18. Tidak Sengaja

98 8 4
                                        

Setelah Kutukan

Berita tentang Bangau yang terkutuk tersebar luas. Ibu Murai dan suaminya cekcok besar. Sang Ibu tidak menyangka bahwa takdir yang Bangau korbankan ternyata dalangnya adalah suaminya sendiri. Mereka berdebat hebat malam itu.

Ayah Murai yang terbawa emosi melanggar janjinya kepada sang anak, dia memukul sang istri cukup keras sampai kehilangan nyawanya. Ibu Murai terlempar dan kepalanya menghantam batuan perapian hingga tengkoraknya retak.

Ibu Murai meninggal. Kondisinya yang lemah karena sakit ditambah pukul suaminya yang melukai kepalanya membuat Ibu Murai, satu-satunya orang yang mengetahui pengorbanannya Bangau, pergi dari dunia ini.

Sang ayah berbohong, tidak menepati janjinya dan membuat semua yang Murai lakukan sia-sia. Sang ibu tetap mati, Bangau sudah terkutuk, dan dirinya semakin kehilangan kewarasannya.

Setelah ujian dan proses penilaian. Para Prajurit muda dipersilahkan untuk pulang ke rumah mereka. Murai sangat senang, dia bisa menemui sang ibu hari itu dan bisa menunjukkan kepada Sang Ayah bahwa sekarang, dialah prajurit terbaik di angkatannya.

Dirinya berhenti menggunakan Sari Semut. Dirinya tidak berani menemui Bangau lagi karena rasa bersalahnya. Tapi setidaknya dia punya ibunya... Pikirnya.

Saat pulang ke rumah. Murai riang dan ceria. Tubuhnya pulih dari overdosis Sari Semut dan mentalnya kembali stabil.

"Ayah-Ibu aku pulang... Aku dapat cuti dari kerajaan.. Aku ingin makan sup buatan ibu, Ayah-Ibu... Kalian diman..."

Murai melihat sang ayah yang sudah berhari-hari bersama mayat sang ibu. Sang Ayah menyesali perbuatannya dan tidak melepaskan mayat sang istri semenjak kematiannya. Murai mendekat dan tidak percaya melihat hal itu.

Apa ini ilusi? Apa ini bercandaan yang berlebihan? Apa ini? Pikirnya

Sang Ibu membusuk di paha sang Ayah yang juga kurus kering.

"Maafkan ayah nak" Tangis ayahnya dan memeluk kaki Murai.

Murai menendang sang Ayah, dia melihat sang ibu sudah dikerumuni belatung entah sejak kapan. Murai menangis dan menjambak rambut sang ayah.

"Kau yang lakukan ini ayah?" Tanya Murai penuh emosi.

"Ayah tidak sengaja nakkk..."

"Tidak sengaja? Apanya?" Murai menarik rambut sang ayah sampai kulit kepala pria itu robek.

"Ayah minta maaf..." Tangis sang ayah yang berhari-hari tak makan.

Dunia Murai terasa hancur. Tenggorokannya terasa terbakar. Kepalanya mendadak pusing dan jantungnya berdebar kencang luar biasa.

"Aku korbankan sahabatku demi ambisimu. Aku korbankan hidup seseorang, dan kau tetap ambil hidup ibuku... KAUUUUU" Murai mengumpulkan energi amarah di tenggorokannya "MATILAH"

Teriakan Murai menghasilkan gelombang energi yang membuat kepala sang ayah pecah. Energi itu meledakkan tengkorak, otak, serta kulit kepala Ayahnya sampai hanya tersisa gumpalan darah dan leher yang buntung.

Murai berlari ke pekarangan rumahnya. Dia berteriak dan mendapatkan Kicauan Maksimalnya. Dia berteriak ke langit dan teriakan untuk membuat seisi Ananta berguncang. Langit terbelah dan badai datang tanda aliran sihir yang besar sudah pecah.

Murai sedih, takut, marah dan tidak tahu harus berbuat apa. Murai menangis di ruang tamunya yang penuh darah, lalu pintunya di ketuk oleh tetangganya.

"Aku mendengar teriakan? Boleh aku masuk?" tanya tetangganya itu.

Murai diam tidak menjawab. Dia kumpulkan mayat orang tuanya dan dia tutup dengan kain. Dia meringkuk menangis dan merasakan tenggorokannya sekarang lebih kencang.

Tetangganya masuk tanpa disuruh. Tidak masuk dari pintu, tapi berjalan menembus dinding. Tetangganya itu melayang mencari keberadaan Murai dan menemukan pria itu meringkuk di samping kain yang berdarah.

"Murai, aku bawakan kue dari ibuku..." Kue itu jatuh ke tanah.

"Tolong bantu aku, bantu aku kubur mereka" Murai memohon "Bantu Aku Maleo..."

Maleo shock, dia menarik kain penutup di lantai dan melihat mayat ibu Murai yang busuk dan Mayat ayah Murai yang masih segar tanpa kepala.

"Kita harus panggil prajurit keamanan Murai" ucap Maleo yang panik.

"Aku akan urus sisanya, kumohon Maleo, kau dapat menembus tanah... Kau bisa bawa mereka bersamamu, kubur mereka sedalam mungkin. Aku akan bilang ke prajurit kalau mereka hilang. Aku mohon Maleo, aku akan berhutang budi kepadamu..."

"Murai tidak begini caranya.."

"Aku harus apa!!" Murai menjambak rambutnya sendiri, menampar wajahnya dan menjedotkan kepalanya ke dinding.

Maleo memeluk Murai yang sedang depresi berat "Aku tahu seberapa jahat ayahmu. Aku akan bantu dengan satu syarat Murai..."

"Apa... Akan ku setujui asalkan mereka berdua terkubur tanpa ada yang tahu" ucap Murai yang kehilangan harapan.

Maleo menatap Murai dengan sangat serius.

"Biarkan aku mendekati Bangau... Jauhi dia.. Jangan perdulikan dia... Jangan dekati dia, bahkan sebagai teman sekalipun..." Ucap Maleo.

"Tapi ..."

"Aku mencintai Bangau, Murai... Dan dia mencintaimu" Ucap Maleo "Dengan semua rasa sakit yang kau berikan untuknya, apa menurutmu pantas kau mengharap cintanya lagi... Lepaskan dia, biarkan aku mendekatinya, jauhi dia, dan Mayat orang tuamu akan kubawa ke dasar bumi"

Murai tidak punya pilihan. Satu satunya yang dapat mengubur orang tuanya sedalam mungkin adalah Maleo. Maleo juga terlanjur menjadi saksi.

Demi masa depannya, Murai melepaskan cintanya.

TINTA DAN DARAH . Danau Pelangi (Special Request)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang