chapter 29 ✅

6.9K 459 13
                                        

Arlan dengan teman temannya yang lain sedang berada di kantin, niatnya mereka hanya untuk mengisi perut yang kosong dengan tenang namun, tak jadi karena Sean dan Theo malah bergosip.

"Heh kalian tau ga kalo bapak nya Arlan bakalan ngenalin si Ale Ale ke rekan kerja nya" ucap Theo memulai pembicaraan.

"Serius? Gila aja dia ngenalin tuh si Ale Ale ke rekan kerja nya, lo tau itu arlan?" Tanya Sean.

"Hmm."

"Lo enggak marah gitu Ar?" Tanya Theo.

"Enggak"

Theo ga habis pikir dengan pemikiran Arlan, bagaimana bisa anak itu tidak marah? Dia yang anak kandung Geo pun tidak pernah di perkenalkan pada publik seperti itu, sekarang? Arlan malah terlihat seperti suka rela jika si jalang kecil itu di perkenalkan ke publik.

"Enggak lah orang dia aja udah jadi anaknya tuan Smith." Ucap Sean.

"Iya lagi, mending jadi anaknya tuan Smith dari pada si Geo Geo itu kan" Theo menganggukkan kepalanya.

"Kalian datang?" Tanya Arlan

"Niat nya sih enggak, tapi kata bokap harus datang kalo enggak nanti fasilitas gue di sita sementara" keluh Sean dengan kesal.

"Padahal kan gue gak mau dateng kenapa sih?!"

"Datang aja, gue punya pertunjukan buat kalian, kalian harus nonton" Ujar Arlan.

"Kejutan apa?"

"Kalian akan tau nanti" 

••••

Semua berjalan dengan cepat matahari telah berganti menjadi sang bulan tak terasa malam ini adalah malam di mana Vale akan di perkenalkan oleh Geo kepada seluruh rekan kerja nya. Arlan sudah bersiap diikuti oleh Arthur yang stay mengikuti Arlan ke acara tersebut. Kemeja putih serta jas hitam tak lupa dengan dasi berwarna hitam itu membuat ketampanan mereka berkali kali lipat.

Mobil sport berwarna hitam itu melaju di jalanan yang sepi, Arlan dia duduk di samping Arthur yang sedang mengemudi, rencana yang pernah mereka buat telah siap hanya menunggu waktu yang tepat saja.

Mobil sport itu terparkir apik di parkiran sebuah gedung yang menjadi tempat pelaksanaan acara itu mereka turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah gedung tersebut.

Mereka menjadi pusat perhatian, apalagi para kaum hawa yang banyak memuji ketampanan mereka serta beberapa dari mereka yang menatap ke arah mereka seolah mereka adalah mangsa yang empuk.

Aura wibawa serta dingin tak tersentuh Arlan membuat beberapa dari mereka kagum akan sosok nya, dan beberapa dari mereka yang segan akan sosok Arlan. apa dia adalah anak dari salah satu pengusaha di sini? Batin mereka bertanya tanya.

Alex yang tadi berdiri tak jauh dari Arlan langsung menghampirinya kala melihat tatapan beberapa orang yang terlihat seperti akan menculiknya dan membawanya pulang.

"Turun kan pandangan kalian sebelum aku mencongkel mata kalian satu persatu" Ucap Alex dengan nada yang terdengar mengintimidasi.

Alex berjalan menghampiri Arlan dan membawanya mendekat kearahnya.

Mereka yang takut akan aura intimidasi dari Alex akhirnya mereka menundukkan kepalanya. tidak ada yang berani mengangkat kepalanya dan menengok ke arah Arlan karena takut ancaman yang Arlan lontarkan itu menjadi kenyataan.

"Little wolf, kenapa kamu membiarkan orang-orang itu menatap mu seperti itu?" Alex merangkulnya dan menyuruh Arthur untuk pergi dulu.

"Setelah meninggalkanku selama 3 Minggu tanpa kabar, apa kamu benar benar tidak merasa bersalah padaku?"

Arlan (Selesai Dirombak)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang