chapter 21 ✅

9.1K 433 2
                                        

"Kau disini little wolf?" Tanya seseorang yang baru saja datang dan menatap Arlan dengan senyum lebarnya, sedangkan Arlan hanya menatap malas ke arah orang itu.

"Jauhkan dia!" Bisik Arlan pada Delon.

Delon menatap Arlan dengan geli. Dia terlihat sangat menghindari Alex.

Arlan melihat bahwa Delon hanya diam saja tidak berniat mengusirnya.

Alex yang melihat Arlan tidak sedikitpun menoleh padanya, jadi ia menghampirinya. Dan ikut duduk di tepi kasurnya.

Alex menariknya mendekat, Arlan segera menjauhkan diri darinya.

Alex mengerutkan keningnya "kemari lah little wolf, aku tidak akan melakukan apapun padamu, lagipula pak tua itu ada disini." Ucapnya.

Arlan melayangkan tatapan sinis pada Alex. "Aku tidak percaya"

Alex terkekeh "kau tidak percaya? Kemari lah." Ia kembali menarik Arlan, namun Arlan kembali ditarik oleh Delon.

"Jangan memaksa putraku rubah" Delon melayangkan tatapan tajam ke arah Alex, membuat alis Alex mengerut tak suka.

"Dia putra mu, berarti dia adik ku, dan milikku juga."

"Milikmu? Selama aku hidup, aku tidak akan membiarkan dia menjadi milikmu. Lagipula dia tidak akan mau menjadi milik mu, sudahlah rubah jangan memaksa." Ucap Delon.

Alex kembali menarik Arlan. "Jika aku rubah, maka kau adalah rubah tua yang mengajariku menjadi penerus mu"

Arlan mengantuk melihat mereka berdebat yang tak berfaedah. "Rubah teriak rubah" cibirnya.

"Sudahlah keluar sana! Aku ingin tidur lagi" Arlan mengusir ayah dan anak rubah itu keluar.

"Baiklah sampai jumpa." Ia menutup pintu kamar yang di tempati nya dan menguncinya dari dalam.

••••

Beberapa hari kemudian, dikelas.

Terlihat si kembar D yang sedang membagikan undangan dengan desain mewah pada teman sekelasnya.

Undangan itu adalah undangan pesta dari keluarga Smith. Setiap anak di kelas mendapatkan 1 undangan.

Seusai membagikan undangan, si kembar kembali ke tempat duduknya yang berada di belakang meja Arlan.

"Tumben banget keluarga Smith ngundang murid pas ada pesta" Ucap Sean.

Devan melirik sekilas kearah Arlan dan tersenyum. "Kan kita temen sekelas, engga mungkin dong kita engga ngundang kalian." Ucap Devan.

"Bener tuh, kata Daddy ." lanjut Devon.

Sean mengangguk tanda mengerti.

"Aduh, gue kayaknya harus beli baju dulu deh, takut minder gue ngeliat ayah sama kakak lo." Ucap Sean.

"Gue juga" Balas yang lain.

Si kembar tertawa. Devon berkata "gausah minder, Daddy sama abang gue juga gak cakep-cakep amat kok."

"Heh anak durhaka, bapak lo awet muda masih cakep, sembarangan lo bilang gak cakep-cakep amat."

"Lah kan emang bener" Ucap Devan.

"Terserah lo deh"

•••••

Minggu siang.

Arlan sedang memperhatikan Delon memilih berbagai pakaian untuk dikenakan olehnya.

"Ar, gimana kalo pake yang ini?" Tunjuk Delon, ia menunjuk sebuah setelan kemeja berwarna maroon dipadukan dengan jas dan dasi berwarna hitam.

"Boleh, yang mana aja bagus kok" Ucap Arlan.

Arlan (Selesai Dirombak)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang