Request pembaca.
Sebuah cerita tentang Bangau, prajurit dari kerajaan Ananta yang mendapatkan kutukan luka. Drama, cinta dan sihir bersatu dalam buku ini.
Cerita ini masuk ke dalam semesta buku Danau Pelangi. Author sangat menyarankan untuk membaca...
Prajurit Ananta sedang berperang di sekitaran desa dukun yang diserang oleh pasukan dari Anunika. Mereka berkumpul untuk membahas strategi perang untuk besok sedangkan Maleo tidak datang ke rapat besar itu. Malam harinya Maleo menghadap ke Murai di tenda pimpinan setelah dia kembali dari entah kemana.
"Kau tidak ikut rapat" tegur Murai.
"Rapat?" Maleo menoleh lalu lanjut jalan "Untuk apa"
"MALEO!! KAU HARUS MENGIKUTI PERANG DENGAN SERIUS!!! INGAT POSISIMU!" Bentak Elang.
"Apa yang kau bawa Maleo?" Tanya Rajawali melihat karung di punggung maleo.
"Perang?" Maleo tersenyum dan menjatuhkan karung penuh darah dari bahunya "Perang apa? Tidak ada perang lagi..."
Karung yang dia pegang jatuh lalu terbuka.
Batok-batok penuh darah menggelinding.
Kepala-kepala prajurit Anunika berjatuhan dari karung besar itu. Murai terdiam dan Elang mengecek semua kepala yang Maleo bawa. Rajawali shock melihat musuh yang berhasil Maleo bantai dalam satu malam.
"25 kepala, 5 orang kabur" ucap Maleo dengan wajah datar "Aku bisa naik pangkat sekarang?"
"Maleo tidak begini caranya" ucap Rajawali.
"Ada strategi, ada taktik, ada banyak hal yang harus dilakukan dalam berperang Maleo. Bukan hanya membunuh" ucap Elang marah.
"Aku menyelamatkan nyawa semua prajurit disini, dan ini rasa terima kasih yang kudapat? Dia..." Maleo menginjak satu kepala "Dia membuat tuli semua prajurit karena dia tahu Murai dapat berkicau dan mengecoh mereka. Mereka punya panah khusus yang dapat melumpuhkan pita suara. Semua pasukan ini, dibuat memang untuk melawan Murai. Tapi bukan untuk melawanku"
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Rajawali.
"Aku hanya perlu masuk ke tanah dan mendengarkan" Maleo mengambil jubah perang Murai dan membersihkan pedangnya yang penuh darah dengan jubah itu "Lalu ku masukkan mereka ke dalam tanah, terkubur sampai lehernya, dan tinggal ku potong seperti memotong rumput.. Semua dalam satu waktu. Kau bisa melakukan ini Murai?"
Murai mulai takut dengan kemampuan Maleo. Maleo yang dulu tersenyum lebar, manis dan baik hati. Sekarang adalah pembunuh terbaik yang Ananta punya. Kejam, tak punya hati dan bengis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Anunika akan kirim lebih banyak pasukan..." ucap seorang cenayang di tim itu.
"Artinya aku bisa bunuh lebih banyak..." Maleo keluar dari tenda itu dan ingin mandi.
"Maleo... membunuh itu salah" ucap Murai.
"HAHAHAHA KAU BUNUH AYAHMU MURAI!!! Kau lupa?"
Rajawali dan Elang yang mendengar itu menjadi shock.
Murai terpancing emosi dan berteriak, tapi energi suaranya menembus Maleo seperti angin. Maleo masuk ke tanah, keluar di belakang Murai dan tangan Maleo menembus perut Murai.
"Aku bunuh 25 kesatria terbaik Anunika dalam sekali waktu. Membunuhmu lebih mudah dari yang kau pikir Murai..."
"Kalau begitu bunuh aku... bunuh..." Ucap Murai.
"Tidak... kau terlalu berharga untuk mati... aku tahu kau harus diapakan..."
"Kalian berdua tidak bisa ada di unit perang yang sama!" Ucap Elang.
"Aku tidak butuh saran kalian" ucap Maleo.
Tangan yang lentik muncul dari belakang Elang dan Rajawali, membaca mantra lalu membuat sang Panglima dan Adipati itu tersihir. Mereka mematung dan mata mereka bercahaya merah.
Cahaya merah mengelilingi perkemahan prajurit Ananta itu. Seekor rubah mendekati Murai dan Maleo. Melayang di udara seperti roh dan tampak membara seperti api.
"Kau minta ku bunuh kan? Ini untukmu Murai" ucap Maleo.
Maleo mencabut jantung Murai dan memberinya ke rubah itu.
Arwah Rubah itu membentuk menjadi seorang pria dengan rambut dikelilingi api merah yang menyala. Pria dewasa dengan jubah merah, telinga rubah dan dikelilingi api sihir merah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ahhhh jantung segar kesatria yang hebat... Ammm" manusia rubah itu memakan jantung Murai.
Murai terjatuh dan mati ditempat.
"Kita punya perjanjian Ruah.." ucap Maleo yang penuh darah.
"Iya sayang..." Ruah membuka jubah Maleo "Aku butuh bayaran di awal..."
Maleo berbaring di samping mayat Murai dan Ruah si dukun Rubah mencium bibirnya. Mereka melakukan hubungan badan di atas Darah Murai yang keluar dari dadanya yang bolong.
"Huahahhaah" Ruah tertawa menikmati kejantanan Maleo di lubangnya "Sihir gelap, bulan purnama, pengorbanan Kesatria, persetubuhan terlarang. Datanglah kepadamu sihir terlarang, sihir terhina, sihir terkuat dari neraka"
"Enghh cepat sebelum ada yang lihat" ucap Maleo yang menggenjot dukun itu dengan kuat.
"Ssshhh batang perjaka memang luar biasa .. Ahahahahah" Ruah tertawa girang... Api keluar tubuhnya dan api-api melayang menuju semua prajurit Ananta disana "Tidak akan ada yang melihat, karena yang melihat, hanya akan patuh kepada kita..."
"ohhhh" Ruah klimaks karena Maleo... Matanya menyala dia melayang dilangit dan membuat api-apinya masuk ke otak para prajurit, termasuk Elang, Rajawali, bahkan Semino di tenda Pangeran.
"Kalian akan kembali ke Ananta... sebarkan bahwa Murai dan Maleo mati dalam perang... Kembali dan bawa pesan Maleo untuk melupakannya..."
Ruah turun dari langit dan Murai bangkit tanpa hati. Menjadi mayat hidup yang mengabdi kepada sang dukun...
"Bayaranmu ku terima Maleo" ucap Ruah.
Maleo memakai jubahnya lagi "Lalu... tunjukkan padaku cara membatalkan Kutukan Luka"
"Hmmm aku butuh bayaran lagi" ucap Ruah..
"25 kepala ini tak cukup?"
"Kau tahu sihir gelap butuh banyak pengorbanan, dan membatalkan kutukan luka, butuh lebih dari 25 kepala sayang..." Ucap Ruah dan mengelus otot perut Maleo.