Daffin memasuki rumah dengan santai, waktu sudah menunjukkan tengah malam, ia masuk ke kamarnya untuk segera mengistirahatkan diri setelah perjalanan panjang yang cukup 'menyakitkan'.
"Lo habis ketemu Shila kan?"
Suara seseorang dari dalam kamarnya yang masih gelap membuat Daffin terperanjat hampir meloncat.
Dia segera menekan saklar dan mendapati Daffa sudah berbaring nyaman di ranjangnya.
"Iya, tadi gue bareng dia dari bandara, kak Mila Dateng" jawab Daffin santai sambil melepas pakaiannya untuk berganti dengan yang lebih nyaman.
Diam-diam Daffa menghembuskan nafas lega, setidaknya Kayshila tidak berbohong demi menghindarinya. "Dia baik-baik aja kan?" Tanyanya.
Daffin mengangkat bahu, "bukannya dia selalu berusaha keliatan baik-baik aja?" Balasnya tanpa menjawab pertanyaan Daffa. "Gue gak tau kalian ada masalah apa, tapi kalian harus selesaikan baik-baik, jangan Sampek gue ikut kena getah pertengkaran kalian" lanjutnya kemudian beranjak pergi dengan wajah yang mengeras.
Daffa mengikuti langkah Daffin sampai dapur. "Lo bisa tolong tenangin dia dulu gak?" Tanyanya.
Daffin membanting pintu kulkas yang baru saja dibukanya. "Gue udah nahan diri banget dari tadi, jujur gue pengen nonjok Lo bang, kenapa Lo ceroboh banget sampai ketangkep kamera" ucap Daffin pelan sarat akan emosi. "Lo kan tau Shila paling gak suka jadi pusat perhatian " lanjutnya kemudian segera meninggalkan Daffa sebelum emosinya benar-benar memuncak.
_____________________________________
Kayshila berniat menjemput Daffin di rumah cowok itu meskipun sedikit ragu karena dirinya belum siap bertemu Daffa, aneh rasanya melihat dirinya sendiri berusaha menghindari Daffa, bertahun-tahun bersahabat, baru kali ini Kayshila benar-benar berusaha menghindar.
Dia menghela nafas lega saat melihat Daffin sudah duduk santai di lobby komplek apartemennya.
"Kenapa gak naik?" Tanya Kayshila menepuk pundak cowok yang sedang fokus pada ponselnya itu.
Daffin menoleh, "males, gue baru duduk aja ini Lo udah Dateng" jawabnya.
Daffin berdiri, dan Kayshila untuk kesekian kali dalam hidupnya masih terpesona pada cowok itu. Hal yang tidak akan pernah di akuinya seumur hidup. Daffin hanya memakai baggy jeans dengan t-shirt yang terlihat sederhana, jam tangan rolex melengkapi penampilannya kali ini.
"Lo yakin gak papa? Bukannya masih harus istirahat?"
"Kaku badan gue kalo kelamaan diem." Jawabnya nyengir. "Langsung jemput Max?"
Kayshila mengangguk, dia sudah duduk di samping Daffin yang juga sudah duduk di kursi kemudi. Cowok itu mengambil jaket dari kursi belakang dan memberikannya pada Kayshila.
"Ngapain?" Tanya Kayshila heran. "Cuacanya panas kok" lanjutnya dengan memerhatikan sekali lagi penampilannya. Dia mengenakan blouse berlengan Sabrina panjang dan rok di atas lutut dengan sepatu boots yang melengkapi.
Daffin mengendik pada paha Kayshila yang terbuka.
"Tutupin paha Lo, biar apa sih pake rok pendek segala" komentarnya.
Kayshila mencebik, "biar gue keliatan Tante yang modis nan baik hati ngajakin ponakannya main" balasnya.
Daffin hanya menghela nafas singkat dan mulai menjalankan mobilnya. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di apartemen cowok itu karena jaraknya yang sebenarnya bisa di tempuh dengan berjalan.
Kayshila mengetuk pintu apartemen Daffin demi menghargai privasi keluarga kakaknya, padahal dia terbiasa menekan sandi sendiri.
Pintu terbuka menampakkan Max kecil yang sudah tapi dengan celana pendek dan kemeja pendek.
"Halo jagoan Tante, jalan sekarang yuk!" Sapa Kayshila yang di sambut high five oleh bocah 5 tahun itu.
"Om Daffin juga dong" saut Daffin yang mengikuti Kayshila berjongkok didepan pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boss My Friend
RomanceDi usianya yang mulai menginjak 30-an, cinta bukan lagi prioritas utama bagi Kayshila, dia memilih untuk realistis menjalani hidup. Ketika sahabatnya menawarkan sebuah hubungan realistis, dia memilih menjalaninya Tapi di tengah jalannya dalam memili...
