Setelah keributan di ruangan alvano pada waktu lalu. Nara benar benar menepati ucapan nya. Ia menjaga dan merawat bayu hingga benar baik baik saja. Nara merasa ia memang harus bertanggung jawab meski pun bukan ia yang bersalah Melain kan alvano yang menghajar wajah Bayu. Begitu pun dengan Bayu yang seperti nya dengan sengaja memancing keributan
Setelah memastikan Bayu baik baik saja Nara memutus kan ijin dan pulang lebih dulu sebelum jam waktu pulang. Masa bodo akan tertera tidak masuk di dalam absen. Yang terpenting saat ini ia bisa mengistirahatkan kan tubuh dan pikiran nya. Setelah itu alvano mau pun Nara tak saling mengabari. Entah kemana pria itu. Mungkin pergi dan menghilang lagi
Nara duduk di kursi menghadap ke arah jendela di kamar nya. Ia menghela nafas di tangan nya kini terdapat sebuah novel yang akan ia baca. Nampak nya ia memang harus mengalihkan pikiran nya dari alvano yang tiba tiba pergi lalu muncul. Muncul juga masalah yang akan membuat kedua nya bertengkar. Memikirkan nya saja Nara pusing. Seribet itu kah cinta? Apa Karna Nara tidak pernah berpacaran sebelum-nya. Jadi ia payah soal cinta
Sruuppp
Nara menyeruput teh hangat. meletakan kembali gelas nya ke atas meja
Tok tok
Kepala Nara menoleh ke arah pintu kamar nya. Mendengar suara pintu di ketuk dari luar. Kini atensi Nara terpusat kesana. Padahal bukan pintu kamar nya yang di ketuk. Karna penasaran Nara segera keluar dari kamar nya. Untuk membuka pintu rumah nya. Memastikan siapa yang bertamu di malah hari. Apa Inggit?
Tanpa melihat siapa pengeruk pintu. Nara langsung membuka pintu tersebut. alangkah terkejut nya saat begitu pintu terbuka. Tubuh seseorang terjatuh tepat di hadapan nya
Bruukkk
"Mass!"jerit Nara langsung meluruhkan tubuh nya ke bawah lantai. Berusaha meraih tubuh alvano yang sudah tergeletak di atas lantai. Nara menepuk pipi alvano berulang kali menyadarkan pria itu. Agar membuka kedua mata nya. Nara sudah mulai menangis karna tak tau apa yang harus ia lakukan sedangkan alvano sudah tak berdaya di sana
Satu yang terlintas di kepala Nara saat ini yaitu. Inggit. Dengan tubuh yang bergetar lirih Nara meninggalkan alvano lalu menghampiri pintu kost Inggit yang tepat di sebelah kostan Nara
Dok dok dok
"Inggit! Tolong aku Inggit!"teriak Nara sembari menggedor pintu kost inggit
Ceklek
Pintu terbuka Inggit menguap sembari mengusap mata nya..ia menatap ke arah Nara dengan kedua mata yang belum terbuka sepenuh nya
"Ada apa na? Kenapa kamu teriak-teriak ini udah malam loh."ucap Inggit santai
Nara menatap tak enak hati ke arah Inggit.. ia pun terpaksa membangunkan Inggit dari tidur nyenyak nya..."maaf..hiks.. maaf Inggit, tolong bantu aku please." Ucap Nara memohon
Sontak kedua mata Inggit terbuka sepenuh nya.."kamu kenapa nana? Bicara pelan-pelan. Apa yang terjadi kenapa kamu nangis?" Cerca Inggit
Nara mengatur nafas nya. Sebelum ia kembali berbicara. Nara menunjuk ke arah pintu kostan milik nya yang terhalang oleh tembok sebatas dada..."tolongin aku git, itu mas Vano, tiba-tiba datang trus sekarang pingsan aku nggak bisa angkat ke dalam."ucap Nara setelah tenang
Mata Inggit sontak membulat terkejut. Kini Nara dan Inggit pun segera menghampiri tubuh alvano yang masih tergeletak di atas lantai yang dingin. kedua gadis itu berusaha mengangkat tubuh tak berdaya alvano ke dalam rumah. Inggit yang memang memiliki postur tubuh yang sedikit lebih tinggi dan besar dari Nara. Membuat tenaga nya pun sedikit lebih kuat dari Nara. Ia memutuskan melingkarkan tangan nya di sela ketiak alvano. Dan Nara yang memegangi di sela kedua lutut pria itu. Dengan susah payah kedua gadis itu menarik tubuh alvano hingga masuk kedalam kamar Nara.

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Collapse (Pak Dosen)
Romansakerja part time setiap hari naraya lakukan. Agar bisa mencukupi kehidupan sehari harinya. Dan juga untuk biaya kuliahnya. Mendiang kedua orang tuanya pernah berpesan jangan pernah putus sekolah. Pendidikan itu harus di utamakan. Jadi karna itulah na...