[18]. Second Life (1)

122 13 0
                                        

Dua minggu.

Setidaknya selama itu Chandra masih terbaring di ranjang pasien. Tidak di ruangan yang sama seperti sebelumnya. Tidak lagi dengan selang-selang di organ-organ vital tubuhnya. Setelah kondisi sadarnya, ia dipindahkan ke ruang rawat inap. Walaupun ia masih terbaring dan kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya dengan bebas, setidaknya ia kini bisa bernafas lebih baik dari sebelumnya. 

Tentunya yang menjadi hal pertama dalam pikiran sadarnya setelah tidur panjang itu, adalah keberadaan keluarganya. Menghitung pergantian siang dan malam di kamar serba putih itu, tak pernah sekalipun ia mendapati kehadiran istri dan anak-anaknya, pun orang tua ataupun saudaranya. Apa mereka datang di jam besuk ketika ia sedang tertidur? Setidaknya itu yang ada dalam benaknya. Ya, kondisinya memang masih sangat lemah, walaupun organ-organ tubuhnya mulai berfungsi dengan baik, namun kesadarannya masih setengah-setengah. Terkadang ia mendapati perawat dan dokter yang memantau kondisinya dan memberikan instruksi untuk menggerakkan kaki dan tangannya. 

Membenak dalam ketidaktahuan, hari ini Chandra menguatkan dirinya untuk tak terpejam, berharap orang-orang yang ia rindukan nampak di pelupuk matanya. Sampai siang ini pintu kamarnya terbuka, seorang perawat membawakan menu makan siang.

Dengan salam dan senyuman ramah, sang perawat menaruh menu makan siang di meja nakas sebelah ranjangnya dan menawarkan bantuan untuk menyuapi. 

"Saya ingin makan sendiri. Tolong naikkan sandaran ranjangnya saja," pinta Chandra dengan suara serak perlahan. Vita suaranya masih belum bergetar sebagaimana mestinya.

"Oiya, apa Pak Wira sudah datang?" tanya Chandra lagi, tentunya selama ini sosok itulah yang sering ia dapati ada di ruang ini. Apalagi di jadwal-jadwal makan, Wira lah yang sering membantunya. Di saat-saat itu juga, Wira bercerita tentang karirnya yang saat ini menjabat sebagai direktur rumah sakit tempat ia dirawat. Walaupun Chandra menyimak semua obrolan Wira dengan setengah kesadarannya, sedikit banyaknya ia dapat mengingat topik obrolan itu.

"Saya kurang tahu, Pak. Nanti akan saya cari tahu," sahut sang perawat. 

Beberapa menit kemudian, keheningan kembali mengalir di ruang dingin itu. Chandra kembali sendiri. Menu makan siang di hadapannya tak membuat lidah Chandra tergerak untuk mengecapnya. Alih-alih indera pencernaannya, kedua matanya malah lebih teralihkan pada tempelan stiker di nampan menu. Di stiker itu tertera nama pasien dan tanggal serta jam dihidangkannya menu tersebut.

Chandra membeku sesaat, mengamati dengan seksama tanggal yang tertera di sana. Apa ia tak salah lihat? Pikirnya. Tapi berkali-kali pun ia memastikan tanggal di stiker itu, tak ada yang salah. 

Tahun 2024?

Ia kembali membatu, berusaha mengorek kembali ingatan dalam memori otaknya yang kabur selama ini. 

Harusnya bukan 2024. Bukannya anak bungsunya, Adya, lahir tahun 2020, saat pandemi. Dan ia ingat dengan jelas, belum usia 2 tahun ketika ia menggendong Adya sebelum kepergiannya ke lokasi proyek perusahaan. Iya, Chandra yakin. Saat itu masih 2022, pandemi baru mereda. tapi kenapa sekarang 2024? 

Chandra terus menggali lebih dalam lagi kotak memori itu. Ingat-ingatan yang sepotong-potong, tentang perjumpaan terakhir dengan istri dan anak-anaknya. Perbincangan terakhir dengan orang tuanya. 

Dan.. pesawat.  

Laut. 

Kapal. 

Bulan purnama. 

Malam. 

Air.

Lalu sesuatu terasa mencekik lehernya. Chandra terengah-engah berusaha menghirup sebanyak mungkin udara. Namun gelombang laut besar yang menghantam tubuhnya, membuat semua latihan menyelam dan berenang seumur hidupnya itu menjadi tak berarti. Ia berusaha menggerakkan tangan dan kakinya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, namun yang terjadi adalah air laut yang masuk ke indera penciumannya. Pun ketika ia membuka mulut, malah semakin banyak air itu masuk ke organ-organ lain tubuhnya, melemahkan semua otot dan saraf. Dan ..

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 25, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Men in SecretsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang