Mas Satria : Hati-hati, Papa lagi ke tempat lo.
Nayara berdecak membaca pesan dari sang Kakak. Kenapa seolah-olah masalah memang sengaja menghajarnya ditempat. Belum ada satu hari Nayara beristirahat untuk cepat sembuh dari demam yang melanda. Satu penyebab pusing kepala malah datang.
Nayara mencari nomor Ibu Kostnya seraya berjalan menuju pintu, hendak mengunci nya. Ia meminta sang pemilik tempat untuk melarang sang Ayah masuk ke perkarangan Kost.
Papa mungkin akan bertahan beberapa saat namun ia pasti akan menyerah dan pergi. Masa Pilkada akan membuatnya enggan menarik perhatian publik.
Saat tangan Nayara sudah terangkat meraih kunci pintu, saat itu juga pintunya terbuka.
Beberapa pria berpakaian hitam mengelilingi pria yang memakai kemeja putih dengan pin merah putih di dada nya. Nayara menelan ludahnya kasar.
"Neng." Pria yang membuka pintu menunduk sekali sebelum akhirnya menyingkir dari hadapan gadis itu dan menampilkan Prabu, berdiri disana, menatapnya tajam.
Seketika Nayara merasakan napasnya tertahan.
Tatapan Prabu seakan bisa membunuhnya. Untuk pertama kali nya, Nayara takut.
Kedatangan Tian dalam hidupnya memang membawa banyak perubahan. Termasuk mengecilnya nyali Nayara menghadapi sang Ayah.
Prabu melangkah masuk membuat Nayara spontan mundur seiring langkah pria itu. Tubuhnya yang tinggi seakan mendominasi ruang untuk Nayara agar tak bisa bernapas bebas.
Apalagi ketika pintu ditutup oleh penjaga Prabu dan menyisakan berdua di sana.
Nayara menelan ludahnya kasar.
Tamat riwayatnya.
Tatapan Prabu seperti nyala api yang menatapnya penuh amarah. Bahkan dari deruan napasnya, siapapun tahu amarah pria itu sudah ada di pucuk kepala nya. "Apa hubungan mu dengan Christian?"
"Apa?" suara Nayara hampir tak terdengar.
"Apa," suara Prabu meninggi. "Hubungan kamu dengan suami Diana itu?!"
Diana. Nayara baru tahu nama istri dari pria itu. Sialan, bahkan namanya terdengar begitu manis dan menjelmakan seorang perempuan cantik bak bidadari.
"Pa, Papa ngga berhak—aw!"
Nayara meringis kesakitan saat sang Ayah menarik pergelangan tangan nya dan mencengkramnya kuat. Seakan ingin mengalirkan seluruh amarahnya ke cengkraman ini.
"Papa selalu membiarkan mu melakukan apapun yang kamu mau, Nayara. Papa biarkan kamu hidup dalam kebebasan mu. Kurang sayang apa Papa sama kamu?!"
"Sshhh, Pa ..." Nayara terus meringis kesakitan.
"Tapi dengan Christian—" Prabu tak bisa menahan kekecawan dan amarah yang menyatu dalam dirinya. "Kamu tahu Ayah Christian itu siapa?"
Nayara menatap sang Ayah di tengah kesakitan nya, ia jadi penasaran. Seketika jantungnya berdegub kencang. Ia mulai menebak-nebak.
Prabu menggertakkan giginya. "Ayahnya adalah seorang Gubernur, Nayara! Gubernur!"
Nayara hampir tersungkur saat Prabu melepaskan cengkraman tangan nya. Nayara meraih bekas cengkraman pria itu dan mendapati tangan nya membiru. Bersamaan dengan jantungnya yang hampir berhenti.
"Kamu tahu bagaimana reaksi masyarakat jika mereka mengetahui ini?! Kamu tahu bagaimana dampak nya ke Pilkada, hm?! Kamu bilang kamu mau membela hak anak Panti Asuhan tapi kamu malah mencoba mencelakai Papa yang mau mempertahankan hak mereka!" Prabu menatapnya nyalang. "Ada kamu kepikiran sampe sana?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS SIN
General Fiction"I am his sin." Nayara, perempuan muda, berbakat, centil dan menggemaskan takkan pernah mengira akan punya sekelibat hubungan dengan atasan tampan di saat istri nya sedang hamil.
