhasil keluar dari Duka, Macaw ditugaskan untuk belajar strategi perang lebih intim di suku Bukit.

"Kita tidak bertemu beberapa bulan dan kau bersikap seolah tidak mengenalku" Macaw memasang wajah sedih.

"Fokus kepada misi ini... Ini misi pertamaku sebagai prajurit setelah aku terkutuk" ucap Bangau.

"Kau melupakan misi kita dulu?" tanya Macaw memelas.

"Kami akan melindungimu Bangau" ucap Camar "Tenang saja"

"Aku bisa melindungi diriku sendiri" Balas Bangau.

"Dengan apa? Kau mau gambar dinding tinggi agar musuh tidak lewat ahahaha" Merak tertawa.

"Ingatlah kalau kalian itu satu angkatan di bawahku" tegur Bangau.

"Tapi jabatan kami lebih tinggi darimu" sambung Rava.

"Jangan bicara begitu" Merpati menegur kedua temannya "Bangau sangat penting di misi ini. Tanpa pengetahuan artefaknya kita mungkin tidak akan sampai Abaria tepat waktu"

Macaw melepas ikat kepalanya.

"Jangan..." Cegah Bangau.

"Aku bersiap perang" Macaw memberikan ikat kepala merahnya ke Bangau, dia ikat kain merah itu ke lengan sang pelukis.

"Aku benci saat kau masuk ke otakku" ucap Bangau dengan kesal.

"Aku tidak masuk ke otakmu Bang. Kalian yang berteriak ke telingaku" jawab Macaw yang memasukkan beberapa senjata ke jubahnya.

("Anak ini, lama tidak muncul sekarang sudah lebih besar saja tubuhnya") batin Bangau.

"Aku makan banyak, selama aku belajar di Suku Bukit mereka memberiku makan lima kali sehari" jawab Macaw.

"Jangan masuk - ke - pikiranku!!" Ucap Bangau dengan kesal lalu pergi keluar dari ruangan bersiap prajurit.

"Kau mau kemana Bangau?" Tanya Semino.

"Mengambil persiapanku. Aku harus bawa kuas dan tinta darahku kan" jawab Bangau.

"Temani dia" ucap Semino ke Macaw.

Macaw mengekor Bangau menuju ruang artefak. Bangau berlutut dan menangis di cipratan tinta bekas Murai. Macaw melihat nya dengan heran.

"Maafkan aku cintaku ..." tangis Bangau.

"Kau tinggal lukis dia lagi kan?"

"Kau tidak tahu apa-apa... Mahakarya ku sangat berharga, hancur dalam satu kali tamparan..."

"Aku pengawal mu cukup lama. Aku tahu kau bisa apa Bang" ucap Macaw.

"Mahakarya ku ..hancur" Bangau menangis.

"Kau mendramatisir sekali. Apa yang mau kau bawa ke Abaria? biar Kubantu"

Bangau mengusap air matanya "Tinta darahku hanya ada 4 tabung kecil. Kuas besi ada di rak, semua kertas dan canvas ada di tas disana" Bangau menunjuk ke arah lemari lalu lanjut menangisi Murai Palsunya yang hancur.

"Kau berlebihan Bang. Buat apa menangisi orang mati, buat apa menangisi lukisan." Celetuk Macaw yang mengumpulkan peralatan Bangau di satu tas.

"Kau tidak akan mengerti karena kau bukan aku" jawab Bangau kesal.

"Ya, di istana ini yang mengerti kau cuma satu orang. Dirimu sendiri" jawab Macaw.

("Aku tadi bahkan belum klimaks dengannya")

"Kau berhubungan dengan lukisanmu sendiri... Iyuhh"

"Aku bilang... Jangan masuk ke pikiranku..."  Bangau yang kesal mengeluarkan ular citranya dari lukisan di dinding untuk menyerang Macaw.

"Wo Wo Wo .. jangan pakai kekerasan begini... Iya iya aku tidak menguping" Macaw memakai kain merah penutup kepalanya.

Bangau pergi ke sudut lain gedung Artefak dan mengambil sebuah patung kodok.

"Simpan, pegang dengan baik" ucap  Bangau.

"Apa ini, aneh sekali" protes Macaw.

"Pegang saja!!"

"Tapi Berat Bang"

"Kau mau membantuku atau tidak?" Tanya Bangau.

"BAIK!!!" Macaw menenteng patung kodok itu.

- Kejadian yang terjadi di Abaria akan dilanjutkan di chapter Danau Pelangi...

TINTA DAN DARAH . Danau Pelangi (Special Request)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang