21

1.2K 61 1
                                        

"Saya udah bilang jangan tinggalin saya."

Nayara menoleh ke belakang, ia melihat Tian yang menggunakan celana kerja dan kemeja putih yang tidak ia kancing, menampilkan sebagian lekuk tubuhnya yang sempurna. Nayara mengangkat plastik ditangan nya, "Aku cuman mau buang sampah."

Nayara membuka pintu Apartemen nya dan keluar dari sana. Dia memang hanya ingin membuang sampah. Bahkan tak sampai lima menit. Ketika dia kembali ke Apartemen, ia melihat Tian masih berdiri di tempat yang sama tanpa bergeser satu senti pun.

"Kamu beneran ngira aku pergi?" tanya Nayara seraya menghela napas.

"Kamu belum cancel surat pengunduran dirimu."

Nayara diam. Tubuhnya langsung mematung dan kepala nya terasa pusing. Semalam, percintaan mereka terasa intens, ada banyak emosi yang terjadi disana. Kesedihan, kekhawatiran, kebahagiaan, ketakutan. Semua bersatu di persatuan tubuh mereka.

Nayara meletakkan sarung tangan nya ke atas meja lalu berjalan melewati pria itu menuju kamarnya. Tian mengikuti nya.

"Nay."

Nayara mengusap wajahnya frustasi. Ia berbalik menatap pria itu. "Kamu mau apa?"

"Kamu." balas Tian cepat.

"You have a wife."

Tian diam, ia menatap Nayara menelisik, seakan pertanyaan itu membuatnya bingung. "It's a problem, now?"

Nayara berdecih pelan, ia menertawakan dirinya. Tanpa sadar, air matanya mulai mengumpul di kelopak matanya.

"Nay ...," Tian menyadarinya dan langsung mendekat, meraih tangan gadis itu namun sang empunya langsung melepaskan nya. Tian terdiam, memandangi luka biru keunguan di pergelangan tangan Nayara lalu menatap gadis itu. "Tangan kamu ...,"

"Papa kemarin kemari." Nayara menatap pria itu. "Dia yang nyuruh aku resign." Nayara bisa melihat keterkejutan dinetra biru pria itu. "Dia nyuruh aku buat putusin semua hubungan ku dengan mu."

Tian kian mendekat hingga ia harus menunduk agar bisa terus menatap netra kecoklatan Nayara.

"You choose him?" Tian mengertakkan giginya. "Kamu memilih laki-laki yang paling kamu benci, Nay?"

Nayara menunduk sejenak, "Kenapa Mas gapernah bilang Gubernur kita sekarang adalah Ayahmu?"

Tian mengerutkan keningnya.

"Papa sedang berusaha untuk menggantikan posisi Ayah mu. Seharusnya, Kita berdua sedang disorot, kan?" Nayara mengeraskan rahangnya. "Tapi kenapa, ga ada satupun media yang ngincer kamu, Mas?"

Keheningan menyerang jarak diantara mereka. Tian memilih untuk menjawab dalam diam, dalam pandangan nya yang lekat untuk Nayara. Suara saja tak cukup, maka keterdiaman nya yang menjawab.

Nayara mengulum bibirnya kemudian mengambil satu langkah mundur. Ia mengangguk samar. "Kamu juga bersembunyi 'kan?"

"Kamu bersembunyi di gedung besar mu itu." Nayara tersenyum kecil, "So, we're the same person."

"Mas—"

"Kalau kamu bertanya, siapa yang akan saya pilih." Tian memotongnya dengan cepat. "I choose you."

Nayara bisa merasakan dunia berhenti berputar untuk beberapa detik begitu telinganya mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya. Dia tidak siap dengan serangan tiba-tiba itu lalu yang bisa ia respon hanya, "huh?"

"I choose you," Tian mengambil satu langkah, mempertipis jarak. "Everyday."

Tian meraih tangan gadis itu dan mengenggam nya hangat. Seakan berusaha menyalurkan keyakinan agar gadis itu bisa melihat keseriusan nya. "Diana, wanita itu ...," Tian menunduk sebentar, ia tampak enggan namun ia tetap ingin menceritakan nya agar Nayara tahu. "Sebelum menjadi istri saya, dia salah satu teman kampus. Saya menikahi nya selain karna sesuatu yang saya pikir rasa cinta," Tian diam sejenak, "Dia menawarkan tempat persembunyian."

Nayara mengerutkan keningnya, bingung.

"Perusahaan itu milik Ayahnya, saya menemukan perusahaan itu hampir bangkrut. Disaat yang bersamaan, Ayahnya sekarat dan Diana adalah anak semata wayangnya. Jika Ayahnya mati, maka perusahaan itu akan menjadi miliknya. Diana menawarkan itu." Tian mengulum bibirnya. "Dia menawarkan saya bersembunyi disana, menjadi pemilik Penerbit Buku yang hampir bankrut. Tidak ada media yang tertarik dengan hal seperti itu, Nay. Tidak ada Media yang tertarik meliput anak pejabat yang menjadi pemilik perusahaan kecil. Mereka melupakan saya dan saya merasa—."

"—Tenang." potong Nayara yang diangguki oleh Tian.

Nayara menarik napas, ia kembali menatap Tian lekat-lekat. "Kamu bilang kamu mencintainya tapi semalam kamu bilang kamu gapernah menyentuhnya. Apa maksudnya itu?"

Tian mencium punggung tangan Nayara dan berharap gadis itu mau memeluknya tapi Nayara malah memasang benteng tinggi dan kokoh seakan tak mengizinkan nya masuk sebelum ia tahu siapa pria didepan nya ini.

"Dari awal kami menikah, dia selalu menghindari saya. Setiap kali saya meminta tugasnya, dia selalu punya alasan. Sampai akhirnya saya tahu ...," Tian mengeraskan rahangnya bahkan dari genggaman tangannya saja Nayara tahu dia sedang menahan amarah. "Dia hamil. Dengan Kakak saya."

"Huh?"

"Dia mengandung anak Kakak saya. Saya memergoki mereka tepat didepan mata saya. Saat itu juga saya ingin menceraikan nya tapi ternyata," Tian menunduk, "Dia hamil. Dan Ayah saya melarang saya untuk menceraikan nya."

"What ...?" Nayara hampir kehilangan suaranya, informasi ini terlalu tiba-tiba membuatnya kehilangan keseimbangan. "... Why?"

"Karna pasti Media akan meliputnya. Itu berisiko banyak hal. Nama keluarga. Ketenangan. Semuanya."

"Telat saya sadari," Tian menunduk sejenak. "Rasa saya kepada Diana hanya sebatas teman. Saya memang tidak pernah mencintainya dari awal. Hanya karna dia selalu ada dan membantu saya melarikan diri dari Politik. Bahkan saat saya tahu dia mengandung anak orang lain," Tian menelan ludahnya kasar. "Saya tetap ingin melindunginya."

"Saya ga pernah merasakan perasaan yang menggebu-gebu saat bersama mu dengan orang lain, Nay." Tian menatap Nayara dengan serius. "Bahkan dengan Diana ...,"

Nayara membalas tatapan itu. Dengan terang-terangan dia menelisik netra kebiruan itu. Mencari kebenaran dan kepastian yang sialnya ia temukan disana.

Nayara menghela napas.

"Will you choose me?"

Tian mempererat genggaman nya. "I will and always."

Nayara kembali diam untuk beberapa saat tanpa melepaskan pandangan nya. "Kalau aku minta ...," Nayara diam, ia terlihat ragu namun ia merasa harus mempertanyakan nya sekarang. "For leave her now and come with me. Would you do that?"

Nayara merasakan tubuh Tian menegang dari genggaman tangan nya. Juga netra kebiruan nya yang sedikit membesar, tanda bahwa dia tak siap menerima pertanyaan itu.

Nayara tersenyum kecil. Ia menarik tangan nya dari genggaman pria itu dan lagi, mundur satu langkah sambil menunduk dan terkekeh geli.

"Nay ...,"

"You wouldn't." Ujar Nayara sambil menatapnya.

"I love you, Nay. You know that."

"Yah ...," Nayara mengangguk. "But i deserve someone who choose me in the first place."

Setelah mengatakan kalimat itu, Nayara langsung meraih tas dan ponselnya lalu dengan menghiraukan panggilan Tian ia melangkah pergi dari sana. Menuju pintu dan Tian mengejarnya. Namun Nayara tak peduli.

Ketika gadis itu membuka pintu,

Jantungnya hampir melorot.

Lorong kos nya didesaki oleh belasan wartawan dan silau kamera yang langsung menyorotnya. Pertanyaan langsung menggebu-gebu saat melihat ada sosok Tian dibelakang. Dari detik pertama mereka langsung tahu, ini adalah berita terlaris minggu ini.

Nayara diam,

Kemudian melirik ke belakang, ke arah Tian.

Pria itu tak memperdulikan kamera yang menyorotnya, dia malah tak melepaskan pandangan nya dari gadis itu.

Bahkan jika ini merebut ketenangan nya.

HIS SINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang