15

265 24 10
                                        

Sesuai dengan perintah ayahnya Sonu menyusul Luhan ke Jeju. Sonu tidak bisa menghubungi Luhan karena Luhan sengaja mengabaikan panggilan ataupun pesan darinya. Sonu tidak punya pilihan selain menghampiri Luhan meskipun harus menerobos privasi Luhan.

Setelah mengantungi nomor kamar yang Luhan tempati, Sonu langsung menaiki lift menuju kamar tersebut. Sesampainya di depan kamar itu Sonu langsung menekan bel berkali-kali. Hingga seorang pria keluar dari kamar itu.

"Kau siapa?" Pria itu Yifan yang membuka pintu.

"Dimana Luhan!" Tegas Sonu pada Yifan.

"Ada perlu apa kau dengan kekasihku?!"

"Bukan urusanmu!" Sonu menerobos masuk namun ditahan oleh Yifan

"Apa kau tidak punya attitude bagaimana bisa kau menerobos masuk ke kamar orang lain hah!" Yifan sangat marah dengan kelakuan Sonu.

"Kau bicara attitude denganku?" Sonu tersenyum remeh melihat Yifan. "Maniak sex seperti mu sepertinya tidak pantas mempertanyakan attitude"

Yifan yang terpancing langsung menarik kerah Sonu namun ditahan oleh Luhan.

"Yifan!" Luhan berteriak ketika melihat Yifan yang akan memukul Sonu. Yifan dengan kesal melepaskan Sonu dan Sonu tersenyum remeh padanya.

"Akhirnya kau keluar juga" Sonu merapikan kerahnya yang berantakan karena Yifan.

"Sonu apa yang kau lakukan disini?!" Luhan sangat kesal dengan Sonu.

"Lalu aku harus bagaimana kau tidak menjawab panggilanku dan bahkan tidak membalas pesanku" Luhan memang sengaja melakukannya.

"Yifan sepertinya aku harus bicara dengannya" Yifan yang kesal memilih kembali masuk kedalam kamar.

"Kau mau kita bicara disini apa di restoran bawah" Luhan bertanya pada Sonu dengan nada kesal.

"Restoran saja sekalian sarapan"

Luhan berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Sonu dari belakang. Setelah turun menggunakan lift mereka pun sampai di restoran hotel itu. Sonu memesan makanan sedangkan Luhan memilih memesan smoothies.

"Ada apa? Kenapa kau repot-repot datang ke Jeju dan menganggu waktuku dengan kekasihku"

"Tidak bisakah kau membiarkanku makan dulu" Sonu menikmati sarapan paginya.

"Sonu aku tidak suka main-main langsung to the point"

"Bulan depan kita bertunangan"

"Apa!" Luhan sangat terkejut mendengar ucapan Sonu dan tentunya ia tidak bisa terima.

"Tidak perlu kaget seperti itu cepat atau lambat orangtua kita pasti akan mendesak bahkan abeoji ku berinisiatif membelikan cincin pertunangan di Paris karena cincin yang kau pesan tidak kunjung selesai menurut mu apa alasan cincin itu bisa menghentikan pertunangan ini"

"Aku tau tapi kau bisa menolaknya bukan"

"Dengan mengorbankan profesiku yang kusukai itu sangat tidak setimpal"

"Apapun alasannya aku tidak mau pertunangan ini terjadi"

"Luhan pertunangan itu tidak sulit kita hanya perlu menghadiri kemudian bertukar cincin dan selesai lagian itu hanya formalitas dan demi kepentingan orang tua kita"

"Aku tidak bisa!"

Sonu cukup frustasi menghadapi Luhan yang begitu kekeuh dengan pendiriannya.

"Kenapa tidak bisa?!"

"Apa kau mencintaiku!?" Ucapan Luhan membungkam Sonu. Luhan menatap Sonu yang terbungkam oleh pertanyaan. "Tidak kan?"

"Luhan"

FRAGILE HEART Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang