Nayara menghela napas. Ia melipat tangan nya sambil bersandar ke dinding memperhatikan punggung Papa yang sedang berhadapan dengan seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan rahang tegas dan bola matanya berwarna biru laut itu.
Dia tidak tahu harus bereaksi apa dengan kedatangan pria itu ke rumahnya yang terhitung nekat. Skandal masih marak-maraknya diluaran sana. Pemilu hampir tiba. Nayara yakin dia juga dapat tekanan dari keluarganya namun entah alasan apa yang membuatnya kini berhadapan dengan Papa.
Tian meliriknya. Saat itu juga tubuh Nayara menegang. Tatapan nya seperti mengalirkan aliran listrik yang mampu menyengatnya.
"Umur kamu jauh lebih tua dari Nayara tapi tingkahmu sama saja kekanak-kanakan." Papa mengomentari tindakannya. Nayara berdecih pelan, baru lima menit yang lalu dia bilang keterbalikan nya.
Tian menunduk sekali. "Saya tahu," ia diam sejenak, "Tapi saya berpikir, kalau bapak dan Nayara mengetahui ini lebih cepat."
Pintu terbuka, menampilkan Mama dan Mas Satria berjalan masuk ke dalam ruangan. Mereka menatap Nayara, melemparkan tanda tanya dari tatapan namun Nayara hanya bisa menaikkan kedua bahunya acuh.
Mereka duduk sejajar dengan Papa.
Papa melipat kedua tangan nya di depan dada. "Mengetahui apa?"
Tian mengulum bibirnya. Sekali lagi ia melirik ke arah Nayara membuat gadis itu menelan ludahnya kasar. Nayara merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Ia tak tahu apa yang pria ini akan lakukan.
Tian kembali menatap Candra yang duduk dengan gagah dihadapan nya, menatapnya tegas dan penuh intimidasi khasnya pemilik kursi Senayan. Siapapun akan ciut melihat tatapan itu. Tapi tidak untuk Tian. Perasaan nya untuk Nayara mematikan ketakutan yang ada di dalam dirinya.
"Saya tahu saya salah saat saya dengan sadar menjalin hubungan dengan Nayara. Saya pria beristri dan Nayara perempuan yang menanggung popularitas Ayahnya. Hubungan kami hanya membawa dampak buruk bagi kedua pihak. Tapi," Tian mencengkram erat ujung kemeja nya. Ia menarik napas panjang. "Saya juga tahu bahwa perasaan saya nyata adanya untuk Nayara dan saya enggan mengakhirinya."
DEG !
Nayara hampir saja luruh dari sandarannya di dinding mendengar ucapan Tian yang tidak hanya mengejutkan dirinya tapi juga semua orang yang ada disana. Mas Satria dan Mama saling pandang lalu melirik ke belakang, ke arah Nayara yang juga sama shocknya.
Sedangkan Candra tak memberikan reaksi apapun.
"Saya siap merelakan semuanya dan menghadapi segala risiko jika saya memilih Nayara." Tian menatap Candra tanpa ada keraguan apapun. "Karena yang saya tahu, saya tidak mau menjalani kehidupan yang tidak ada Nayara di dalam nya."
"Jika hanya," Tian melanjutkan. Kini dengan kepalanya yang menunduk dalam. "Bapak mengizinkan."
Suasana berubah lebih seram. Atensi Satria dan Mama terfokus pada Candra yang masih saja tak menunjukkan reaksi apapun sedangkan Nayara, dia hampir tak bisa menarik tatapan nya dari pria yang masih menunduk itu.
Keheningan juga menyerang. Candra diam untuk waktu yang sangat lama membuat detak jantung semua orang menjadi tak terkendali.
Candra tampak besar dan menyeramkan. Ia seperti menggunakan kebiasaan nya di rapat paripurna ke ruangan ini.
Keterdiaman Candra yang cukup lama membuat Nayara akhirnya bisa mengalihkan perhatian nya dan menatap punggung sang Ayah. Bahkan, dari belakang pun, aura kekuasaan Candra menyeruak kemana-mana.
Mas Satria berdeham, "Kami mengapresiasi keberanian Mas Tian. Tapi dikeadaan seperti ini, sangat sulit untuk mengambil keputusan. Ada banyak mata yang sedang tertuju ke Papa dan Nayara. Juga ada banyak hal yang harus dibicarakan," Satria menatap Candra sebentar lalu kembali menatap Tian. "Tidak dalam situasi seperti ini."
"Saya mengerti," Tian tersenyum kecil. "Saya sanggup menunggu sampai kapanpun."
"Pak Jati tahu soal ini?" Candra akhirnya bersuara, suaranya bahkan terasa seperti bilah pisau yang siap menancap dimana dan disiapa saja.
Ketegangan ikut menyerang yang ada diruangan itu.
Tian diam sejenak. Ia mengulum bibirnya. "Tahu."
"Apa responnya?" Tanya Candra singkat namun Nayara yakin kaki Tian sedang bergetar sekarang.
"Dari awal Papa ga peduli dengan pernikahan ku dengan Diana. Jadi, jika saya harus bercerai pun, dia juga ga peduli." Tian menelan ludahnya. "Soal skandal ini, dia hanya menyuruh saya untuk mengurusnya sendiri."
"'Mengurusnya sendiri' yang kamu tangkap adalah datang ke hadapan saya dan meminta Nayara tepat dimata saya daripada memikirkan cara bagaimana skandal ini bisa meredam?" Tanya Candra tegas sambil menaikkan satu alisnya.
Skakmat. Tian mati kutu. Dia tak punya jawaban untuk pertanyaan Candra. Pria itu seperti sedang menunjukkan bahwa dia memang seorang pemegang kursi pemerintahan.
"Kita bisa memikirkan ini setelah Pemilu." Mama akhirnya menengahi sebelum ketegangan ini berlanjut lebih parah. "Ada banyak yang harus dikerjakan. Saya harap, urusan perasaan ini bisa di kesampingkan dahulu."
"Aku setuju." Suara Nayara menarik semua perhatian yang ada di ruangan ini. Nayara menarik tubuhnya dari sandaran dan melangkah mendekat, ia tak memutuskan tatapan nya dari Tian hingga ia berdiri tepat dibelakang Candra dengan tangan terlihat di depan dada. Dari sudut penglihatan Tian, mereka berdua seperti kloningan. "Di Pemilu ini, Papa merjuangin banyak hal. Termasuk Panti Asuhan yang menjadi prioritas ku sekarang. Bukan skandal," Nayara menatap Tian lekat-lekat. "Bukan perasaan."
"Jadi," Nayara mengeraskan rahangnya. Dia sudah tahu dari awal mengambil keputusan seperti ini sama saja menyakiti dirinya. Bohong jika dia tidak kesenangan mengetahui Tian berani menunjukkan kehadirannya dan menyatakan perasaan serta keseriusan nya tapi kali ini Nayara tak membiarkan perasaan menang. Karna sekali dia membiarkannya, Nayara disumpah serapahi satu negara. "Kita bisa bahas ini nanti. Mungkin sesudah," Nayara mengulum bibirnya. "Atau sebelum Pemilu."
Nayara menatap Tian, seakan berbicara melalui tatapan tanpa bahasa. Ada banyak perasaan yang terungkap disana. Tentang keduanya. Itu membuat Nayara merasa sesak. Matanya terasa perih tak lama kemudian pandangannya memburam. Sebelum pria itu menyadari kehadiran air matanya, Nayara langsung berbalik dan berjalan menuju pintu. Buru-buru ingin meninggalkan ruangan itu dan segala luka nya.
"Keputusan saya," Tangan Nayara yang sudah ada di kenop pintu terdiam begitu mendengar suara Candra. Nayara tak mengubah posisinya namun kepalanya melirik sedikit. "Tergantung pada Nayara."
Ini kedua kalinya Candra membuat Nayara mematung ditempat dalam hari ini. Tak biasanya Candra menyerahkan keputusan besar padanya.
"Ini tentang perasaan kalian berdua walau dari cara yang salah. Tidak ada politik di dalamnya jadi saya tidak punya hak untuk mencampurinya." Candra menghela napas.
"Tapi saya peringatkan," Candra seperti menatap Nayara dari tempatnya, "Hubungan kalian akan ditentang habis-habisan."
Tian menatapnya yakin. "Saya akan mengatasinya, saya berjanji."
Candra menatap Tian lekat-lekat untuk menemukan keseriusan dari balik matanya kemudian menghela napas sekali lagi lalu melirik ke belakang. Nayara diam disana untuk beberapa detik sebelum akhirnya menarik pintu dan pergi dari sana.
HAI HAI, satu chapter sebelum tamat lohh!!!
Happy end atau Sad end yaaa hmmzzz
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS SIN
General Fiction"I am his sin." Nayara, perempuan muda, berbakat, centil dan menggemaskan takkan pernah mengira akan punya sekelibat hubungan dengan atasan tampan di saat istri nya sedang hamil.
