_OBSESI_
Sesampainya di rumah sakit, mereka mendapati Mama Marsha yang menangis sendirian di depan ruangan. Marsha sudah ditangani dan sudah dipindahkan ke ruang rawat. Mama Marsha sengaja menunggu di luar, karena tak kuat melihat kondisi anakanya. Ia tak mau suara tangisannya menganggu ketenangan anaknya. Papa Marsha mendekat lalu memeluk tubuh istrinya, menenangkan.
"Keadaan Marsha gimana?" tanya Papa Marsha.
"Untung Marsha tepat waktu dibawa ke rumah sakit, kalau saja Mama ga lihat kondisi Marsha, bisa saja Marsha kehilangan nyawanya. Dan yang mengejutkan Pa, setelah pemeriksaan Dokter bilang, kalau Marsha sedang mengandung sekarang," jelas Mama Marsha. Mereka yang di sana terkejut. Terutama Zeran, karena dia yakin kalau itu anaknya, sebab dulu mereka sering melakukan hal dewasa.
"Marsha hamil?" Papa Marsha tercengang dan bingung dengan siapa Marsha bisa hamil. Namun, tatapannya beralih pada Zeran yang terdiam dengan tatapan kosongnya.
"Marsha kenapa bisa kayak gini Ma? Apa dia udah tau tentang kandungannya?" tanya Ashel.
"Mama ga tau, pas Mama masuk kamar dia sudah tak sadarkan diri dan tangannya berdarah," jelas Mama Marsha lagi.
"Astaga Marsha," desah Ashel yang merasa kasihan.
"Apa saya boleh masuk? Saya ingin lihat kondisi Marsha," celetuk Zeran. Jujur dia semakin khawatir sekarang, ingin melihat kondisi dan memastikan langsung. Mama Marsha mengangguk memperbolehkan Zeran untuk masuk.
"Ya, kamu masuk saja dulu. Saya mau menenangkan istri saya," kata Papa Marsha.
"Shel ikut?" tanya Zeran menawarkan, siapa tau Ashel ingin ikut melihat kondisi Marsha juga.
"Lo aja duluan, gue bisa nanti," jawab Ashel. Zeran mengangguk, lalu dia dengan perasaan gugup masuk ke dalam ruangan.
Di dalam bisa dia lihat keadaan Marsha yang terlelap dengan tubuh kurusnya. Pipi tembamnya benar-benar hilang, dia seperti bukan Marsha. Hidungnya tersumpal oksigen, dengan infus dan perban yang melilit tangan Marsha. Hati Zeran terasa teriris melihat kondisi Marsha. Sangat jauh berbeda sejak terakhir mereka ketemu.
Zeran melangkah mendekat, dia berdiri di sisi ranjang. Perlahan mengusap pipi Marsha. Sekuat mungkin Zeran menahan air matanya yang memaksa keluar, dia harus bersikap tegar. Kemudian tatapannya beralih pada perut Marsha, ada anaknya di sana. Tangannya bergerak ke perut mengusapnya pelan. Jantungnya berdebar, ada perasaan senang jika memikirkan kalau dia adalah calon ayah sekarang.
Zeran perlahan duduk di sisi ranjang, memperhatikan wajah Marsha. "Sha, ini aku, Zeran. Maafin aku udah buat kamu kayak gini. Bangun Sha, kamu harus sehat. Aku janji bakal nurutin apa pun yang kamu mau," kata Zeran dengan suara yang bergetar. Air matanya tak lagi bisa terbendung, Zeran akhirnya menangis melihat perempuan yang dia cintai. Sesaat dia menyesal karena telah menjauh dari Marsha.
Kebisingan yang Zeran timbulkan, membuat Marsha perlahan terbangun dari tidurnya. Dia dengan berat mengerjabkan matanya, memfokuskan pandangannya. Sungguh terkejut dia melihat adanya Zeran di hadapannya sekarang. Marsha berpikir ini mimpi. "Zeran? I-ini elo?" tanya Marsha dengan suara lemasnya.
Zeran menangguk menanggapi. "Iya ini aku, Sha," jawab Zeran. Lantas Marsha ingin bangkit, ingin memeluk Zeran. Namun, tubuhnya seakan tak mendukung, dia sangat lemas dan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESI [END]
FanfictionSeorang Model sekaligus Artis yang terobsesi pada seorang Fotografer. Dengan ide gila agar bisa memiliki Fotografer itu, sang Artis menyekapnya entah sampai kapan. Start : 6 Oktober 2024 End : 29 Januari 2025
![OBSESI [END]](https://img.wattpad.com/cover/342577183-64-k164767.jpg)