Yang pertama kali tertangkap oleh indera pasien koma itu adalah rasa dingin yang menegakkan rambut-rambut halus di indera kulit tangannya. Berlanjut aroma khas yang tercium melalui indera pembaunya, seperti samar-samar membaui aroma pohon cemara. Terkadang terganti oleh aroma kuat seperti bau alkohol, itupun tetap samar-samar. Dan lambat melambat, indera-indera lain mulai bekerja sesuai fungsinya. Masih dalam kesamar-samaran, indera pendengarannya mulai dapat menangkap suara detakan, lalu terkadang langkah-langkah kaki yang mendekatinya dan obrolan-obrolan halus di sekelilingnya.
Sampai tepatnya dua hari lalu, indera penglihatan yang selama ini terasa berat untuk dibuka, mulai sekilas menangkap warna jingga yang masuk ke pupil matanya. Cahaya surya yang meremang masuk ke sela-sela jendela di ruangan tersebut. Saat itulah mata Chandra mulai benar-benar dapat meraba langit-langit putih yang saat ini terhampar di depan matanya. Masih antara sadar dan tak sadar, sekilas-sekilas ia dapat merekonstruksi kembali ingatannya yang masih sepotong-sepotong.
Air, malam, laut.
Kemudian terasa sesuatu berdenyut kencang di kepalanya, membuat Chandra kembali tenggelam dalam ketidaksadarannya kembali.
Lalu hembusan udara yang sama, aroma yang sama dan warna langit-langit putih yang sama kembali Chandra dapati beberapa jam tadi. Yang berbeda saat ini cahaya remang matahari yang diganti oleh pencahayaan artifisial dari lampu-lampu berwarna hangat di ruangan tersebut. Denyutan di kepala yang terasa memberatkan selama ini pun tak sekencang hari sebelumnya. Chandra kini mulai mencoba untuk membuka suaranya, tapi yang keluar hanyalah suara tercekat. Kerongkongannya terasa kering dan lidah yang kelu serta rasa pahit yang belum pernah dirasakannya selama ini.
Kembali sekilas ia pun dapat merasakan langkah-langkah kaki yang mendekatinya. Ia kini mencoba untuk menggerakkan leher, mulai penasaran siapa orang-orang yang sekelebat-kelebat terlihat dalam penghlihatannya selama ini. Tapi terasa seperti berton-ton cengkraman membuat lehernya kaku. Begitupun dengan otot-otot tubuhnya masih seperti dibungkus seuatu yang berat untuk digerakkan. Bahkan hanya untuk menggerakkan jari tangan atau kakipun, Chandra tak mampu.
"Pak, apa Anda bisa mendengar suara saya?"
Suara seseorang yang mendekat tadi. Terlihat di matanya seorang wanita berkerudung dengan pakaian putih-putih di depan matanya kini.
Ingin Chandra menjawab dengan lisan, namun lidahnya masih kelu. Dan ingin ia menjawab dengan anggukan, namun otot lehernya terasa kaku. Yang tersisa hanya, ia hanya menatap mata wanita itu.
"Tolong gerakkan jari tangan atau kedipkan mata jika Bapak bisa mendengar saya," tambah wanita itu.
Kali ini Chandra berusaha menggerakkan jari tangannya, namun nihil. Terasa seperti sesuatu mengkerangkeng seluruh tubuhnya.
Akhirnya ia mencoba cara lain, mengangkat kelopak matanya untuk memberikan tanda jika ia mendengar semua kata-kata itu.
Dan, hanya satu bagian tubuh itu saja yang dapat mematuhi instruksi Chandra. Kelopak matanya bergerak lebih ringan.
Setelahnya terdengar hembusaan nafas kelegaan dari wanita tadi.
"Tolong cek semua tanda vital dan hubungi lagi keluarga pasien."
Sampai kalimat itu keluar dari sosok tadi, Chandra kembali memindai suasana di ruangan itu melalui matanya. Kini ia sadar dengan kondisinya. Pasien? Ya, sepertinya ia adalah pasien di rumah sakit dan tentunya wanita tadi adalah dokter atau perawat.
Setelahnya Chandra kembali memejamkan indera penglihatannya karena terasa lagi denyutan di kepalanya, tak sekencang sebelumnya namun tetap terasa berat dan melelahkan. Di tengah-tengah memejamkan mata itu, setidaknya Chandra bisa kembali memikirkan alasan ia berada di ruangan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Men in Secrets
Romance{On Going} Terbit setiap Sabtu dan Minggu. Nothing is fair in love and war. *** Publish : 8 September 2023
