_OBSESI_
Zeran meringis saat mulai tersadar dari pingsannya. Samar-samar dia memperhatikan sekitar. Ini tempat asing! Zeran tak tau ini dimana. Di sebuah ruangan seperti dalam kamar, karena dirinya sekarang berada di atas kasur yang empuk.
"Gua dimana?" monolognya. Zeran mulai agak panik, dia mengingat-ngingat apa yang terjadi terakhir padanya tadi. Seingatnya dia hanya akan masuk ke dalam toilet, lalu tiba-tiba belakang kepalanya seperti dihantam sesuatu, dan dia tak ingat lagi apa yang terjadi. Bangun-bangun sudah berada di tempat ini.
"Apa gua lagi diculik?" pikirnya. Namun, mengapa elit sekali dirinya kalau benar diculik? Jika didalam film atau cerita yang pernah dia baca, harusnya jika diculik akan ditempatkan di sebuah ruangan atau gudang yang kotor dan gelap, tetapi ini malah sebaliknya. Justru dia malah berada di tempat yang bersih, ber-AC, bahkan ada kasur empuk alih-alih terikat di kursi kayu atau tergeletak di lantai.
"Atau jangan-jangan gua mau dijual ke ani-ani?!" Pikirnya lagi, reflek dia memeluk tubuhnya sendiri, seakan tak mau kalau keperjakaanya sampai hilang. "Gak-gak, gua harus keluar dari sini!" lanjutnya. Dia turun dari kasur mencari sepatunya yang entah hilang kemana. Mengintip di kolong tempat tidur pun tidak ketemu.
"Duh, padahal baru aja gua beli sepatunya, masa udah hilang?" gerutu Zeran. Padahal dia harus menggocek dompetnya untuk bisa membeli sepatu yang dia inginkan, tapi sekarang hilang. Akhirnya dia memutuskan untuk ikhlas, keselamatannya lebih penting ketimbang sepatu yang memang cukup berharga juga. Zeran pergi ke pintu berusaha membuka kenop pintu, tapi tak kunjung berhasil. Sial, terkunci!
Zeran menggedor pintu dan berteriak meminta tolong. "Tolong! Woi bukain pintunya! Tolong!" Sesekali dia membenturkan badannya sendiri ke pintu, mencoba mendobrak, tapi pintu itu keras dan susah terbuka, yang ada badannya malah sakit terus terbentur dengan pintu. Merasa lelah, Zeran merosot bersandar pada pintu. "Mimpi apa gua semalem bisa sampai di sini?"
Semua apa yang dia lakukan terekam pada kamera CCTV yang terpasang di sudut ruangan. Dia selalu dalam pantauan. Seseorang yang memantau berada di depan monitor tersenyum puas dengan tatapan berbinar. Sesaat dia melirik ke arah sepatu yang tertata rapi di atas sepatu. Itu sepatu Zeran!
"Lo ga bisa kemana-mana lagi Ze. Lo punya gue sekarang," katanya dengan senyuman yang tak pernah hilang.
_OBSESI_
Tiga hari berlalu. Semenjak hilangnya Zeran, teman-temannya mulai merasa ganjil. Zeran tak pernah menghilan tanpa adanya kabar, apalagi ini masih hari bekerja, kalau pun Zeran mengambil izin harusnya dia mengabari teman-temannya yang lain, tidak menghilang tanpa kabar begitu saja. Aldo yang lebih dulu merasa ini ada yang tidak beres.
"Zeran udah ga ada kabar hampir tiga hari loh, ga biasanya dia kayak gini," ungkapnya. Di sekeliling ada teman-temannya. Mereka memang sedang membicarakan hilangnya Zeran.
"Apa dia pergi ke rumah orang tuanya? Siapa tau ada sesuatu masalah."
"Tapi biasanya Zeran pasti ngabarin, ga ngilang gitu aja kayak gini. Terakhir dia ada kabar waktu dia di Cafe mau ketemuan sama temennya," jelas Aldo. Dia masih mengingat jelas percakapan dengan Zeran waktu itu dan kata Zeran yang ingin bergabung dengannya bakar-bakat, tapi tak kunjung datang.
"Atau jangan-jangan Zeran diculik?!" celetuk salah satu temannya. "Dan siapa tau pelakunya temennya yang ngajak ketemuan itu? Kita kan ga ada yang tau kalau sebenarnya memang Zeran diculik?" lanjutnya.
"Bisa juga sih. Apa lagi ga ada kabar kan? Ponselnya juga susah dihubungi."
"Kebanyakan nonton film lo. Coba tanya orang tua Zeran dulu, dia ada di sana ga. Jangan langsung kepikiran buruk," saran temannya yang lain. Kebetulan Aldo memiliki nomor Ibu Zeran pun langsung mencoba menelpon. Tak menunggu lama panggilan itu tersambung.
"Halo tante?"
"Iya nak Aldo ada apa?"
"Saya mau tanya, Zeran ada di sana ga ya?"
"Zeran? Zeran ga ada di sini nak. Dia sudah lama ga pulang. Memangnya ada apa?"
"Ee... ga papa tante. Kalau gitu makasih, maaf ganggu waktunya."
"Iya nak, sama-sama."
Panggilan berakhir. Aldo sengaja tidak memberi tau terlebih dahulu pada orang tua Zeran, takut mereka ikutan panik. Lagi pula dia juga belum tau Zeran hilang karena diculik atau memang sengaja bersembunyi untuk menangkan diri, yang siapa tau sedang mempunyai sebuah masalah yang belum bisa diceritakan.
"Zeran ga sama orang tuanya," jelas Aldo.
"Tuhkan pasti diculik. Mendingan kita cepet lapor polisi aja. Sebelum Zeran kenapa-kenapa."
"Bener! Sebelum terlambat. Dan juga coba tanyain ke temen-temennya siapa tau terakhir Zeran sama salah satu dari mereka. Biar makin cepet Zeran ketemunya," sambung yang lain.
Terbesit beberapa nama di kepala Aldo. Orang yang baru-baru ini sangat dekat dengan temannya ini kebanyakan dari kalangan artis. Yang pertama adalah Kathrin, dialah yang terakhir mempunyai janji dengan Zeran sebelum temannya itu hilang. Kedua adalah Marsha, dia yang paling dekat dengan Zeran sudah layaknya pasangan. Harusnya dia tau kan dimana Zeran?
Jari Aldo bergerak mencari nama Kathrin terlebih dahulu, untuk menanyakan hal ini. Untung saja dia mempunyai nomor beberapa orang yang pernah bekerja sama dengannya. Namun, pesan dan panggilan yang dia kirim pada Kathrin tak kunjung dibalas dan diangkat. Akhirnya Aldo beralih mencoba menghubungi Ashel, manager Marsha.
"Halo?"
"Halo Shel, ada Marsha ga di sana?"
"Ada lagi make up. Kenapa lo cari artia gue?"
"Gua mau ngobrol penting."
"Oke sebentar. Sha, Aldo mau ngomong sama lo." Aldo menunggu Marsha bersuara untuk mengobrol dengannya. "Halo?" Suara Marsha akhirnya terdengar. Di sana sengaja volume suara dispeaker agar Ashel juga mendengar, karena biasalah jiwa kepo Ashel meronta.
"Halo Marsha, lo tau Zeran dimana ga?" tanya Aldo tanpa basa-basi.
"Zeran? Enggak, gue ga tau dia dimana Do."
"Dia ga ngabarin lo sama sekali? Biasanya kan kalian saling mengabari."
"Enggak Do. Chat gue aja belum dia balas sama sekali. Gue juga lagi nyariin."
"Tapi lo sempet ketemu dia ga? Kerjaan lagi banyak gini dia malah ilang."
"Yang serius Sha, lo ketemu sama Zeran ga? Lo ini suka banget pergi sama dia tanpa bilang ke gue." Ini suara Ashel yang berbicara.
"Serius Shel. Kan beberapa hari ini gue sama elo terus. Gimana gue bisa ketemu sama Zeran?" jawab Marsha membela diri.
"Memangnya Zeran kemana Do?" tanya Ashel.
"Zeran hilang Shel."
"Zeran hilang?!" suara mereka terdengar kaget.
"Iya, udah tiga hari ga ada kabar sama sekali. Kayaknya dia diculik. Kalau hari ini dia masih ga ada tanda-tanda, gue bakal lapor ke polisi."
"P-polisi?"
"Iya Sha. Kita takut kalau Zeran sampai kenapa-kenapa. Yaudah kalau kalian ga tau. Tapi tolong bantu cari info tentang Zeran ya. Terutama lo, Sha. Lo kan yang paling deket sama Zeran," pinta Aldo.
"I-iya Do. Gue bantu," jawab Marsha. Dan panggilan pun berakhir.
Dah maap buat typo.
Semangat carinya ya Do.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESI [END]
FanfictionSeorang Model sekaligus Artis yang terobsesi pada seorang Fotografer. Dengan ide gila agar bisa memiliki Fotografer itu, sang Artis menyekapnya entah sampai kapan. Start : 6 Oktober 2024 End : 29 Januari 2025
![OBSESI [END]](https://img.wattpad.com/cover/342577183-64-k164767.jpg)