18. Bukan Cintanya yang salah

136 8 39
                                        

Setahun setelah Penerimaan Prajurit Baru

Dari pagi hingga siang Murai dan Bangau melatih kombinasi sihir mereka di arena. Bangau melukis di kipas tangan, dia lakukan citra dan saat mengibaskan kipas, belati tajam keluar dari kipas itu. Murai berteriak sehingga belati tadi melesat seperti peluru dan menancap di 10 boneka perang di depan mereka. Kombo itu mereka sebut serangan tinta dan suara. Selain belati, sihir Bangau juga memungkinan hal-hal lain keluar dari kipas yang dia kibas. Ular beracun, besi tajam, duri, bahkan jaring perangkap.

"Hanya 7 yang kena kepala" ucap Murai kesal "Harusnya kau keluarkan lebih tepat Bangau. Kibaskan kipasnya agak lebih tinggi..."

"Mungkin teriakanmu yang membuatnya melenceng dari jalur" Bangau membela diri "Lagipula lihat, dari 10 hanya 2 yang menembus masuk ke kepala. Sisanya hanya setengah masuk, musuh dengan helm perang tidak akan mati dengan serangan ini. Kenapa? Karena teriakanmu kurang kuat sehingga tusukannya kurang dalam"

"Jangan sebut kicauan ku teriakan" ucap Murai "Itu Ki-Cau-an"

Mereka berdebat sampai latihan selesai. Murai kesal karena selama mereka menjadi bawahan perang bersama para Senior. Bangau mengalahkan lebih banyak musuh darinya. Bangau lebih hebat dalam berperang. Saat kuda perang mereka Mati Bangau hanya perlu melukis untuk membuat yang baru. Ditambah bila ada tim penyembuh, darah dan energi Bangau bisa tanpa batas. Saat prajurit terluka, Bangau menyembuhkannya. Saat terdesak, Bangau tinggal keluarkan naganya. Nilai Bangau terlalu jauh untuk Murai susul.

Kalau begini jabatan Panglima Muda akan Bangau dapatkan, pikir Murai.

Sore harinya Bangau diminta menemui Rajawali di ruangan atasan. Elang dan Rajawali ada di ruangan itu untuk memberikan evaluasi pelatihan dan kinerja perang Bangau selama pendidikan. Murai menggunakan pendengaran burungnya untuk menguping.

"Apa yang kau incar Bangau?" tanya Rajawali lembut "Kau bisa menyembuhkan seperti Ukino, Kau bisa menyerang seperti Semino, kau bisa menyihir seperti Bumantara. Citra dan Sastra adalah sihir langka dari turunan Adikarya yang punah. Kau punya keduanya... Kau terlalu hebat hanya untuk jadi prajurit Bangau"

"Lalu aku bisa apa? aku bisa ada disini sudah sangat kusyukuri Patih" jawab Bangau.

"Kau dapat memfokuskan kemampuanmu untuk jabatan yang lebih baik lagi Bangau" ucap Elang "Kuatkan seranganmu, kau bisa menjadi Panglima. Kuatkan sihirmu kau bisa jadi pelindung Raja. Atau kau bahkan bisa jadi pimpinan akademi dengan pengetahuan mu. Kau punya kemampuan yang sangat-sangat serbaguna. Mumpung kau masih muda, kau bisa menentukan karir yang kau mau"

"Tapi tetap kelebihanku datang dengan kekurangan. Aku butuh darah, aku harus melukai diri, Sastra dan Citra juga bukan kemampuan instan. Aku butuh waktu untuk melukis dan menulis. Aku juga butuh alat dan bahan, kuas, kanvas, kertas. Serbaguna-ku datang dengan kerumitan"

"Tapi daripada punya 10 petarung yang sederhana. Bukankah lebih baik keluarkan satu naga walaupun itu rumit?" tanya Elang.

"Kekuranganmu adalah kepercayaan dirimu Bangau. Kau meremehkan kemampuanmu, kau tidak setara dengan rekan-rekanmu yang lain. Kau hebat, luar biasa, kau bisa jadi apapun yang kau mau nanti. Dan tugas kami membimbingmu ke posisi itu"

"Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku ingin Murai dapat menjadi Panglima, dan aku mungkin jadi penasihat Raja seperti kalian berdua"

TINTA DAN DARAH . Danau Pelangi (Special Request)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang