17. Rasa Sakit yang Kupilih

164 14 27
                                        

17 Tahun
•• ━━━━━ ••
Kau adalah Rasa Sakit yang kupilih
Kau adalah Luka yang kubuat dengan sadar
•• ━━━━━ ••


PLAKKK

Ayah Murai menampar Murai sangat keras sampai pipi Murai merah dan hidungnya berdarah. Dirinya ketahuan sedang bermesraan bercumbu bersama Bangau di kamarnya. Sang Ayah melihat kejadian itu dan langsung mengamuk. Murai mengira ayahnya akan menginap di perjalanan namun ternyata pulang lebih awal dari perkiraan.

Benar... Murai dan Bangau sempat dekat bahkan sebelum mereka menjadi prajurit Ananta. Mereka kenal dari usia kecil, sangat dekat, saling suka, dan berakhir ketahuan menjalin hubungan oleh Ayah Murai yang sangat konservatif. Hubungan yang terbentuk bertahun-tahun, mereka sembunyikan dari semua orang, kini terbongkar.

"Anak sialan!!! Berani-beraninya kalian melakukan itu di rumahku!!" Ayah Murai menendang Murai sampai sang anak menghantam dinding, Murai tidak melawan dan membiarkan sang ayah menghajarnya.

Bangau di atas ranjang Murai memakai pakaiannya dan ketakutan melihat amukan ayah Murai.

"Kami saling mencintai Ayah" ucap Murai menahan rasa sakit.

"CINTA? DIA LELAKI MURAI!" Bentak sang ayah dan mengambil sebilah pedang.

"Kumohon jangan Sayang..." Ibu Murai menahan sang suami untuk menusuk perutnya sendiri.

"Lebih baik aku mati. Aku tidak Sudi memiliki anak menyimpang seperti dia. Dia harusnya menjadi Kesatria, dia harusnya mengangkat pedang untuk Raja dan berperang. Bukannya menjadi Pria yang menyukai Pria lain" ucap Ayah Murai marah "KALIAN BERDUA PRIA RUSAK!!"

"Kalau begitu ayah bunuh saja aku. Aku tidak bisa menghentikan cintaku kepada Bangau yah. Bila aku hidup dan harus terpisah dengannya atau berpura-pura tidak mencintainya... Lebih baik aku mati" Ucap Murai tegas, membusungkan dada melawan sang ayah.

"Aku menjodohkanmu dengan Putri Dara Murai. Peramal hebat titisan dewa burung hantu, Bangsawan suku pegunungan yang pasti mensejahterakanmu. Dan kau malah meniduri Anak Lemah ini, keluarga pelukis miskin ini MURAI!!!" Ayah Murai memukul kepala Murai dengan gagang pedang lalu menjambak Murai dengan sangat kasar.

"Paman, jangan sakiti Murai" ucap Bangau.

"KAU BRENGSEK, BANCI!! KAU PASTI MENGGODA MURAI HINGGA DIA MENJADI MENJADI TIDAK WARAS DAN MAU MENIDURIMU KAN??" Maki Ayah Murai "Kau membuat anaku menyimpang!!! Semua orang tahu kau menyimpang bangau, jangan hasut anakku menjadi sepertimu"

"Ayah!! Bangau adalah kesatria hebat. Sihirnya setara para Petapa, Dia mampu melakukan Ritual Darah dan dia bahkan lebih kuat dari semua orang di keluarga kita" ucap Murai "Jangan rendahkan dia, karena bila ayah merendahkannya, ayah berarti merendahkanku"

"Kau pasti menyihir anakku!!"

Ayah Murai bersiap menghunuskan pedang ke Bangau. Murai menahan pedang itu dengan tangannya. SRAKKK, pedang itu memotong jari manis dan kelingking Murai. Darahnya mengalir, sang ayah panik karena sang anak mengorbankan diri demi anak lelaki lain.

Bangau yang panik mengeluarkan kertas yang sudah dia simpan untuk keadaan darurat.

Kertas bertulis kata "-pingsan-" yang dia letakkan ke kaki Ayah Murai.

"..Sastra..." Ucap Bangau. Sihir dari kertas itu pindah ke Ayah Murai setelah sastra berhasil dilakukan.

Brukk, Ayah Murai terjatuh dan Sang Ibu langsung memindahkan Murai untuk diobati. Tangan Murai kehilangan dua jarinya terkena tebasan pedang. Bangau menulis kalimat "Sembuh seperti semula" dan menempelkan jari yang jatuh ke tempat asalnya lalu dia balut dengan kertas sastranya.

TINTA DAN DARAH . Danau Pelangi (Special Request)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang