Request pembaca.
Sebuah cerita tentang Bangau, prajurit dari kerajaan Ananta yang mendapatkan kutukan luka. Drama, cinta dan sihir bersatu dalam buku ini.
Cerita ini masuk ke dalam semesta buku Danau Pelangi. Author sangat menyarankan untuk membaca...
Chapter ini adalah versi extended dari halaman Bangau di Danau Pelangi. Isinya sama dengan sedikit penambahan.
MOHON TIDAK MEMBERI SPOILER KE CHAPTER DI DANAU PELANGI
Selamat membaca.
Setahun setelah kematian Maleo Dan Murai
Bangau duduk di ruang pusaka dan membersihkan beberapa pusaka koleksi kerajaan. Dia mendengar suara genderang tanda prajurit perang datang dari perjalanan jauh. Dengan senang Bangau masuk ke ruangan aula kosong di gedung Artefaknya. Aula luas yang biasanya digunakan untuk menguji Artefak berbahaya.
Genderang perang mengingatkannya kepada Murai, mengingatkannya kepada pahlawan Ananta itu. Pria yang selalu dia cintai tanpa berkurang sedikitpu. Bangau memutuskan untuk melakukan hal sudah lama dia pelajari, hal yang sudah lama dia rencanakan. Menghidupkan Murai, dalam fantasinya.
Dia tarik kain merah atas kanvas di pinggir ruangan, menunjukkan lukisan Murai yang tampan. Lukisan yang Bangau cicil dengan darahnya setiap hari selama hampir 2 bulan untuk selesai. Belum sepenuhnya selesai tapi dia sudah mematangkan teknik mahakaryanya tiap harinya, tiap bulannya, semenjak dia kehilangan dua pria yang mencintainya itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"...Citra..." Ucap Bangau "Tumbal Darah : Mahakarya"
Mahakarya memungkinkan Bangau memaksimalkan potensi Citra. Membuat lukisannya lebih hidup, utuh, dan nyata. Selama Mahakarya aktif, energi dalam tubuh Bangau akan terkuras. Imajinasi Bangau juga harus jelas agar gambarnya dapat merupa dengan sempurna.
Seorang pria merangkak keluar dari lukisan itu, Murai yang tampak sehat, hidup, dan nyata. Murai masih berdiri kaku sambil tersenyum, sampai Bangau harus membaca tambahan mantra untuk membuatnya "Bereaksi" layaknya manusia. Tubuhnya pucat, hitam putih layaknya kanvas dan tinta.
"Kau pulang?" Tanya Bangau melihat Murai, membayangkan skenario terbaik dalam hidupnya yang berantakan. Menjalankan drama romantis yang selama ini hanya bisa menjadi mimpi untuknya.
Sang pria gagah panglima perang yang perkasa berjalan di Aula itu, Panglima Murai mendekati Bangau. Pria yang dibuat Bangau dengan darahnya, dia lukis dan dia jadikan nyata dengan sihirnya. Murai yang tampan terbuat dari tinta dan darahnya, tubuhnya hitam putih pucat tanpa warna. Itu adalah karya yang dibuat dengan cinta...
Murai mendekati Bangau dan berlutut lalu mencium tangan sang pencipta. Bangau menyambut Murai dengan pelukan dan ciuman mesra. Kecupan dan cumbuan romantis itu membuat mereka tenggelam dalam nafsu yang selama ini Bangau tahan.
"Aku takut kehilanganmu Murai" ucap Bangau yang menangis.
"Aku pasti pulang Bangau... Pasti" ucap Murai dengan suara indahnya..