21

3.1K 318 15
                                        

_OBSESI_

Hari ini Marsha terbangun dengan perasaan yang lebih bahagia dari biasanya. Dirinya tersenyum-senyum sendiri mengingat saat Zeran mengantarnya pulang ke rumah, tapi sayang Zeran tak mau mampir sejenak dengan alasan sudah malam. Jadi dengan perasaan sedikit kesal Marsha membiarkan Zeran pulang, tapi tak juga mengurangi rasa senang karena Zeran yang telah mengantarnya pulang. Senyuman senantiasa menghiasi, tangannya meraih ponsel yang ternyata mati, habis batre. Pasti itu terjadi karen semalam dirinya yang melakukan video call, bersama Zeran sampai tertidur.

Marsha merubah posisinya menjadi duduk bersandar di tempat tidur sambil menyambungkan kabel daya ke ponselnya. Sejenak menunggu ponselnya pun kembali menyala, jam masih menunjukkan waktu pagi. Namun, pagi ini Marsha ada jadwal pemotretan, jadi tak bisa dirinya untuk lebih bersantai. Juga bisa dilihat ponselnya sudah diserbu dengan ratusan pesan dari sang Manager yang intinya berisi; untuk Marsha jangan sampai lupa dan harus bersiap.

Tak ada selera bagi Marsha membalas pesan Ashel, dia lebih tertarik menjawab satu pesan dari Zeran yang dikirim tadi malam berisi; ucapan selamat malam dan izin mematikan panggilan karena Marsha yang sudah tertidur. Pipi Marsha memerah malu mengingat betahnya semalam berbincang dengan Zeran meski hanya lewat layar ponsel.
Dibalik sifat Zeran yang menurutnya menyebalkan, tapi ternyata lelaki itu asik juga.

Marsha memutuskan menjawab pesan Zeran bahwa dirinya baru saja terbangun dari tidurnya. Tak lama pesan itu terkirim, panggilan video call dari Zeran muncul di ponsel Marsha. Mata Marsha reflek melebar, kantuk yang sesaat terasa tiba-tiba langsung hilang entah kemana. Sekarang dirinya malah terlihat panik, sebab merasa dirinya kurang cantik pagi ini untuk melakukan panggilan dengan Zeran. Bahkan belek dimatanya saja belum dibersihkan. Dengan segera Marsha melompat dari kasur pergi ke kamar mandi, sekedar untuk cuci muka. Lanjut Marsha merapikan rambutnya agar tidak terlihat seperti singa.

"Harus banget make up?" monolog Marsha. "Ah ga usah deh, nanti kelamaan," lanjutnya. Merasa cukup dan tak ingin membuat Zeran menunggu lama dirinya mengangkat telpon, Marsha segera meraih ponselnya, tapi saat tangannya hendak menjawab, panggilan lebih dulu berakhir. Marsha mendesah, merutuki dirinya yang lamban. Namun, tanpa pikir panjang giliran Marsha yang menelpon Zeran. Layar pun langsung menampakkan Zeran yang sedang mengunyah dengan satu tangannya memegang roti tawar.

"Pagi Sha," sapa Zeran.

"Pagi," balas Marsha malu-malu. "Sorry ya lama, tadi dari kamar mandi," jelas Marsha yang tak ingin Zeran salah paham mengira kalau dirinya tak mau menjawab panggilan.

"Oh, gapapa. Baru banget bangun ya?" tanya Zeran.

"Iya, lagian rasanya nyenyak banget tidur semalem."

"Pastilah, karena sebelum tidur ditemenin sama orang terganteng." Marsha langsung berdecih mendengarnya. Entah mengapa tingkat kepedean Zeran menambah. "Pede banget jadi orang," kata Marsha.

Zeran terkekeh sambil memasukkan suapan roti tawar terakhir ke dalam mulut. "Mandi sana ah, baunya sampe sini tau Sha," ungkap Zeran main-main.

"Sembarangan! Walau pun gue ga mandi tiga hari pun, gue ga akan bau ya!" kata Marsha yang tak terima.

"Oh ya? Aku ga percaya sih."

"Serah lo deh!" Kemudian Marsha diam. Dia memperhatikan Zeran yang sibuk membuka kulkas dan melkukan hal lain, hanya terlihat wajah dari sisi bawah saja. "Lo lagi apa? Sibuk banget keliatannya," celetuk Marsha bertanya.

"Mau bikin sarapan. Aku butuh makan untuk menghadapi kehidupan yang berat ini."

"Cih, sok dramatis banget. Mau buat sarapan apa emangnya?"

OBSESI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang