25

3.1K 348 35
                                        

_OBSESI_

Pagi ini Zeran sudah ada di kediaman Marsha. Bukan tanpa alasan dia datang kemari, dia hendak mengambil ponselnya yang semalam terbawa oleh Marsha. Sekarang dia jadi tertahan di rumah Marsha karena diminta untuk sarapan bersama. Zeran duduk di meja makan bersama dengan Marsha di sisinya dan juga ada kedua orang tua Marsha yang bersikap ramah terhadapnya. Meskipun hanya bertemu beberapa kali, dia sudah bisa menyesuaikan diri terhadap orang tua Marsha.

"Jadi kerjaan kamu fotografer?"

"Iya om," jawab Zeran. Papa Marsha menganggukkan kepala lalu meminum air dari gelas. "Enak ga jadi fotografer?"

"Sejauh ini enak-enak aja om. Saya menyukai pekerjaan saya," jawab Zeran lagi.

"Waduhhh pasti banyak cewe cantik yang kamu potret ya? Betah dong," celetuk Papa Marsha. Mendengar itu Zeran langsung tersedak, Marsha yang di sisinya langsung memberikan air. "Pelan-pelan dong nak," kata Mama Marsha.

"Papa nih, jangan gitu dong kalau ngomong!" kata Marsha kesal. Dia tak suka kalau Papanya berkata seperti itu hingga membuat dirinya membayangkan hal yang menyebalkan, dimana Zeran akan berhadapan dengan banyaknya perempuan cantik.

"Loh apa? Kan kebanyakan gitu, kalau foto pasti pada ganteng-ganteng, cantik-cantik. Enggak salah kan?" pikir Papa Marsha.

"Udahlah Pa, masa Papa ga sadar ada yang panas di sini," celetuk Mama Marsha yang menyadari kalau anaknya ini sedang cemburu. Terlihat dari wajahnya yang ditekuk tak enak dipandang. Papa Marsha tertawa, sebenarnya ia sengaja memancing anaknya, ia tau kalau anaknya ini sedang menyukai lelaki di sebelahnya. "Lagian nak Zeran masih single kan? Nah pasti yang foto di sana suka liatin dia," imbuh Papa Marsha semakin membuat Marsha panas.

"Ah diem! Kita lagi makan, jangan bahas yang ga enak!" celetuk Marsha kesal. Papa Marsha menahan tawa melihat anaknya semakin kesal. Sementara Zeran jadi merasa canggung, dia mengusap punggung belakang Marsha pelan, seakan menenangkan Marsha yang tengah kesal.

Selesai sarapan bertepatan dengan Ashel yang datang ke rumah Marsha. Biasalah menjemput Artisnya. Dia cukup terkejut mendapati Zeran di pagi hari sudah berada di rumah Marsha. "Loh ada lo juga di sini?" kata Ashel.

"Mampir sebentar, mau ambil ponsel ga sengaja kebawa Marsha semalem," jelas Zeran sambil menunjukkan ponsel yang sudah kembali di tangannya. "Sekarang juga udah mau pamit, ada kerjaan di studio," lanjutnya.

"Lagi banyak job ya?"

"Iya Shel. Jadi sibuk banget."

"Semangat deh ya kalau gitu. Jangan terlalu keras bekerja, pikirin juga kesehatan lo," kata Ashel perhatian. Mendengar itu telinga Marsha menjadi panas! Dia tak suka mendengar nada perhatian yang Ashel berikan untuk Zeran. "Ck, biasa aja kali Shel. Lembut banget kalau ngomong," celetuk Marsha. Dirinya bersedekap dada sambil menatap Ashel tajam dan tak suka.

Sontak Ashel menelan ludah susah payah melihatnya, dia terkekeh canggung. "Ah enggak, kan sesama manusia memang harus perhatian Sha. Yakan Ze?"

"Iya, makasih," balas Zeran.

"Tuhkan, Zeran aja setuju. Btw lo mau berangkat kapan?"

"Ini sekarang. Aku pergi dulu ya Sha," pamit Zeran kemudian. Dia ada kerjaan pagi dengan timnya, jadi harus segera berangkat, ditakutkan nanti macet di jalan.

"Iya hati-hati," jawab Marsha, tapi dirinya masih merasa kesal dengan Ashel. Kemudian Zeran pun pergi, meninggalkan Ashel dengan Marsha. Entah mengapa suasana menjadi canggung sekarang, Ashel merasa seperti mati kutu sekarang. "E.. mendingan lo siap-siap sekarang. Lo ada shoting iklan loh," kata Ashel. Marsha mendengus lalu berbalik meninggalkan Ashel.

_OBSESI_

Zeran sekarang baru saja selesai dengan pekerjaan, dia tengah istirahat sebentar, sembari menunggu giliran model lain yang akan berfoto. Dia membuka ponselnya dan menjawab pesan dari Marsha. Namun, kemudian sebuah pesan masuk dari aplikasi media sosialnya. Itu adalah pesan dari Kathrin. Perempuan itu tak ada hentinya mendekati Zeran, meski pun Zeran hanya menganggap teman, tapi Kathrin terus saja berjuang seakan tak ada lelah.

Zeran membuka pesan itu, ternyata Kathrin mengajak Zeran untuk makan siang bersama. Zeran berpikir, di tengah pekerjaanya yang banyak sepertinya dia tak bisa menerima ajakan itu. Dan juga entah mengapa dia takut kalau Marsha tau dan akan marah padanya, susah lagi kalau merajuk. Namun, pesan kembali Kathrin kirimkan, yang membuat Zeran jadi merasa tak enak. Pesan itu mengingatkan Zeran beberapa hari yang lalu saat dia meninggalkan Kathrin begitu saja.

Zeran kembali berpikir dengan rasa bersalah, sepertinya dia harus menebus kejadian waktu itu. Jadilah dia mengiyakan saja ajakan Kathrin, tapi tidak siang hari, melainkan nanti sore setelah mereka sama-sama selesai bekerja. "Ze, ayo lanjut," ajak Aldo saat modelnya sudah siap. Mereka pun kembali bekerja lagi.

...

"Sha, kenapa sih ditekuk mulu muka lo?" celetuk Ashel yang melihat artisnya mukanya masam. Padahal make up yang terpoles harusnya memancarkan kesan ceria, tapi berbanding terbalik dengan Marsha yang malah nampak suram sambil memperhatikan ponselnya. "Eh btw lo punya hp baru kok ga bilang gue?" tanya Ashel lagi saat menyadari ponsel yang Marsha pakai sekarang bukanlah ponsel yang biasa digunakan.

"Emang harus ngomong lo dulu kalau gue mau beli hp?" terdengar pedas memang, tapi Ashel tak menganggap serius. "Ya biasanyakan lo kalau mau beli apa-apa selalu ajak gue," balas Ashel.

"Pinjem dong, pengen tau modelnya kayak apa," sambung Ashel. Namun, dengan segera Marsha menolak. "Enggak! Lo punya hp sendiri." Ashel mengernyit heran, karena merasa; tumben sekali artisnya tidak mengizinkannya melihat isi ponselnya. Padahal biasanya apa-apa diserahkan pada Ashel.

"

Yaudah kalau gitu," putus Ashel, melupakan keheranannya. "Sebentar lagi lanjut take ya, muka lo jangan ditekuk mulu," kata Ashel. Marsha hanya mengangguk sambil kembali melihat ponselnya.

Ternyata masih berani lo godain cowo gue? Awas aja, lihat apa yang bakalan gue lakuin ke elo, Kath! Batin Marsha kesal. Yang dia lihat sekarang adalah layar ponselnya yang menunjukkan setiap pesan yang terkirim di ponsel Zeran.

Ternyata ponsel Zeran yang tertinggal di tasnya semalam membuatnya memanfaatkan kesempatan. Dia langsung mengunjungi temannya yang ahli dalam bidang hack dan semacamnya, untuk menyadap ponsel Zeran. Dan dia membeli ponsel baru khusus untuk memantau aktivitas ponsel Zeran. Jadi apa saja yang Zeran lakukan pada ponselnya bisa terdeteksi dan terlihat langsung di ponsel Marsha. Semua ini Marsha lakukan agar dirinya bisa memantau kegiatan Zeran. Katakanlah Marsha sudah gila. Tergila-gila dengan Zeran lebih tepatnya.













Dah maap buat typo.

PKL hari pertama yg menyenangkan, kagak ada sejam gua disana udh boleh pulang awkwk. Baru disuruh kerja besok. Mulai sibuk, disaat anak" pada libur, gua pkl.

OBSESI [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang