"Sudah saya transfer."
Nayara menatap layar ponsel yang ditujukan kepada nya kemudian melirik sang pemilik ponsel. Ia hanya diam memandangi wajah pria itu. Dia memakai seragam perwira nya tanpa takut tersorot kamera atau terancam rumor apapun karna menemuinya, gadis yang tengah dilanda skandal besar-besaran.
"Om ga harus kirim ke aku, Om bisa kirim langsung ke pangasuh Panti nya."
Pria dihadapan nya menghela napas sejenak. Dia menatap Nayara lekat-lekat. "Saya orang yang berada dilingkungan pak Prabu. Kalau ada yang mengetahuinya, akan mengundang banyak pertanyaan masyarakat."
"Karna om Prabu orang yang mengusulkan perpindahan Panti?" Nayara bertanya sambil menaikkan satu alisnya.
Theo lagi-lagi menghela napas, enggan menjawab namun Nayara dapat mengetahui jawaban pria itu. "Kamu bisa mengirimnya ke panti atas nama kamu, itu bisa membersihkan nama kamu setelah skandal ini."
Nayara sedikit kebingungan. "Kenapa Om harus peduli sama skandal ku?"
"Karena Anna peduli sama skandal kamu."
Nayara spontan menaikkan kedua alisnya setelah mendengar jawaban pria itu. Sangat mengejutkan. Nayara tidak menyangka pria yang selalu dielu-elukan oleh sahabatnya kini mulai menunjukkan reaksi balik—membalas perasaan Anna.
Sedetik kemudian, Nayara hampir tak bisa menahan senyum nya. Ia turut senang jika Om Theo, ajudan rival sang Ayah, pria yang selalu disebutkan nama nya kini menunjukkan kegagahan nya sebagai seorang pria—melakukan tindakan untuk Anna.
"Saya cuman minta," Theo kembali bersuara. "Tolong larang Anna untuk datang ke Panti. Saya tahu, dia cuman mendengarkan kamu."
Nayara tersenyum kecil. "Om tahu Anna sekeras kepala itu, kenapa malah mikir dia bakalan dengerin aku? Lagian, aku juga udah matiin semua media sosialku. Aku yakin Om tahu Anna pasti lagi kecarian."
"Kalau pilihannya saya atau kamu, saya yakin dia lebih milih dengerin kamu. Jadi, bisa sekali saja hubungi dia?" Jawabnya yang membuat Nayara ingin tertawa, semua orang juga tahu siapa yang akan Anna pilih jika dihadapkan pilihan itu. "Saya pernah berharap Anna akan mengikuti jalan kamu. Keluar dari lingkungan Ayahnya dengan begitu dia bisa memberi kritik sebebas yang dia mau. Tapi dia memilih tinggal, mengkritik dari dalam. Itu menganggu kestabilan Bapak. Tanpa dia tahu, itu juga menganggu kestabilannya. Saya cuman mau melindunginya."
Nayara menarik napas. Andai pria ini tahu alasan Anna memilih tinggal adalah pria ini sendiri.
"Atau Om berharap selama Pemilu ini, Anna tetap dilingkungan Om Prabu?" Tanya Nayara iseng.
"Saya ga peduli siapa yang menang diPemilu ini, Nay. Yang terpenting, Anna aman." Theo tersenyum kecil. Kali ini Nayara tak bisa menahan senyumnya. Melihat sahabat akhirnya dicintai oleh laki-laki yang sudah lama ia puja kini membalas perasaan nya membuat hati Nayara menghangat, Nayara sangat senang untuk itu.
Theo menarik napas kemudian berdiri dari duduknya. Ia mengulurkan tangan, "Saya harus kembali. Terimakasih atas waktu kamu," Nayara ikut berdiri dan menerima uluran tangan pria itu. "Saya berharap semoga skandal nya segera meredam."
Nayara tersenyum menanggapi. "Terimakasih banyak, Om. Aku bener-bener menghargai dan mengapresasi semua yang Om lakukan." Namun sedetik setelahnya, uluran tangan Nayara berubah menjadi cengkraman. "Tapi Om tahu apa yang bisa kulakuin kalo Om nyakitin Anna 'kan?"
Theo tersenyum geli. "Ini lebih serem daripada peringatan perang. Tapi saya bisa menjamin saya ga akan ngelakuin hal yang bisa nyakitin Anna."
Nayara tersenyum seraya melepaskan tangan nya. "Great. Have a good day, Om."
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS SIN
General Fiction"I am his sin." Nayara, perempuan muda, berbakat, centil dan menggemaskan takkan pernah mengira akan punya sekelibat hubungan dengan atasan tampan di saat istri nya sedang hamil.
