28

2.8K 289 38
                                        

_OBSESI_

Marsha berjalan mondar mandir si sebuah ruangan gelap tanpa lampu pencahayaan, dengan kukunya yang dia gigiti. Isi kepalanya seakan penuh dengan pikiran yang cukup runyam. Dia berdecak lalu duduk di kursi, tangannya bergerak memegang mouse dan mengklik untuk menyalakan layar monitor yang tadinya mati. Seketika layar menampakkan beberapa rekaman video CCTV yang dia pasang untuk memantau seseorang yang sekarang masih tertidur di atas kasur. Zeran, dialah orangnya.

Lelaki itu masih tertidur di atas kasur, seakan terlelap sangat nyenyak. Marsha menatap begitu intens dengan senyuman tipis yang tercipta. Sementara itu tak lama Zeran bergerak, dia terbangun dari tidurnya. Matanya oerlaham terbuka, memperhatikan sekitar yang masih sama. Dia masih berada di tempat yang sama sekali tak dia ketahui dimana dia sekarang. Dia berharap sebuah pertolongan segera datang.

Meskipun keadaanya diculik, tapi penculiknya begitu baik. Setiap membuka mata pasti ada makanan dan minuman yang tersedia di nakas. Dan makanan itu enak-enak, beda sekali dengan film-film yang pernah dia lihat. Zeran menebak; pasti yang menculiknya adalah orang kaya raya dan berhati baik. Namun, kalau baik kenapa dia diculik?

Zeran terduduk lalu meraih gelas berisi air putih di atas nakas, dia meneguknya hingga sisa setengah. Ada nasi dan ayam juga di sana. Entah sudah berapa lama dia berada di sini. Selama itu juga Zeran belum sekali melihat orang lain yang masuk ke dalam kamar ini. Ketika dia bangun sudah ada makanan dan minuman, tapi setelah makan entah mengapa dia merasa begitu mengantuk lalu dia akan tidur, dan begitu terus saat bangun sisa makananya sudah berganti. Zeran ingin sekali melihat seseorang yang membawanya ke sini, dan juga tujuannya apa?

Zeran berdiri, dia merasa gerah ingin mandi. Di tempat ini ada fasilitas kamar mandi, kan sangat membuat Zeran heran. Sebenarnya dia ini diculik atau apa? Ada lemari dan kaos juga di sana. Dia berjalan ke arah lemari kaca memperhatikan dirinya sendiri di sana. Namun, ada yang menarik perhatiannya. Dia semakin mendekatkan diri di kaca melihat lehernya yang tiba-tiba muncul ruam merah di sana, padahal semalam tidak ada. Apa karena digigit nyamuk? Tapi masa nyamuk meninggalkan bekas merah selebar itu?

"Leher gua kenapa? Perasaan gua ga punya alergi juga. Dan ini ga gatal," monolog Zeran yang kebingungan jarinya reflek menggaruk jejak merah di lehernya, tanpa ada rasa gatal. Tak mau berpikir pusing, Zeran mengambil baju ganti lalu masuk ke dalam kamar mandi. Zeran mulai melepaskan bajunya satu persatu lalu berdiri di bawa shower, membiarkan air membasahi tubuhnya.

Sementara Marsha menatap layar monitor tanpa berkedip. Dia mengigit bibirnya sendiri dengan wajah yang memerah, karena melihat hal yang menggairahkan. Seketika AC di ruangannya seakan tak berfungsi. Entah dia kegerahan atau hawa nafsu yang mulai menyelimutinya. Yang pasti Marsha suka dengan apa yang dia lihat sekarang.

"Gue ga akan biarin siapa pun bawa Zeran pargi dari sini. Dia akan tetap di sini," kata Marsha.

_OBSESI_

Di sisi lain Aldo sedang berada di sebuah Cafe sendirian. Dia tengah mengerjakan suatu hal dengan laptopnya. Jika biasanya Zeran yang menemaninya, sekarang dia hanya sendiri. Temannya itu belum juga ada kabar ditemukan. Tentu dirinya khawatir, tapi setidaknya lebih tenang karena Polisi mulai bertindak. Aldo sengaja mengambil tempat dekat jendela, agar matanya bisa melihat luar, saat lelah memandang layar laptop.

Saat memandang ke luar, mata Aldo tak sengaja menangkap keberadaan Kathrin yang baru saja keluar dari dalam mobil. Lantas dia mengingat kalau terakhir sebelum Zeran menghilang, temannya itu ingin bertemu dengan Kathri. Jadi dengan segera Aldo keluar menghampiri Kathrin. "Mbak Kathrin," panggil Aldo.

Kathrin terkejut saat seseorang menghampirinya. Namun, itu tak lama karena dia mengenal siapa Aldo. "Iya kenapa?" tanya Kathrin.

"Saya mau bicara serius," kata Aldo.

"Ee... soal apa? Kalau lama kayaknya cari tempat aman, takut kalau ada yang lihat dan jadi berita," usul Kathrin. Takut kalau ada fans atau wartawan yang mengambil beritanya kan jadi merepotkan. "Kita masuk kalau gitu," putus Aldo. Kathrin mengangguk, karena kebetulan dia juga hendak ke Cafe yang Aldo tempati.

Mereka duduk di tempat Aldo semula. Kathrin tak bisa lama, karena dia punya janji dengan temannya di lantai atas. "Jadi mau bicara apa?" tanya Kathrin.

"Saya ga akan basa-basi. Zeran, teman saya hilang," ungkap Aldo.

"Zeran hilang?!" kaget Kathrin.

"Ya, dia hilang beberapa hari lalu di waktu punya janji dengan kamu. Maaf, tapi saya agak curiga dengan kamu. Kamu tau dimana Zeran berada?" tanya Aldo.

"Kamu nuduh saya yang nyulik? Sorry ya, saya enggak tau sama sekali soal ini," elak Kathri. Karena dia memang tidak tau apa-apa soal hilangnya Zeran.

"Tapi sebelum dia hilang kamu punya janji dengan kamu."

"Iya, tapi saya ga bisa dateng waktu itu karena saya dicul—" perkataan Kathrin berhenti saat sadar dirinya akan mengungkap hal yang tak seharusnya dia ungkapkan. Sesuai janji dengan seorang yang pernah menculiknya. Janji itu dia lakukan agar bisa terbebas tentu dengan beberapa syarat juga.

"Di apa?" tanga Aldo penuh selidik.

"Ee.. enggak maksudnya ada urusan keluarga mendadak jadi ga bisa ketemu sama Zeran. Setelah itu saya sama sekali ga tau soal Zeran. Saya ga pernah hubungi dia lagi," jelas Kathrin. Setelah ini dia harus berhati-hati dengan lisannya demi keselamatannya sendiri.

"Serius?"

"Serius. Saya engga ikut campur dengan hilangnya Zeran, saya ga tau," jawab Kathrin. Sebenarnya Aldo masih ragu, tapi melihat sikap Kathrin yang sepertinya tak berbohong, Aldo memendam pikirannya sendiri. "Mau tanya apa lagi? Kalau ga ada saya mau ke atas, teman saya nungguin," tanya Kathrin.

"Sudah. Makasih dan maaf ganggu waktu kamu."

"Engga papa, saya permisi." Segera Kathrin meninggalkan meja Aldo dan menaiki tangga ke lantai dua. Aldo menghembuskan napas berat, berharap temannya segera ketemu.









Dah maap buat typo.

OBSESI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang