16

1.9K 75 5
                                        

Nayara memandangi wajah pria dihadapan nya. Dalam keheningan kamar, pikiran nya larut. Perasaan nya campur aduk. Harusnya dia senang, ego nya menang. Papa akan murka mengetahui hal ini karna dia takkan bisa bertindak apa-apa. Tian membawa nya ke dalam ranah yang tak bisa di jangkau Candra.

Jika Candra menemui Tian, dia akan di gosipkan sengaja menitipkan Nayara di perusahaan nya. Jika dia menemui Tian di rumah nya, istri nya akan tahu, keluarga istri nya akan tahu, kemungkinan mereka akan menyebarkan nya dan menganggu pemilu, Camdra akan rugi besar.

Freya benar, bersama Tian adalah bentuk balas dendam yang paling puas. Tak pernah dia merasa se-senang ini saat membuat Ayahnya kesal.

Namun di sisi lain, Nayara bisa merasakan kesulitan nya dalam mengatur perasaan. Tiap detik, perasaan nya kian dalam dan kian jelas walau ia sudah berusaha menepis dan menyangkal nya sekuat mungkin.

Nayara menolak untuk menyadari bahwa dia sudah jatuh terlalu dalam pada pesona seorang Christian.

Seorang pria yang membuktikan semua ideologi nya tentang Cinta dan Pernikahan adalah sampah, adalah benar.

Setia itu tidak ada.

Lucu nya, Nayara malah jatuh cinta pada pria ini.

"Enjoy your view?"

Nayara menaikkan kedua alisnya, terkejut. Lalu tersenyum geli, tangan nya terangkat menghelus wajah pria itu. Lebih mengejutkan lagi Tian langsung meraih tangan Nayara dan mengenggam nya hangat. Apalagi ketika dia malah menciumi punggung tangan nya.

Nayara bisa merasakan tubuhnya mematung. Tindakan Tian bisa membuat jantungnya keluar dari tempat. Karna saat ini jantung Nayara berdetak tak karuan sampai rasa nya Tian akan mendengarnya.

Bersamaan Pipi Nayara memanas.

Siapa yang tahu Tian bisa selembut ini setelah semua keganasan nya tadi malam?

Kelopak mata Tian akhirnya terbuka, netra kebiruan itu menatap wajah Nayara. Ia diam, memperhatikan gadis itu membuat Nayara bertanya-tanya, apakah ada yang salah di wajahnya.

Namun pertanyaan itu berhenti ketika Tian tersenyum lalu mencium bibirnya sekilas. "You're so pretty in the morning."

Nayara mengerjapkan matanya beberapa kali, tak percaya ucapan itu akan keluar dari mulut seorang Tian. Lantas ia memukul lengan pria itu membuat sang empunya malah tertawa geli.

Morning kiss is not necesarry.

"Gombalan sampah, tahu ngga?!"

Tian meraih tangan Nayara dan menahan nya agar tidak memukuli nya, ia masih tertawa geli. "Tapi pipi kamu merah karna gombalan sampah itu, Nay."

"Apasih." Nayara kalah malu, ia menarik paksa tangan nya dan melipatnya depan dada. Ia berusaha untuk marah tapi bibirnya tak bisa ia tahan untuk tidak tersenyum.

Tian menarik tubuh Nayara ke dalam dekapan nya. Sesuatu yang diluar batas wajar bagi Nayara. Karna, jika Nayara hanya sebatas pemuas nafsu nya. Tian tidak perlu bersikap seperti ini, tidak perlu memberi nya semua ini,

He doesn't need to give her affection.

Detakan jantung itu kembali terdengar. Nayara yakin Tian bisa mendengarnya tapi pria itu mengindahkan nya dan malah sibuk menenggelamkan wajahnya ke balik leher Nayara.

"Berangkat bareng?"

Suara Tian terdengar begitu rendah. Itu adalah titik lemah Nayara. Karna semakin rendah suara nya maka akan semakin dalam Nayara terbawa suasana.

Nayara menelan ludahnya kasar, mencoba bersikap biasa saja. Untunglah Tian tidak bisa melihat wajah merah padam Nayara. "Gausah. Kalo dilihat karyawan lain, gimana?"

HIS SINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang