Kayshila sudah duduk sigap dengan tumpukan laporan di mejanya. Setelah cuti tiga hari, sepertinya dia harus lembur untuk hari ini. Meskipun Lita sudah mem-backup pekerjaannya, tapi ada beberapa hal yang tidak bisa ditangani oleh sekertaris.
Sempat ada perdebatan sengit antara Kayshila dan Daffa, cowok itu ingin Kayshila pulang tepat waktu dari jepang, sedangkan dirinya ingin mereka berempat pulang bersama.
"Pulang Kay, Lo punya kerjaan disana, disini juga Lo gak ngapa-ngapain, cuma pulang pergi hotel-rumah sakit. Disuruh hangout juga gak mau" ucap Daffa sedikit tinggi, sudah beberapa menit mereka bersitegang.
"Enggak mau, kita berangkat bareng ya pulang bareng" jawab Kayshila bersikukuh.
"Kalo Lo masih khawatir sama Daffin, besok gue pindahin dia ke singapore" balas daffa
"Kenapa gak langsung pulang aja kalo gitu?" Tantang Kayshila, ia tau kondisi masih tidak memungkinkan. Selain peralatan kesehatan yang lebih lengkap di Singapore, mereka berdua juga masih harus mengurus 'urusan' yang belum selesai.
"Lo tau kan jawabannya, gak bisa Kay, pokoknya besok Lo harus pulang." putus Daffa. "Kalo Lo masih protes, gue cium Lo sekarang disini" bisiknya penuh ancaman.
Kayshila menoleh kiri-kanan, mereka sedang berdebat di lobby hotel. Banyak orang berlalu-lalang, tapi tidak ada yang benar-benar memperhatikan mereka. Kayshila tersenyum tipis tanpa disadari Daffa, dia mencium Daffa tanpa aba-aba, dan sebelum Daffa sadar dari keterkejutannya, dia menyudahi ciuman itu. "Gue menang" bisiknya kemudian berlari pergi menuju kamarnya.
Kayshila memejamkan mata sejenak mengingat kejadian itu, suatu kebodohan, padahal ia hendak mengakhiri hubungan ini, tapi dia tidak pernah bisa mengucapkannya di depan Daffa.
Tok...tok...tok, Kayshila mengernyit ketika mendengar suara ketukan pintu, jarang ada yang langsung mengetuk pintunya tanpa konfirmasi pada Lita. Keheranannya semakin memuncak ketika melihat kepala Ratna menyembul dari balik pintu tanpa ia menyuruhnya masuk.
"Shilaaa, gue udah nungguin elo dari kemaren" ucapnya heboh, dia langsung duduk tepat di hadapan Kayshila.
Ratna menyodorkan ponselnya yang menayangkan suatu video yang membuatnya membelalak kaget.
"Gue tau cewek itu elo, yang lain masih bertanya-tanya siapa cewek yang ciuman sama pak Daffa" ucapnya.
Kayshila masih terdiam melihat video ciumannya dengan Daffa di lobby hotel saat itu.
"Tunggu, maksud Lo yang lain siapa?" Tanya Kayshila saat otaknya kembali bekerja.
"Ini viral Shil, tapi cuma identitas pak Daffa yang terekspos " jelas Ratna. "Lo sama sekali gak menyangkal, berarti Lo emang pacaran sama pak Daffa" lanjutnya.
Kayshila mulai menggigiti kukunya, hal yang dia lakukan ketika sangat panik. "Fakta kalo Lo sadar itu gue, berarti banyak orang lain yang bakal sadar juga" balas Kayshila, otaknya tiba-tiba kosong.
"Emang kenapa kalo Lo pacaran sama pak Daffa? Sama-sama single juga, jadi gak masalah kan?" Tanya Ratna heran melihat kepanikan Kayshila.
Banyak hal yang terlintas di pikiran Kayshila, niatnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Daffa, mantan-mantan Daffa yang putus karena cemburu padanya dulu, hingga pendapat orang tentang dirinya yang masih bekerja pada cowok itu meskipun secara tidak langsung. Dan sesuatu yang paling penting, cowok yang membuatnya ingin putus dengan Daffa.
Ponsel di tangannya bergetar, menampakkan nama Grizelle. "Gue harus gimana Griz?" Tanyanya tanpa menunggu Grizelle berbicara.
"Calm, Lo udah coba telpon Daffa?" Balas Grizelle yang sudah tau pasti kalau Kayshila sedang panik.
"Belum, gue barusan tau dan tiba-tiba pikiran gue kosong" jawab Kayshila.
"Atau Lo minta tolong Daffin dulu" lanjut Grizelle.
Kayshila menggigit bibirnya, itu sesuatu yang tidak mungkin dia lakukan. "Daffin lagi masa pemulihan, gue gak bisa gangguin dia" jawabnya.
"Gue coba hubungin Daffa dulu, Lo tenang" ucap Grizelle sebelum mematikan panggilannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boss My Friend
RomanceDi usianya yang mulai menginjak 30-an, cinta bukan lagi prioritas utama bagi Kayshila, dia memilih untuk realistis menjalani hidup. Ketika sahabatnya menawarkan sebuah hubungan realistis, dia memilih menjalaninya Tapi di tengah jalannya dalam memili...
