34

2.4K 224 15
                                        

_OBSESI_

"Sekali lagi lihat kamera."

Cekrek!

"Selesai."

Pekerjaan Marsha hari ini selesai. Kali ini Marsha mendapatkan sebuah produk berupa jaket untuk diiklankan, jadi tak begitu susah baginya untuk bergaya di depan kamera. Setelah menyelesaikan sesi foto, dia akan segera membersihkan riasannya dan segera pulang. Rasa rindunya dengan Zeran tak terbendung lagi, padahal belum ada seharian mereka berjauhan, tapi tak usah heran, karena ini adalah Marsha yang kalian juga tau bagaimana dirinya itu.

"Gue hapus riasan di jalan aja boleh ga? Gue udah cape, pengen cepet-cepet pulang," ungkap Marsha.

"Karna cape atau karna kangen sama seseorang?" celetuk Ashel yang menemani Marsha menghapus riasannya.

"Itu salah satunya," balas Marsha. Ashel hanya memutar mata malas dengan kelakuan artisnya. "Boleh ya?"

"Enggak," tolak Ashel mentah-mentah. "Gue juga cape, mau rehat sebentar. Lagi pula lo ga mau cari kado? Lo ga lupa kan nanti malem ada undangan pesta ulang tahun?" tanya Ashel memastikan.

Marsha menepuk keningnya pelan karena lupa atas undangan dari temannya itu. Dia belum menyiapkan kado dan juga tak enak jika tak datang ke acara tersebut. Namun, di sisi lain dia rindu kesayangannya yang hanya sendirian di rumah. "Ee.. lo aja deh Shel yang cariin kado. Nanti gue kasih duit ya, gue mau siap-siap di rumah," kata Marsha.

"Gue lagi?! Ya Tuhan, gue juga cape Marsha. Gue juga butuh siap-siap, lo pikir lo doang—"

"10 Juta."

"Oke Deal! Gue cariin kadonya, kasih tau aja apa yang mau lo kasih." Secepat itu Ashel berubah pikiran. Setelahnya Ashel membiarkan sang Artis menyelesaikan kegiatannya.

Ashel dan Marsha berjalan menuju mobil setelah semuanya selesai. Saat hendak memasuki mobil, Aldo datang menghentikan mereka. "Boleh bicara sebentar?" tanya Aldo.
Ashel dan Marsha saling beradu pandang, kemudian mengangguk mengiyakan.

"Mau ngomong apa?" tanya Ashel.

"Soal Zeran, sorry ya ganggu waktu kalian. Marsha ada kabar soal Zeran ga?" tanya Aldo tanpa basa-basi.

"Enggak. Gue masih belum ada kabar sama sekali soal dia. Dia masih susah dihubungi," jawab Marsha. Ashel yang sebenarnya tau hanya diam membiarkan Marsha yang berbicara.

"Kemarin dia kayaknya sempet online, pesan yang gue kirim ceklis dua, tapi sayang ga ada balasan," ungkap Aldo.

"Oh iya, gue tau itu. Tapi sama, dia sama sekali ga bales chat gue. Gue juga sempat nelpon dia kok, tapi ditolak. Kayaknya dia baik-baik aja deh dan apa mungkin dia jauhin gue dan nemuin orang yang lebih cocok?" kata Marsha dengan dramatis, tak perlu diragukan lagi bakat aktingnya.

"Masalahnya kenapa dia ga mau ngasih kabar kita. Kita kan khawatir sama keadaannya."

"Gue juga bingung. Ee... ada lagi yang mau ditanya? Kita mau ada acara setelah ini," kata Marsha yang ingin mengakhiri percakapan. Dia tak mau percakapan semakin dalam dan Aldo malah mendapat titik terang.

"Oh udah kok, makasih ya," jawab Aldo.

"Iya sama-sama."

"Kalian mau langsung pulang?"

"Iya."

"Oh oke, hati-hati." Aldo sedikit mundur memberi jarak mempersilahkan Ashel dan Marsha pergi. Tangannya melambai ke arah mobil saat mobil yang mereka tumpangi berjalan. Sesaat kemudian Aldo pun mencari mobilnya untuk segera pergi.

OBSESI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang