Tinggi tubuhnya hampir 180 cm dengan proporsi bobot lebih ringan dari seharusnya. Pemuda berusia 29 tahun dengan kacamata yang sudah 5 tahun terakhir melekat di kelopak runcing itu, sering kali tak menampakkan ekspresi apapun. Datar. Mungkin kepedihan hidup yang dilaluinya dari masa kecil, membuat pemuda itu kesulitan menunjukkan perasaan duka, lara, sedih, senang maupun riang. Ditinggalkan di pintu panti asuhan sejak warna tubuhnya merah, pemuda itu tak pernah mengenal wanita yang melahirkannya atau darah pria yang mengalir dalam tubuhnya. Yang ia tahu hanyalah ia besar bersama-sama anak-anak lain yang memiliki nasib serupa.
Sampai 10 tahun terakhir, nasib hidup pemuda itu berubah seratus delapan puluh derajat. Siapa sangka, perbuatan melanggar hukum yang pernah dilakukannya malah membawanya pada 'keberuntungan'.
Deva Athaya masih mengingat dengan jelas. Usianya 19 tahun ketika demi menyambung hidup ia harus menggadaikan harga dirinya sebagai 'pencopet'. Berbekal daya ingat yang kuat dan bisa dibilang di atas rata-rata, dengan mudah Deva dapat menargetkan kliennya yang di atas rata-rata juga. Minimal para karyawan perusahaan elit yang biasa nongkrong di cafe-cafe mahal. Tentunya bukan lembaran rupiah yang ditargetnya, melainkan kartu kredit dan kata pin mobile banking.
"Lima puluh juta. Itu jumlah yang berhasil diretas dari kartu kreditku. Kau kan orangnya?"
Saat itulah ia bertemu dengan Angga. Deva tentunya tak tahu, jika pelanggan minimarket yang membeli beberapa cemilan di mana ia bertugas malam itu dapat melacak aksinya.
"Mohon maaf, saya gak paham maksud Mas."
Sore itu, sang pelanggan datang lagi ke minimarket dan langsung mengatakan kalimat tadi. Membuat Deva yang sedang menata bahan-bahan di rak pajangan kehilangan kata beberapa detik.
"Hah. Gak usah berkilah. Aku bisa dengan mudah mengusut semua itu dan mengurungmu di penjara."
Selayaknya orang yang tertangkap basah, Deva lagi-lagi kehilangan kata-kata. Ia mungkin pandai menyembunyikan ekspresinya, tapi sepertinya ia tak pandai berbohong.
"Temui aku disitu jika kau ingin menebus dosamu."
Namun alih-alih melaporkannya pada polisi, Angga malah memberikan kartu nama miliknya, yang disitu hanya tertera dua baris kalimat: Praditya Dwipangga, Cipta Raya Land.
Tentunya Deva tak langsung bertindak sesuai permintaan orang tak dikenal tadi. Apalagi menurutnya itu kartu nama yang aneh. Bagaimana mungkin ia bisa menemukan nama itu di perusahaan besar tanpa ada embel-embel lain. Bagian apa, bidang mana, divisi atau apapun yang bisa mengantarnya menemui nama itu. Sampai berminggu-minggu Deva acuh tak acuh. Namun tetap saja nama itu mengganggu, karena sampai berminggu-minggu itu pun tak ada laporan tentang tindakan kejahatannya.
Sampai pada akhirnya Deva berada di depan gedung 25 lantai di kawasan elit ibukota tersebut.
"Saya ingin bertemu dengan Bapak ini," kata Deva sambil memperlihatkan kartu nama tadi pada petugas keamanan yang menghadangnya di depan pintu gedung.
Tentunya ia terlihat jelas bukan penghuni gedung karena tak memiliki kartu akses. Tapi siapa sangka, kartu nama tadi lebih canggih dari akses manapun menuju gedung itu.
"Oh, tamu Pak Angga."
Tanpa bertanya apapun, petugas keamanan tadi malah mengantarnya langsung ke depan pintu ruangan korban kejahatannya.
"Ah, rupanya itu kamu, Dev."
Deva membuka pintu dihadapannya, setelah beberapa menit tadi terdiam disana, mengenang kembali pertemuan dengan Angga satu dekade lalu.
Di hadapannya ada orang yang sama, namun dengan ruangan yang berbeda. Angga kini sudah menempati ruang direktur utama perusahaan tersebut.
"Saya ingin berpamitan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Men in Secrets
Romance{On Going} Terbit setiap Sabtu dan Minggu. Nothing is fair in love and war. *** Publish : 8 September 2023
