_OBSESI_
Kini Zeran baru saja menghabiskan makanannya. Dia cukup kenyang sekarang. Namun, tatapannya terpaku pada gelas berisi air putih dengan pikiran yang bergelud di kepala. Dia mengingat-ingat, setiap dirinya minum air dia pasti akan mengantuk setelahnya. Pasti ada yang salah dengan air minum itu.
Apa airnya sengaja dikasih obat tidur ya? Biar abis makan gua ngantuk dan ga bisa punya cara buat keluar dari sini. Batinnya berpikir. Lantas Zeran mencoba untuk tidak meminum air itu. Akan tetapi dirinya haus. Dia jadi bingung sekarang. Harus minum atau tidak? Bergulad dengan pikiran, tangan Zeran akhirnya mengambil gelas itu dan mengarahkan pada bibirnya.
Di balik CCTV, Marsha tersenyum, dirinya menunggu Zeran kembali tertidur setelah makan dan minum. Pemikiran Zeran soal obat tidur itu memang benar, Marsha memang memasukkan obat tidur dalam air agar meminimalisir keinginan Zeran kabur dari sana. Jari lentik Marsha mengambil gelas kecil berisi alkohol yang sekarang mulai membuatnya mabuk. Marsha menyesapnya pelan, membiarkan rasa menyengat mengalir di tenggorokkannya.
••
Perlahan Marsha membuka pintu kamar yang Zeran tempati, dengan membawa nampan berisi air dan makanan untuk mengganti makanan yang sudah Zeran ganti. Dia meletakkan nampan itu dan mengambil piring kotor membawanya keluar. Setelah kepergian Marsha, Zeran membuka matanya sedikit, mengintip. Dia tak benar-benar meminum air tadi, jadilah dia tak merasakan ngantuk sekarang.
"Siapa tadi?" monolog Zeran. Karena posisinya jadi membelakangi, jadi Zeran tak bisa mengintip wajah yang mengantarkannya makan. Zeran turun dari atas kasur, dengan segera menuju pintu, dia memegang gagang pintu mencoba membuka pintu, tapi sialnya sudah kembali terkunci. "Sial banget sih!" umpat Zeran kesal.
Zeran berdecak kesal, lalu kembali duduk di atas kasur. Matanya menatap pada makanan baru yang tersaji. Lalu telinganya mendengar suara kunci yang ingin membuka pintu, dengan segera Zeran merebahkan kembali tubuhnya dan berpura-pura tidur. Marsha yang sudah meletakkan piring kotor ke dapur, dia kembali lagi masuk ke dalam kamar Zeran. Dia ingin berduaan dengan lelaki yang dia cintai, tanpa ada yang bisa mengganggu.
Marsha melangkah dengan senyuman yang terbit. Dirinya duduk di sisi kasur, memandang wajah Zeran yang terlelap. Tak tau saja kalau Zeran hanya pura-pura. Tangan Marsha terangkat membelai pelan wajah Zeran, yang membuat lelaki itu merinding. Zeran berusaha rileks dan berakting tetap tidur. Sepertinya kalau dia ikut casting film indociar akan terpilih.
"Lo ganteng banget kalau tidur gini," kata Marsha.
Njir, kayak kenal suaranya. Batin Zeran.
"Asal lo tau Ze, andai aja lo ga selalu nurutin keinginan Kathrin, pasti lo masih bisa berkegiatan di luar sana. Andaikan lo nurut apa yang gue minta untuk enggak deket-deket sama perempuan lain, gue ga akan bikin lo jadi di sini. Tapi, gue ga nyesel nyulik lo karena sekarang gue bisa berduaan sama lo tanpa ada yang ganggu," kata Marsha lagi, sambil menyelusuri wajah Zeran, lalu turun ke leher, lanjut ke dada yang tertutup baju dengan jarinya.
Ini Marsha?! Batin Zeran terkejut. Dia sangat tak menyangka kalau yang menyuliknya adalah Marsha. Perempuan yang menurutnya baik, meskipun agak menyebalkan, tapi tetap tak menyangka ternyata bisa melakukan hal ini padanya. Tambah mengejutkan lagi saat Zeran merasakan sebuah bibir mendarat di pipinya. Reflek Zeran memejamkan matanya erat-erat. Namun, Marsha tak menyadari itu karena matanya sekarang memejam, seakan menikmati apa yang dia lakukan. Lalu Zeran berusaha mengembalikan raut mukanya lagi.
Tak cukup dengan itu, Marsha beralih mendaratkan bibirnya tepat pada bibir Zeran, dengan sengaja dia melumatnya pelan. Sudah biasa dia menikmati ciuman itu sendiri saat keadaan Zeran terlelap dalam kuasa obat tidur. Bibir Zeran sudah bagaikan candu baginya. Sementara Zeran mulai merasakan panas ditubuhnya. Bagaimana tidak? Sekarang dirinya seperti kucing yang disodori ikan asin yang jelas membuatnya tergoda. Perlahan dia pun membalas ciuman Marsha.
Marsha yang merasakan pergerakan dari Zeran tentunya terkejut. Dia langsung melepaskan ciuman itu dan menjauhkan wajahnya. Mata Zeran perlahan terbuka, membuat Marsha panik seketika. Sial! Kok bisa obatnya ga bekerja?! Batin Marsha panik.
"Z-zee, lo bangun?!"
"Menurut kamu?" balas Zeran pelan. Marsha menelan ludahnya susah payah, kenapikan menyerangnya. Dia sudah tertangkap basah oleh Zeran, Marsha harus segera keluar. Saat Marsha hendak pergi dengan segera Zeran menahan tangan Marsha. Dia butuh penjelasan Marsha sekarang. "Jangan kemana-mana Sha, aku butuh penjelasan dari kamu."
Marsha berusaha melepaskan cengkraman tangan Zeran, tapi kekuatannya kalah. "Kenapa kamu nyulik aku dan sekap aku di sini?" tanya Zeran tanpa basa-basi. "Kenapa kamu lakuin ini Sha? Salah aku apa?!"
Marsha hanya diam tak berniat menjawab. Zeran turun dari kasur dan berdiri di depan Marsha. "Lihat aku Sha. Jawab pertanyaan aku. Kenapa kamu tega nyulik aku dan bawa ke sini?! Ini dimana Sha?! Kenapa kamu lakuin ini?!"
"Karena gue ga mau lo diambil orang lain! Lo cuma milik gue, zee! Gue ga suka liat lo deket sama Kathrin, gue ga suka liat lo deket sama perempuan lain! Gue cuma mau lo sama gue doang! Dengan cara kayak gini, bisa buat lo cuma berdua sama gue! Dan lo ga bisa deket sama cewe lain!" jawab Marsha dengan tegas menjelaskan maksud atas tindakannya. Zeran menggelengkan kepala pelan mendengarnya. "Kan kita bisa bicarain baik-baik Marsha. Jangan bertindak kayak gini. Pasti temen-temen dan keluarga aku panik karena aku tiba-tiba menghilang. Dan gimana kalau mereka laporin polisi dan nemuin kamu yang culik aku?" kata Zeran.
"Ga akan. Ga akan ada yang bisa nangkep aku, Zee. Dan ga akan ada yang bisa ambil kamu dari aku."
"Sha, seriously? Kamu gila Marsha!"
"Iya gue gila karna lo, puas?!" balas Marsha. Efek alkohol yang sempat Marsha minum masih terasa, sekarang kepalanya agak pusing.
"Jangan-jangan, yang ngebuat leher gue merah kayak gini itu lo?!" tebak Zeran, menunjukkan lehernya yang masih tercetak jelas warna merah di sana. Marsha terkekeh sambil memperhatikan leher Zeran. "Iya, gue yang ninggalin jejak di sana," jawab Marsha dengan santainya.
"Sha? Apa yang ada di pikiran kamu sih?!" bingung Zeran.
"Gue cuma mau lo jadi milik gue. Lo ga pernah nembak gue jadi pacar lo, padahal kedekatan kita aja udah kayak pasangan."
"Aku nunggu waktu yang tepat Marsha. Aku masih mikirin karir kamu juga, gimana kalau fans kamu tau? Kamu ga bisa gegabah Marsha. Dengan cara kamu nyulik aku gini, udah seperti tindakan kriminal. Gimana kalau media tau tindakan kamu? Kamu bisa dalam bahaya."
"Lo liat gue peduli?" Raut wajah Marsha seakan santai, tak ada pikiran ketakutan seperti apa yang Zeran pikirkan.
"Sha, kita bisa obrolin baik-baik. Lepasin aku, Sha." Melas Zeran. Dia sudah tak betah di sini, dia ingin menghirup udara bebas lagi.
"Jangan harap!" tegas Marsha. Dengan cepat Marsha berjalan ke pintu. Zeran pun ikut, dia ingin berusaha keluar, tapi Marsha terus saja menghalangi. Dengan sekuat tenaga Marsha mendorong Zeran, lalu dengan segera menutup pintu dan kembali menguncinya.
"Marsha! Marsha! Buka pintunya Marsha!"
Marsha melangkah mundur sambil melihat pintu kamar yang terdengar suara Zeran di baliknya.
Dah maap buat typo.
Happy new year guys!!
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESI [END]
FanfictionSeorang Model sekaligus Artis yang terobsesi pada seorang Fotografer. Dengan ide gila agar bisa memiliki Fotografer itu, sang Artis menyekapnya entah sampai kapan. Start : 6 Oktober 2024 End : 29 Januari 2025
![OBSESI [END]](https://img.wattpad.com/cover/342577183-64-k164767.jpg)