17. Anak itu akan mati

147 11 52
                                        

17 Tahun
Setelah Ritual Darah

Murai terbangun dari tidurnya. Semua ingatan, kenangan, dan perasaan tentang Bangau sudah hilang dari tubuhnya. Dia linglung, kebingungan, dan beberapa minggu masih berusaha mengembalikan hidup normalnya. Sang ibu berkata bahwa dia jatuh sakit. Jelas itu kebohongan.

Sang Ayah melatih Murai dengan giat agar semakin sakti untuk persiapan masuk ke sekolah prajurit Ananta. Sang ibu menutupi semua rahasia Bangau yang bahkan Bangau sendiri pun lupakan. Sang Ayah sudah dimantrai, Murai di Mantrai, dan Bangau juga memantrai dirinya sendiri.

Ibu Murai satu-satunya yang tahu tentang Ritual Darah Aksara Tanpa Kata. Murai dan Bangau hidup layaknya dua orang yang tidak saling kenal. Asing, lupa bahwa dulu mereka saling mencintai.

Bangau dan Murai bertemu kembali di ujian masuk. Hari itu semua prajurit muda harus diuji dengan tes yang ditentukan oleh Raja. Tahun itu, tes masuknya cukup sulit karena prajurit lawan sekarang lebih kuat dan sakti. Para calon prajurit yang berasal dari berbagai suku harus berhasil mengalahkan gajah perang Ananta. Dari 100 pendaftar di hari pertama hanya 2 orang yang berhasil lolos, itupun penuh luka.

 Dari 100 pendaftar di hari pertama hanya 2 orang yang berhasil lolos, itupun penuh luka

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di hari kedua Murai dan Bangau ada di kloter tes yang sama. Tes itu ditonton oleh semua orang di suku pegunungan, ditonton oleh anggota kerajaan, bahkan tamu undangan dari suku-suku lain. Harga diri Ananta dan Suku pegunungan dipertaruhkan. Ayah Murai yakin Murai dapat lulus karena dia sangat berbakat dan sudah berlatih dengan serius.

Begitu melawan gajah perang, Murai begitu kewalahan. Sihirnya tidak dapat membuat ilusi ke gajah itu karena Sang Gajah perang sudah kebal sihir. Namun sebelum waktu habis, Murai berhasil menumbangkan sang Gajah dengan teriakan energinya. Murai dinyatakan lulus seleksi hari itu walaupun tenggorokannya terluka.

"Kau hampir saja gagal Murai" ucap sang ayah "Aku kecewa kepadamu, harusnya kau bisa menumbangkan Gajah itu dengan tiga teriakan. Kau membuat malu keluarga kicauan..."

"Tapi aku sudah lolos ayah uhukkk" Murai yang kelelahan batuk karena energi suaranya dikeluarkannya dengan berlebihan demi menumbangkan sang Gajah.

"Tetap saja kau tidak akan menjadi kesatria terbaik. Raja tidak terkesan kepadamu, Elang bahkan tidak tertarik dengan kekuatanmu. KAU MEMALUKAN" Sang Ayah meninggalkan Murai sendirian.

Bangau yang masih di ruang tunggu mendekati Murai. Jatuh cinta pada pandangan pertama melihat sang calon prajurit melawan Gajah dengan suaranya tanpa kenal lelah. Tepatnya, Jatuh cinta lagi pada pandangan yang lama tidak dia lihat. Cinta itu tumbuh lagi, karena mencintai Murai adalah takdir Bangau.

Leher Murai kesakitan dan Bangau membuat Sastra -Sembuh-.

"Boleh aku bantu?" tanya Bangau dengan lembut.

"Kau tim medis? Uhuk uhukk" tanya Murai yang terus batuk.

Bangau tersenyum "Tidak, tapi aku bisa melakukan ini" dia menempelkan kertas bertuliskan -sembuh- tadi ke leher Murai lalu dia lakukan Sastra. Kurang dari dua detik tenggorokan Murai kembali lega.

TINTA DAN DARAH . Danau Pelangi (Special Request)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang