36

2.5K 196 0
                                        

_OBSESI_

Hari-hari berlalu. Setelah terbebasnya Zeran dia memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya, menenangkan diri di sana. Dia meminta teman-temannya untuk tidak memberitau keberadaanya pada Marsha atau pun Ashel. Dia malas kalau mereka akan datang dan menganggunya lagi  dia butuh ketenangan kali ini. Dia masih berbaik hati tidak melaporkan Ashel mau pun Marsha pada pihak kepolisian. Dia masih mengasihani mereka.

Sementara Marsha semenjak perginya Zeran merasa hilang arah. Orang yang membuat dirinya merasa nyaman dan sumber kebahagiaanya pergi entah kemana. Sudah berkali kali dia mencari informasi tentang Zeran, tapi tak kunjung mendapat titik terang. Ponsel yang dia sadap dirusak oleh Ashel. Berharap Marsha benar-benar sadar kalau perbuatannya itu di luar kendali.

Marsha yang mengambil hiatus di dunia entertaiment-nya, menjadi pengangguran di rumah. Hari-harinya hanya menatap foto dirinya bersama Zeran. Kadang saat diam tiba-tiba menangis. Tatapannya sering kosong, seakan pikirannya entah menerawang kemana. Susah diajak bicara. Dia sudah seperti raga tanpa jiwa. Badannya juga mulai terlihat kurus, pipi tembemnya menyusut. Tidurnya tidak teratur, yang membuat keluarga Marsha merasa prihatin. Sempat dipanggilkan Dokter untuk memeriksa keadaan anaknya, dan disarankan untuk melakukan terapi psikolog saja.

Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya setengah gila. Mereka mengajak bicara Ashel tentang apa yang telah terjadi, meminta Ashel menjelaskan semuanta dengan jujur tanpa adanya kebohongan. Mau tidak mau Ashel dengan ragu menceritakan semuanya. Orang tua Marsha tentu tidak menyangka anaknya ternyata seperti itu. Mereka telah merawat Marsha sedari kecil, tapi tidak tau kalau anaknya memiliki sisi lain yang di luar nalar.

"Lalu dimana Zeran?" tanya Mama Marsha, ia sempat bertemu dengan Zeran dulu saat Zeran mengantarkan anaknya ke rumah. Ia juga tau kalau anaknya sepertinya benar-benar sangat menyukai Zeran.

"Dia pergi, tapi ga tau kemana. Aku udah mencoba cari dia biar mengajak berbicara Marsha lagi, tapi Zeran seakan hilang ditelan bumi. Teman-temannya ga ada yang ngasih tau keberadaan Zeran, padahal aku yakin kalau mereka tau dimana Zeran," jelas Ashel.

"Boleh kasih tau siapa temannya? Biar Papa yang menemui. Siapa tau dia mau ngasih tau keberadaan lelaki yang Marsha suka," kata Papa Marsha. Ashel mengangguk menanggapi, dia juga merasa kasihan dengan keadaan artis sekaligus sahabatnya itu.

_OBSESI_

Sekarang Papa Marsha bersama Ashel sudah berada di tempat kerja Aldo. Aldo mempersilahkan mereka memasuki ruangan pribadinya agar lebih nyaman berbincang dan menghindari orang lain yang bisa saja mendengar percakapan mereka.

"Maaf ruangan saya berantakan," kata Aldo merasa tak enak. Biasalah barang-barang kerjanya berserakan belum sempat dirapikan.

"Tidak apa, saya hanya sebentar," balas Papa Marsha.

"Ada apa ya Pak?" tanya Aldo sembari melirik Ashel yang beberapa kali dia hindari saar bertemu.

"Saya tidak perlu berbasa-basi, ini demi kembalinya anak saya. Ashel bilang kamu adalah teman dari nak Zeran, benar?"

"Ya benar."

"Saya sudah tau seluruh ceritanya, tentang anak saya yang melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Saya sebagai Papa juga kecewa dan tidak membenarkan perbuatannya. Namun, saya sebagai orang tua juga merasa sedih saat melihat anak saya menjadi hilang arah. Dan saya rasa saya butuh mengetahui keberadaan Zeran, saya ingin berbicara dengannya. Jadi boleh saya tau dimana keberadaan Zeran?" ungkap Papa Marsha. Ia menatap penuh harap pada Aldo supaya memberi tau dimana keberadaan Zeran. Ia tak mau anaknya terus-terusan terpuruk.

"Do tolong kasih tau kita. Kasihan Marsha. Lo kalau lihat keadaanya sekarang cukup prihatin. Bahkan dia harus minum obat tidur kalau kesulitan untuk tidur tenang," ungkap Ashel. Aldo yang melihat tatapan penuh harap dari keduanya tentu tidak tega. Jika dipikir sudah cukup lama juga Zeran pergi dari masalah yang sepertinya masih menggantung, belum benar-benar selesai.

"Saya akan menuruti apa yang kamu iningkan, tapi tolong kasih tau saya dimana keberadaan nak Zeran," kata Papa Marsha. Setelah menimang akhirnya Aldo luluh, dia memberi tau keberadaan Zeran yang ada di rumah orang tuanya. Dia juga memberi tau alamat lengkapnya, agar mereka bisa ke sana.

"Tapi maaf saya ga bisa ikut ke sana. Saya masih ada kerjaan," kata Aldo.

"Gapapa. Terima kasih banyak kamu sudah mau membantu saya," jawab Papa Marsha.

Setelah dari tempat Aldo, ditemani Ashel mereka langsung pergi ke alamat yang Aldo berikan. Semoga saja Zeran berada di rumah dan tidak kemana-mana, agar masalah ini bisa terselesaikan lebih cepat.
Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk bisa sampai di alamat yang tertera. Mobil yang dikemudikan Papa Marsha berhenti di depan gerbang yang terbuka setengah. Ia disusul Ashel turun dari mobil dan langsung masuk. Bediri di depan pintu yang tertutup, Papa Marsha menekan bell rumah.

"Benar ini rumahnya kan Shel?"

"Harusnya sih bener," jawab Ashel.

Tak lama pintu terbuka menampilkan seorang perempuan yang sepertinya itu adalah Ibu Zeran. "Permisi Ibu," ucap Papa Marsha.

"Iya, cari siapa?"

"Apa benar ini kediaman orang tua Zeran?"

"Benar, saya ibu Zeran."

"Ah kebetulan sekali, Zerannya ada?"

"Ada Pa. Kenapa ya?"

"Saya mau bicara penting dengan nak Zeran."

"Oh baik, mari masuk. Saya panggilkan anak saya." Mama Zeran mempersilahkan masuk. Mendapat izin, Papa Marsha dan Ashel pun masuk ke dalam rumah. Mereka menunggu di ruang tamu dengan disuguhkan secangkir teh. Tak lama orang yang mereka cari akhirnya menampakkan diri.

Zeran cukup terkejut mendapati Ashel bersama lelaki tua yang tak dia ketahui. Dia belum tau kalau itu adalah Papa Marsha, karena yang sering ditemui Zeran adalah Mama Marsha. "Ze, ini Papa Marsha. Kita datang ke sini mau bicara sebentar sama elo," jelas Ashel. Zeran mengangguk pelan lalu duduk.

"Mau bicarain apa?" tanya Zeran.

Papa Zeran langsung menjelaskan kedatangannya menemui Zeran, sekaligus meminta maaf atas perbuatannya. "Tolong maafkan anak saya ya, saya ga tega lihat anak saya yang sekarang seperti lelah hidup. Saya mohon temui anak saya, kembalilah bersamanya. Tapi kalau memang kamu ga bisa kembali sama dia, setidaknya temui dia dulu, sebentar saja gapapa. Saya cuma mau lihat anak saya kembali seperti dulu nak," pinta Papa Marsha.

"Tolong bantuannya Ze, kita udah ga ada cara lagi selain minta tolong ke elo," sambung Ashel. Zeran diam-diam menghela napas. Haruskah dia menemui Marsha? Mendengar cerita tentang kondisi Marsha, dia merasa kasihan dan tak tega.

"Oke, saya akan temui Marsha," putus Zeran. Papa Marsha dan Ashel merasa lega mendengar keputusan Zeran yang akhirnya mau menemui Marsha. Ponsel Papa Marsha bergetar di dalam saku, ia mengambil ponsel dan tertera nama istrinya di sana. "Saya angkat telpon sebentar," katanya. Ia bangkit keluar rumah untuk mengangkat telpon.

"Halo Ma?" Sesaat ia menegang mendengar perkataan dari istrinya di seberang sana. "Iya, Papa ke rumah sakit sekarang." Ia terlihat panik, segera ia menutup panggilan dan kembali masuk.

"Kita pergi sekarang Shel!" panik Papa Marsha.

"Apa apa kok keliatan panik gitu?" tanya Ashel.

"Marsha! Marsha masuk rumah sakit!"

"Ha?! Kok bisa?!"

"Mama pas mau memberi Marsha makan, malah melihat Marsha pingsan dengan tangannya yang terluka. Sepertinya Marsha berniat bunuh diri," jelasnya. Zeran yang mendengar jadi ikutan panik. "Kita pulang dan harus pergi ke rumah sakit. Papa khawatir sama keadaan Marsha."

"Om saya boleh ikut? Sekalian menemui Marsha," ungkap Zeran.

"Boleh! Ayo kita pergi sekarang," jawab Papa Marsha.

"Saya pamit sebentar sama Ibu saya."













Dah maap buat typo.

OBSESI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang