"Kita ke bandara sekarang" Ucap Reynand.
"Aku ikut kak" Ucap Ana, Reynand mengangguk lalu dengan cepat ia menyambar kunci mobil yang berada di meja lalu ia bergegas menuju bandara.
...
Sesampainya mereka di bandara mereka dengan cepat menanyakan kepada petugas yang berada di sana.
"Di mana korban yang telah di temukan?" Tanya Reynand kepada salah satu petugas itu.
"Maaf? Anda siapa? Apakah anda keluarga salah satu korban?" Tanya petugas itu.
"Benar, apakah ada korban yang bernama arlan?" Tanya Reynand.
Jujur saja sejak tadi perasaan menjadi tidak karuan, antara sedih dan tak percaya, padahal baru kemarin lusa dia bilang akan pergi namun sekarang?
"Kami belum bisa memastikan beberapa identitas korban karena ada sebagian korban yang tubuh nya tidak utuh" jelas sang petugas itu
"Apakah kami boleh melihat korban nya?" Tanya Reynand.
Petugas itu menatap ke arah Reynand dengan ragu namun kemudian ia mengangguk mempersilahkan kepada reynand dan yang lain nya untuk melihat korban.
Reynand membuka satu persatu kain yang menutupi wajah korban namun tak ada satu pun yang memiliki ciri seperti Arlan hingga pandangan mereka (keluarga angkasa dirgantara) menatap ke arah tempat di mana tinggal 1 korban itu yang belum mereka cek.
Reynand membuka kain yang menutupi wajah korban itu, tangan nya gemetar saat ia melihat wajah itu. Wajah yang penuh luka sehingga membuat beberapa orang mungkin tidak mengenalinya.
"A-ar...? I-ini bukan kamu kan?" Ucap Reynand sembari menahan isakan nya.
"I-ini pasti hanya mirip" ujar Reynand dengan suara yang tercekat.
Namun harapannya seakan di hempaskan begitu saja kala ia melihat tanda lahir di belakang telinga korban tersebut.
"Ar? Kamu pasti bercanda kan Ar? K-kamu pasti c-cuma mau ngerjain kita kan Ar? Bilang sama ayah Ar kalo ini bohong!! Bangun Ar!! Bercanda kamu gak lucu, kalo kamu mau bercanda jangan kayak gini" Reynand menangis sembari mengguncangkan badan Arlan berharap jika sang empu akan terbangun.
Ana dia sudah menangis sembari memeluk Riana, kaki nya seakan tak mampu untuk menahan bobot tubuhnya, ia memaksakan kaki nya untuk mendekat ke arah Arlan di bantu oleh Riana yang saat ini keadaannya tak kalah kacau dari Ana.
Saat anak melihat wajah arlan ana menangis dengan pilu dengan tangan gemetar ia mengelus rahang Arlan
"Ar... Sa-sayang, kamu jangan bercanda, ini gak lucu Ar" Tangisan ana yang terdengar sangat memilukan membuat mereka seakan merasakan sesak yang di rasakan oleh Ana.
"Ar.. bangun sayang, kata kamu n-nanti kita bakalan liburan bareng? K-katanya nanti turnamen basketnya mau di temenin sama bunda, sekarang bangun Ar, nanti bunda bakalan turutin apa yang kamu mau"
Sedangkan Tenggara dan Samudra berusaha mati matian untuk tidak menangis
"Ar.. baru kemaren gue ngusilin lo, kenapa sekarang lo pergi, lo kalo marah sama gue jangan kayak gini." Pertahanan Tenggara akhirnya roboh, ia menangis sembari memeluk tubuh Samudra, sedangkan Samudra ia hanya menatap kosong ke arah dimana ada Reynand, Ana dan Riana.
"Gue gagal, gue gagal ngejagain Arlan" batin Samudra, tatapannya kosong seperti hanya raga yang tidak di isi oleh jiwa.
"Ar, kalo pulang yang kamu maksud kemarin itu kayak gini seharusnya bunda gak ngizinin"
"Kenapa kamu harus pergi secepat ini Ar? Kamu baru ngerasain kebagiaan sebentar, rasanya tidak adil jika kamu harus pulang padahal kamu baru merasakan sedikit kebahagiaan" batin Riana sambil menatap sendu ke arah Arlan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arlan (Selesai Dirombak)
RandomThis is brothership and bromance area! Jangan lupa vote nya guys. Arlan Zayyan Gahendra, seorang pemuda berusia 18 tahun, dan berada di kelas 3 SMA ternama di kota nya. Memiliki segudang prestasi di bidang akademik dan non-akademik semenjak sekolah...
