Sudah beberapa hari ini alvano di hadapkan dengan pekerjaan yang membuat ia sering lembur. Seharus nya pekerjaan yang tengah ia jalan saat ini tugas adik nya. Tetapi adik nya itu malah tinggal bilang kalau dia tidak bisa menangani semua nya sendirian. Alhasil alvano juga harus turun tangan. Belum juga ia harus ke kampus. Bertemu Nara saja hanya sekedar saat mengantar kan pulang. Setelah itu tak lagi bertemu hingga hari ini.
Alvano mengerang frustasi. Ingin kabur saja dari kantor lalu menemui pacar kecil-nya. Tetapi belum bisa ia lakukan sekarang. Karna pekerjaan yang masih menumpuk. Ingat kan alvano jika sang adik muncul dia akan memarahi orang itu habis habisan. Bagaimana alvano yang membantu malah di tinggal di perusahaan. Kurang ajar memang
Seharus nya ia sudah tak ambil andil lagi soal perusahaan keluarga Karna alvano lebih suka mengajar. Ah. Larat karna di kampus ada sang pujaan hati maka dari itu alvano lebih suka mengajar. Sedikit banyak ia masih bisa curi curi pandang. Alvano kembali mengerang kesal. Mengingat sudah dua hari tak bertemu dengan Nara. Membuat nya tak bersemangat melakukan apa pun.
Pasti gadis-nya akan berangkat naik bus saan ke kampus begitu pula saat pulang. Karna sudah dua hari ini alvano absen mengajar. Tetapi ia masih sering mengirim pesan pada Nara meski sangat lama mendapatkan balasan pesan dari sang kekasih. Sesekali alvano pun menelpon gadis itu di luar jam belajar. Tetapi jarang sekali di terima.
"Kapan saya bisa pulang dit?" Tanya alvano pada sahabat merangkap sebagai sekertaris nya
Pria bernama Adit itu menoleh pada alvano. Ia menghembuskan nafas lelah. Sudah berapa puluh kali terhitung sejak tadi pagi. Yang alvano tanya kan hanya itu. Itu saja. Sampai telinga Adit sumpek
"Sbentar lagi pak."jawab nya malas
"Dari tadi pagi kamu bilang sebentar lagi. Sebentar lagi. Kapan dit? Nunggu larut malam."ucap alvano kesal
Adit mendengus.."bpak kenapa tumben banget pengen pulang terus? Biasa-nya juga malah betah kerja."ucap Adit menatap penuh penasaran
"Ini kan bukan pekerjaan saya. Harus-nya varo yang mengerjakan. Kenapa harus saya."keluh nya lagi
Adit membereskan berkas di hadapan nya. Lalu menaruh di meja alvano.."ibu yang memerintah langsung pak. Saya nggak bisa menolak. Kita tunggu pak varo, setelah itu terserah bpak kalau mau pulang."ucapan Adit sontak membuat mata alvano kembali terbuka
Varo sang adik yang seharus-nya memimpin perusahaan Karna sudah sepenuh nya ia limpah kan pada adik-nya itu. Bukan nya di jalankan dengan baik malah malas malasan. Ia mengatakan tidak tertarik dengan perusahaan keluarga yang hanya mengurusi masalah di dalam nya. Varo lebih suka menjalankan perusahaan yang berada di luar negri. Alasan memang. Alvano tau kenapa adiknya menolak menetap di jakarta. Karna ia tak bisa sebebas di luar negri.
Tak lama orang yang di bicarakan pun muncul di ruangan Alvaro. Pria itu langsung menatap tajam varo. Membuat sang empu bukan nya takut malah cengengesan
"Dari mana lagi kamu? Nggak tau di kantor lagi ada masalah? Seenak-nya aja ninggalin tugas kamu. Lalu di limpahkan ke orang lain. Gila!"sentak alvano pada adik nya
Mendengar bentakan dari sang Abang. Varo tak begitu perduli. Mereka sudah biasa bertengkar soal pekerjaan nanti juga lima menit kemudian udah biasa lagi. Baikan lagi. Alvano bukan tipe orang yang berlarut dalam amarah. Begitu pula varo yang sangat santai. Tidak begitu ambil hati meski Alvaro sering membentak nya. Mau gimana lagi varo harus tetap menghargai Alvaro sebagai kakak tertua nya
"Astaga! Bang. Cuma di tinggal bentar doang. Ke cafe nggak jauh dari kantor. Ada cafe baru disana. Gue suka sama cake di cafe itu. Adit aja tau kok." Orang yang nama nya di sebut langsung menoleh dengan tatapan melotot tak terima. Kalau salah sendiri ya tanggung sendiri. Kenapa bawa bawa nama orang lain.

KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Collapse (Pak Dosen)
Roman d'amourkerja part time setiap hari naraya lakukan. Agar bisa mencukupi kehidupan sehari harinya. Dan juga untuk biaya kuliahnya. Mendiang kedua orang tuanya pernah berpesan jangan pernah putus sekolah. Pendidikan itu harus di utamakan. Jadi karna itulah na...