Nayara memperhatikan lekat-lekat kertas di tangan nya. Sebuah bogem mentah serasa dilemparkan kepada nya berkali-kali.
Surat tagihan.
Apa yang disibukkan Nayara sampai dia lupa akan tenggat uang sewa kost nya? Tidak, bukan Nayara lupa karna terlalu sibuk atau alasan lain nya. Dia hanya terbiasa dengan akses uang yang mudah sampai lupa kalau kartu nya sudah diblokir oleh pemilik asli nya.
Nayara kembali ke kost untuk mengganti baju sebelum berangkat ke kantor bersama Tian yang menunggu nya di dalam mobil dan menemukan kertas tergeletak di atas engsel pintu nya.
Sialan, ini benar-benar terjadi.
Candra benar-benar tidak membiarkan satu celah pun kepada anak nya untuk pergi. Memaksa Nayara untuk kembali kepada nya dan memohon maaf. Nayara selalu hidup dalam kemudahan. Ia bisa pergi dari rumah namun tetap mendapatkan kemewahan dengan memilih Kost Elit yang hanya mampu dibayar anak-anak kaya yang terlihat ingin membuktikan diri, seperti diri nya.
Candra mengira bahwa ini adalah kelemahan Nayara yang bisa ia serang.
Tapi tidak.
Nayara tidak akan pernah memohon maaf atas apapun. Justru sebaliknya, Ayahnya yang akan memohon maaf dan meminta nya kembali. Karna sampai kapapun, Candra perlu Nayara.
Nayara yang dikenal sebagai aktivis saat masih Mahasiswa dan masih lantang menyuarakan pendapatnya membuat nya dipercaya oleh Masyarakat.
Ia akan buktikan bahwa dengan atau tanpa uang miliknya, Nayara bisa bertahan.
Jadi kita akan lihat, siapa yang bertahan.
Nayara menarik napas. Absensi kantornya tinggal 30 menit lagi. Lantas ia menutup pintu dan mengunci nya lalu menuruni tangga dengan cepat. Tersenyum kecil kepada satpam yang menyapa nya lalu masuk ke dalam mobil yang terparkir tepat dihadapan pagar Kost.
"Kenapa, Nay?"
Nayara menoleh ke arah Tian yang duduk di kursi supir. Ia menatap pria itu sejenak kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepala nya samar. Ia melipat kertas yang ada ditangan nya lalu memasukkan nya ke saku celana nya.
Hati nya yang baru saja membara panas karna sang Ayah benar-benar mengibarkan bendera perang kepadanya seperti di siram air oleh pertanyaan Tian yang menyadari perbedaan raut wajahnya.
"Gapapa, Mas." balas Nayara dengan senyum kecil.
"Saya udah bilang kamu bisa kasih tahu saya apapun 'kan?" Tian menatap Nayara intens, tatapan nya memancarkan kekhawatiran.
Lagi, Nayara harusnya memberi peringatan pada diri nya untuk tidak terus-terusan terbuai dengan sikap pria ini tapi terlambat karna yang terjadi sekarang adalah Nayara terbuai lemah.
"Aku gapapa." Nayara tersenyum lebih lebar. "Yuk, Mas. Absensi nya bentar lagi. Nanti gaji ku di potong."
Tian diam beberapa saat, bahkan lelucon Nayara tidak terdengar lucu bagi nya dan bertahan memandangi wajah gadis itu beberapa detik sebelum akhirnya menyerah dan beralih menatap jalan. Memegang stir nya.
Nayara mengulum bibirnya, merasa sedikit tidak enak karna Tian terlihat tidak menyukai sifat tertutupnya akan satu hal. Namun Nayara hanya bisa bersandar pada kursi mobil, menatap jalanan walaupun pikiran nya berkelana mencari cara agar bisa membayar uang Kost nya yang dua kali lipat dari gaji nya.
Di tengah-tengah kesibukan pikiran nya. Tiba-tiba Nayara di kejutkan dengan sentuhan di tangan nya. Ia menoleh dan menemukan Tian yang meraih tangan nya lalu mengenggam nya dengan satu tangan dan tangan yang lain masih ia gunakan untuk memegang stir mobil.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIS SIN
General Fiction"I am his sin." Nayara, perempuan muda, berbakat, centil dan menggemaskan takkan pernah mengira akan punya sekelibat hubungan dengan atasan tampan di saat istri nya sedang hamil.
