"Dijebak atau Terjebak?"
"Kehadiran Christian, Putra bungsu Gubernur di Apartemen Putri Candra menimbulkan tanda tanya besar."
"Kejanggalan yang Terjadi Pada Putra-Putri Pejabat. Benarkah Perselingkuhan?"
"Perselingkuhan atau Persengkongkolan untuk Memenangkan Candra?"
"Istri Hamil Besar, Christian Malah di Temukan Berada di Apartemen Perempuan Lain."
Nayara menoleh ke arah Ponselnya. Ratusan bahkan ribuan notif dari teman-teman nya terutama Freya dan Anna menyerang membuat ponselnya tak berhenti bergetar. Ia lantas mematikan ponselnya untuk sementara dan kembali menatap ke depan, ke layar televisi yang menampilkan rekaman tadi pagi, saat ia terciduk sedang bersama atasan nya.
Semua keluarga nya kumpul disana, termasuk beberapa kolega Ayahnya. Mama dan Mas Satria duduk di dekatnya, seakan sudah bersiap akan melindunginya dari amukan sang Ayah. Sedangkan adiknya dipaksa masuk kamar agar terhindar dari segala kemungkinan ancaman.
"Ini membuat Prabu untung." Celetuk kolega Candra disana.
"Kita harus segera klarifikasi."
"Itu hanya membuktikan semua tuduhan nya benar."
"Tapi, itu memang benar 'kan?"
"Christian itu atasan nya, wajar kalau mereka bertemu."
"Wajar kalau ditempat lain, bukan di Apartemen."
"Kau juga sering rapat di Apartemen."
"Ini beda konteks."
"Sama—"
"Berhenti berdebat." Pak Erwin memotong percakapan para kolega disana. Semua atensi terarah pada nya. Nayara kenal dia, dia adalah ketua Partai yang menaungi nama Ayahnya.
Seketika ruangan menjadi hening. Pak Erwin menunjukkan kekuasaan nya yang membuktikan kenapa dia pantas menjadi pemilik partai besar.
Pria itu menatap Nayara yang dibalas gadis itu tanpa rasa takut.
Dan itu membuat Pak Erwin tersenyum kecil.
Dia seperti melihat dirinya sendiri. Bernyali besar, tanpa rasa takut bahkan ketika ancaman ada di depan mata.
Sifat yang harusnya dimiliki oleh para Politikus.
Pak Erwin menghadapkan tubuhnya ke arah Nayara membuat Candra merasakan jantungnya berdetak dua kali lipat dan berharap kali ini Nayara tidak melakukan hal fatal.
"Beritahu kami, Nayara." Pak Erwin bersuara lembut, "Beritahu kami kebenaran nya."
Nayara diam, semua perhatian terpusat ke arahnya. Semua pasang mata seakan sedang menodongnya dengan pistol. Termasuk Mama dan Mas Satria. Dua orang yang ingin melindunginya pun juga ingin tahu kebenaran nya.
Tatapan Nayara terlihat datar, dia tetap tidak takut dengan semua ancaman dihadapan nya. Ia hanya duduk bersandar dengan santai dengan satu kaki diatas kaki yang lain. Dia dikatakan keterlaluan santai.
Nayara memperhatikan satu-satu pasang mata yang ke arahnya, menebak-nebak jawaban apa yang mereka inginkan dan dia menemukan banyak jawaban yang berbeda. Sampai akhirnya mata nya bertemu dengan mata elang yang mirip dengan nya.
Mata kecoklatan yang diturunkan kepada nya, mata yang selalu ia benci sepanjang hidupnya. Nayara menelisik, ingin tahu jawaban apa yang ingin Ayahnya dengar dari mulutnya.
Seketika tubuh Nayara menegang. Ia tidak sesantai sebelumnya begitu mengetahui jawaban yang diinginkan Candra darinya.
Ayahnya menginginkan nya berkata jujur.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS SIN
Tiểu Thuyết Chung"I am his sin." Nayara, perempuan muda, berbakat, centil dan menggemaskan takkan pernah mengira akan punya sekelibat hubungan dengan atasan tampan di saat istri nya sedang hamil.
