25

981 58 12
                                        

Nayara mengusap air matanya saat merasakan ada atensi lain yang melangkah masuk ke halaman belakang saat dirinya sedang duduk di pinggiran kolam dan menumpahkan air matanya yang sejak tadi tertahan dalam diam.

Nayara menarik napas panjang saat orang itu duduk disampingnya. "Kamu gapapa, sayang?"

Nayara menoleh dan memasang senyum terbaiknya kepada wanita terkuat yang pernah ia kenal dalam hidupnya. "Aku gapapa, Ma."

Mama menarik Nayara ke dalam rangkulan nya yang ditanggapi Nayara dengan spontan menyandarkan kepalanya ke pundak sang dewi itu. Mama mengusap lengannya lembut, "Mama senang kamu akhirnya tinggal dirumah lagi." Nayara diam mendengarkan. "Tapi Mama juga bangga waktu kamu berani pergi dari rumah."

"Andai Mama seberani kamu."

Nayara merasakan tubuhnya merinding mendengar penuturan sang Ibu. Yang dia tahu, wanita yang melahirkannya itu hidup dalam penuh penderitaan. Dia cuman boneka bagi Ayah dan Suaminya. Atensi dan perasaan nya tak pernah di anggap penting. Walaupun Mama adalah wanita yang ia idolakan namun Nayara menolak untuk hidup sepertinya.

"Untuk naikin suara depan Kakek kamu saja, Mama ga berani." Mama tersenyum kecil. "Apalagi menentangnya."

"Harusnya Mama berani galak sama Papa biar dia ga keganjenan." Ujar Nayara dalam pelukannya yang membuat Mama terkekeh geli. Bagaimana bisa wanita itu tertawa setelah semua yang dia alami.

Bukan satu atau dua kali ada perempuan datang ke rumah dengan baik-baik ataupun bar-bar meminta pertanggung jawaban Candra dari kepuasan yang dia bayar. Entah bagaimana Mama bisa mengatasinya.

"Papa kamu itu paling sayang sama kamu, tahu ngga?"

Nayara mengerutkan hidungnya. "Sayang apaan."

Mama terkekeh lagi. "Mungkin emang dia gatahu cara nunjukin kasih sayangnya. Kamu tahu sendiri, Papa ga pernah punya Ayah, dia gatahu gimana ngasih tahu kalian kalau dia sayang kalian semua."

"Kalau dia sayang, dia ga maksa aku nikah sama kader-kadernya. Mas Satria juga bisa lanjut belajar musik daripada ngikutin kemauan Papa yang nyuruh dia ikut blusukan ambil hati rakyat." Bantah Nayara.

Mama mengusap lengan Nayara lembut. "Kalau Papa ga sayang kamu, Papa ga mungkin biarin kamu yang nentuin hubungan kamu sama Tian."

Nayara merasakan tubuhnya menegang dipelukan Mama. Ia yakin pun wanita ini juga merasakan ketegangan tubuhnya. "Papa mungkin berpikir dia selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya walaupun itu menyiksa." Dia diam sejenak, "Tapi Papa juga tahu perasaan anaknya gabisa dipaksa."

Nayara menarik tubuhnya dan menatap Mama dengan tatapan kebingungan sedangkan yang ditatap hanya melemparkan senyum.

"Kenapa Mama selalu belain dia? Papa udah berkali-kali nyakitin Mama." Nayara tak sanggup menaikkan suaranya dihadapan wanita itu. "Dia bahkan juga ga peduli kalau kita mati—"

"Papa mungkin gagal jadi suami," Mama memotong sambil meraih wajah Nayara dan menghelusnya. "Tapi dia berusaha jadi Ayah yang baik."

Mama tersenyum. "Kalian adalah segalanya buat Papa."

"Bahkan jika hubungan kamu dengan Tian akan memengaruhi nama baiknya," Mama mencubit pipi anaknya gemas. "Papa ga peduli, kalau kamu memang mencintainya."

Nayara menelan ludahnya kasar saat merasakan pandangannya kembali memburam. Nayara memaki, kenapa dia gampang sekali tersentuh satu harian ini dan kenapa air matanya gampang sekali untuk muncul ke permukaan.

Melihat itu, Mama langsung kembali menarik putrinya ke dalam pelukan hangatnya.

Tangis Nayara langsung pecah dipelukan Ibunya. Dia seperti menumpahkan segala hal yang selama ini ia pendam dalam-dalam ke bahu wanita itu. Sebuah pelukan yang meringankan dendam belasan tahun lamanya.

HIS SINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang